Minggu, 10 Mei 2026

Deforestasi dan Perubahan Iklim di NTT

Ibarat bom waktu, kerusakan hutan memicu bumi yang semakin panas (global warming) yang menjadi sumber

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ilustrasi
Kerusakan Hutan 

Berdasarkan prediksi ahli jika konsentrasi ini mencapai 450 ppm berarti perubahan iklim akan tidak terkendali dan kesempatan menstabilkan suhu rata-rata dunia lebih sulit.

Baca: VIDEO: Petugas di Belu Sita Kayu dari Kawasan Hutan

Oleh karena itu, CO2 mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemanasan global dibandingkan dengan GRK lainnya sehingga emisi ini mendapat prioritas perhatian dunia untuk diturunkan.

Masyakarat NTT biasanya membuka ladang dengan pola tebas bakar antara bulan September-November yang merupakan puncak musim kemarau. Suhu panas ditambah angin timuran yang kencang menyebabkan api mudah menyebar kemana-mana. Jika kebiasaan ini dibiarkan berlanjut maka lahan kritis di NTT semakin bertambah.

Menjadi tantangan bagi NTT yang memiliki lahan kritis mencakup dalam dan luar kawasan hutan mencapai 2.109.496,75 ha atau 44,6 % dari total luas dataran NTT, sementara lahan kritis dalam kawasan hutan sebesar 661.680,73 atau 35% dari total luas kawasan hutan yang ada (sumber: Dinas Kehutanan Provinsi NTT, 2006).

Deforestasi dan lahan kritis mencapai hampir separuh dari kawasan hutan di NTT, sehingga ini menjadi warning bagi masyarakat NTT untuk lebih peduli terhadap keberadaan hutan di sekitarnya.

Jika dikaitkan dengan perubahan iklim maka indikator yang dapat digunakan adalah perubahan pola dan intensitas berbagai parameter unsur iklim seperti suhu dan hujan.

Perubahan iklim mengaju pada IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) didasarkan perubahan di atas 30 tahun. Berdasarkan data pengamatan unsur-unsur cuaca yang dilakukan 10 stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang tersebar di NTT, tren (kecenderungan) suhu udara setiap tahunnya akan meningkat.

Laju kenaikan suhu udara tertinggi terjadi pada stasiun Meteorologi Labuan Bajo (Manggarai Barat) yaitu 0.0320 C/tahun diikuti Stasiun Meteorologi Mali (Alor) 0.0260 C/tahun. Hal ini ada kaitannya dengan deforestasi.

Dari data terlihat kawasan hutan di Manggarai Barat mengalami perambahan paling tinggi di NTT (19.268,31 ha) sedangkan Alor mengalami kebakaran hutan dan lahan paling tinggi di NTT (58.773 ha).

Selain itu, wilayah NTT telah mengalami perubahan frekuensi maupun intensitas curah hujan dan hari hujan.

Membandingkan data curah hujan selama 6 tahun terakhir dengan data normal (1980-2010) menunjukkan umumnya wilayah NTT mengalami kenaikan jumlah hari hujan ekstrem (>50 mm/hari) pada bulan-bulan musim hujan.

Contohnya pada stasiun Meteorologi Mali dan Labuan Bajo alami peningkatan jumlah hari hujan ekstrem. Intensitas curah hujan ekstrem di kedua stasiun ini juga alami peningkatan.

Curah hujan ekstrem harian telah meningkat selama 6 tahun terakhir hingga mencapai > 100 mm/hari. Selain itu, pergeseran musim sedang terjadi di wilayah NTT, dimana umumnya musim kemarau menjadi lebih panjang dan musim hujan semakin lebih pendek.

Secara umum dapat disimpulkan deforestasi yang melanda wilayah NTT berkorelasi dengan perubahan iklim.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved