Membongkar Irasionalitas dalam Suksesi
Demi dukungan publik, paket tertentu atau tim sukses, bisa saja menghalalkan segala propaganda sebagai media
Bahwa agama tidak membenci politik. Tetapi agama tidak boleh memperalat politik. Agama dan politik adalah dua unsur yang makin menempatkan bangsa ini sebagai bangsa yang eksis. Dan justru karena alasan ini, maka agama dan politik tidak boleh saling memperalat.
Menguatnya tokoh-tokoh agama dalam politik akan menempatkan mereka sebagai pihak yang kelak merasa sangat berhak untuk turut merasakan lebih, hasil dari kebijakan politis.
Menguatnya tokoh-tokoh politik dalam institusi agama, akan menempatkan mereka sebagai pihak yang kelak merasa sangat berhak menggunakan agama sebagai instrumen politik. Ketika tokoh politik dan tokoh agama berhasil membangun konspirasi, maka umat sekaligus rakyat otomatis terkotak-kotak.
Pertanyaannya, apakah negara ini, negara yang beragama ini, dalam hukum-hukumnya melegalkan masyarakat dan umat sebagai yang terkotak-kotak?
Kekayaan material pun patut diperhitungkan dalam perhelatan politik. Uang bukan segala-galanya tetapi tanpa uang aktivitas politik akan mandeg. Paket tertentu tidak dapat diakomodir oleh partai, jika tidak memiliki uang yang cukup untuk mendaftar sebagai paket yang kelak dideklarasikan partai. Praktik ini dapat dibenarkan dalam arti sesuai dengan kebijakan yang berlaku dalam partai politik masing-masing.
Walaupun demikian, patut dicatat bahwa ketika kekayaan material dijadikan sebagai ukuran, maka money politic atau politik uang dapat saja berjalan demi menegaskan status sebagai pemilik terbanyak kekayaan material.
Ada ungkapan yang mengatakan pencapaian kekuasaan dengan menggunakan sistem yang traksaksional, kelak akan menghasilkan kebijakan yang transaksional pula.
Kebijakan politis yang pada prinsipnya bertujuan demi kesejahteraan umum, jika sistem transaksional berhasil merasuk masuk, maka kelak kebijakan-kebijakan politis pun akan menjadi media dan sekaligus peluang untuk berbisnis.
Sebagai akibatnya kebijakan politis hanya dapat dirasakan oleh para penguasa dan para pemilik modal. Praktik ini adalah sebuah pratik irasional karena selain menyalahi nilai-nilai dalam pilar-pilar negara ini, lebih dari itu menyalahi hakekat politik.
Membongkar Irasionalitas
Mencermati fenomen irasional ini yakni propaganda etnis, agama dan kekayaan material, sebagai warga negara tentunya kita tidak layak untuk memisahkan ketiganya. Etnis, agama dan kekayaan adalah unsur-unsur yang diakomodir dalam Pancasila.
Prinsip akomodir yang berlaku adalah segala perbedaan merupakan kekayaan bagi bangsa ini. Prinsip ini kiranya merupakan maksud utama dari semboyan bangsa ini yakni bhineka tunggal ika.
Menghayati lebih dalam prinsip ini, maka praktek propaganda yang menggunakan etnis, agama dan kekayaan material yang bertendesi diskriminatif adalah sesuatu yang irasional. Irasional berarti tidak masuk akal.
Tidak masuk akal karena kandungan aktivitasnya menyalahi nilai-nilai demokrasi yang dapat kita petik dari Empat pilar bangsa ini yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
Praktik-praktik irasional ini patut dibedah, dibongkar dan perlu dibangun suatu paradigma berpikir baru. Bahwa secara eksistensial, etnis, agama dan kekayaan adalah baik adanya tetapi bahwa memperalat dan saling memperalat antara tokoh politik tertentu dan unsur-unsur ini, patut disikapi secara serius.