NTT: Nasib Tergerus Teologis

Membedah tubuh provinsi ini perlu diagnosa beberapa indikator. Indikator membantu melihat pola, gejala, dan pengaruh atas

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Ketiga, kolonialisme ratusan tahun tentu mempengaruhi etos dan perilaku strata sosial masyarakat NTT. Strata sosial kolonial (Portugis dan Belanda) memberikan hak istimewa kepada klan-klan kerajaan lokal yang pro kolonial. Di lain pihak rakyat jelata adalah pekerja kasar dan budak belian. Ketika era kemerdekaan kelas-kelas tertindas membangun kesadaran kolektif mengaktualisasikan diri pada pergaulan sosial yang sederajat.

Era kebangkitan kaum tertindas tersebut mendorong perpindahan gaya hidup elite kolonial ke masyarakat umum. Pesta pora, pesta keagamaan,pesta adat, dan pesta apa saja dengan biaya yang tinggi walau utang atau dengan menjual aset-tanah sebagai suatu yang wajar dan normal.

Perang Melawan Kemiskinan

Kritik Karl Marx terhadap agama ditambah kajian Frederich Engels yang melihat "ketersamaran agama" dimana Kristen primitif mengalamatkan pembebasan pada kehidupan alam akhirat kelak, sementara sosialisme menempatkan pada kehidupan di dunia saat ini. Lalu terjadilah perjuangan kelas miskin pekerja-prolektariat menuntut hak dan persamaan.

Di era mileium pertentangan kapitalisme dan sosialisme terus berlanjut walaupun menurut Francis Fukuyama (The End History) sudah berakhir dan diganti dengan sistem demokrasi liberal. Namun tesis ini dibantah oleh Samual Hungtington (Clash Of Civilization), berpendapat bahwa benturan akan terus terjadi tetapi bergeser ke pertentangan antar peradaban yang merupakan entitas kultural-budaya. Lebih khusus potensi konflik peradaban barat (Kristen) dan peradaban timur (Islam).

Pergolakan kelas sosial di Indonesia masih pada tahap pergeseran, dari kelas budak ke kelas merdeka. Perjuangan kelas belum dibangun atas persamaan nasib. Namun benih dan rohnya ada dalam berbagai bentuk solidaritas sosial. Solidaritas tersebut masih berkutat pada perekat rohani atau refreshing dan terhalang sekat-sekat primordialisme. Dan, didominasi faktor identitas seperti kesamaan suku,agama, dan ras. Dalam istilah Emily Durkheyim (1859-1917), sosilog Prancis sebagai solidaritas mekanik.

Di sinilah pentingnya pemimpinan sebagai panglima yang menuntut solidaritas sosial sebagai spirit menuju ke arah yang lebih baik. NTT butuh pemimpin yang mampu menggerakkan energi sosial pada upaya meningkatkan kesejahteraan. Bersemboyan revolusi melawan kemiskinan. Oleh karena itu masyarakat NTT mesti keluar dari perspektif semu dan janji manis abu nawas yang terus berulang seperti litani dalam memilih pemimpin NTT ke depan di berbagai tingkatan. *

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved