Minggu, 10 Mei 2026

Deforestasi dan Perubahan Iklim di NTT

Ibarat bom waktu, kerusakan hutan memicu bumi yang semakin panas (global warming) yang menjadi sumber

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ilustrasi
Kerusakan Hutan 

Oleh: Linda Natalia So'langi, S.Tr
Staf Operasional Stasiun Klimatologi Kupang

POS KUPANG.COM - Deforestasi (penghancuran hutan) sedang berlangsung terus- menerus menggerogoti bumi Flobamora (NTT).

Mungkin tanpa disadari masih banyak masyarakat yang tidak tahu bahkan tidak peduli terhadap dampak akumulasi kerusakan hutan ini.

Ibarat bom waktu, kerusakan hutan memicu bumi yang semakin panas (global warming) yang menjadi sumber malapetaka bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Perubahan iklim menghasilkan dampak negatif antara lain meningkatnya frekuensi cuaca atau iklim ekstrem (angin puting beliung, badai topan, siklon tropis, tanah longsor, kekeringan, banjir); mencairnya es kutub/gletser yang meningkatkan muka air laut (potensi ancaman bagi punahnya spesies binatang kutub dan tenggelamnya pulau-pulau); udara tidak sehat dan masih banyak dampak negatif lainnya. Karena itu, kawasan hutan sangat penting dijaga dan dilestarikan.

Baca: Anggota Polsek Raimanuk Padamkan Kebakaran Hutan

Hutan dapat menekan laju pemanasan global karena fungsinya yang menyerap karbon (gas pemicu global warming) dan melepas oksigen ke udara.

Data Dinas Kehutanan Provinsi NTT tahun 2011-2016 menunjukan, luas kerusakan hutan di NTT terus meningkat.

Hal ini sejalan dengan berkurangnya kawasan hutan di NTT seluas 66.591 Ha dari tahun 1999 seluas 1.808.990 ha (SK.423/Menhut/1999) menjadi 1.742.399 ha pada tahun 2016 (SK Menlhk No.357/2016).

Pada umumnya kerusakan hutan di disebabkan kebakaran hutan dan lahan, illegal logging dan perambahan. Penyebab tertinggi ialah kebakaran hutan mencapai 5,9 % dari total luas hutan, diikuti perambahan kawasan 5,6 % serta illegal logging < 1 %.

Perlu menjadi perhatian penyebab tertinggi deforestasi ialah kebakaran hutan yang sulit terkendali karena pola peladangan tebas bakar merupakan budaya masyarakat NTT.

Baca: Hutan Lindung Depan Unimor Terbakar

Pola tebas bakar yang diwariskan turun-menurun ini menghemat tenaga kerja saat membuka lahan. Sayangnya pola ini malah meningkatkan emisi CO2 di atmosfer, salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) penyebab global warming.

Data pengukuran konsentrasi CO2 di atmosfer wilayah Indonesia termasuk NTT oleh Stasiun Global Atmosphere Watch BMKG di Bukit Kototabang, Sumatera Barat melambung tinggi dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai sekitar 385 part per million (ppm) dengan nilai kecenderungan peningkatan tiap tahun 1,5 ppm (aldrian dkk,2011).

Secara global konsentrasi CO2 per Agustus 2017 di atmosfer mencapai 405 ppm berdasarkan pengamatan Stasiun Mauna Loa, USA (www.NOAA.gov).

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved