NTT: Nasib Tergerus Teologis

Membedah tubuh provinsi ini perlu diagnosa beberapa indikator. Indikator membantu melihat pola, gejala, dan pengaruh atas

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Oleh: Boni Jebarus
Anggota DPRD Provinsi NTT, wakil ketua Fraksi Demokrat

POS KUPANG.COM -- Tahun 2017 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki usia 59 tahun. Jika dianalogikan dengan umur produktif manusia, mestinya berbanding lurus dengan kesejahteraan. Namun, faktanya berbanding terbalik. Semakin tua, komplikasi semakin rumit. Seperti tumor yang menggeroti organ tubuh. Ratapan jadi senandung melankolis. Pasrah berubah jadi litani ucapan syukur. Maka tergenaplah adegium umum menyebut NTT dengan "Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong."

Membedah tubuh provinsi ini perlu diagnosa beberapa indikator. Indikator membantu melihat pola, gejala, dan pengaruh atas kebijakan pembangunan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Banyak sumber data resmi yang merilis angka kemiskinan seperti BPS, Bank Indonesia, PBB, Bank Dunia, Bank Indonesia serta NGO.

Masing-masing lembaga memiliki konsep dan indikator berbeda dalam menentukan persentasi kemiskinan. Secara umum menggunakan dasar garis kemiskinan (poverty line) yang ditetapkan berdasarkan besarnya pengeluaran untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar seseorang agar dapat hidup dengan normal. Persoalannya bukan sekadar menghitung orang miskin tetapi indikator kemiskinan itu yang menjadi pendekatan.

Indikator yang dapat membantu mendiagnosa masalah kemiskinan NTT. Pertama, Urbanisasi di NTT. Eksodus desa ke kota didominasi oleh aparatur sipil negara, pekerja informal dan pekerja tak terdidik. Dan, ini menyebabkan bertambahnya kelas bawah perkotaan-kaum miskin kota. Kedua, pendapatan per kapita NTT tergolong rendah dengan kisaran Rp 5 juta. Masuk dalam lima besar terendah di Indonesia.

Ketiga, Indeks Kualitas Hidup. Menurut data BPS rata-rata harapan hidup penduduk NTT sebesar 68 persen tahun 2015. Sedangkan Kota Kupang yang berada pada angka 73,46. Itu berarti harapan hidup penduduk NTT umumnya rata-rata 60 tahun.
Keempat, Pendidikan. Angka melek huruf yang 5 tahun terakhir (2010-2015) hanya naik sebesar 5,09 persen di usia 10 tahun ke atas. Sedangkan angka partisipasi sekolah (APS) naik 14,04 persen usia 16-18 tahun. Di usia 13-15 naik dari 8,51 persen dan usia 7-12 naik dari 2,17 perssen.

Data ini jelas memperliatkan angka putus sekolah 2011 dari SD menuju SMP sebesar 10,08 persen, SMP ke SMU sebesar 25,67. Sedangkan tahun 2015 turun sebesar 3,74 dan 20,14 persen. Angka putus sekolah sangat tinggi dari SD ke SMU.

Kelima, Kesehatan. Data BPS NTT memperliatkan penyakit malaria dan infeksi saluran pernafasan paling tinggi. Sedangkan laporan Dinkes NTT 2015 jumlah kasus kematian bayi tahun 2011-2015 berada di angka 1.000 lebih kasus. Angka kematian anak dan ibu lumayan tinggi. Pada tahun 2013, laporan resmi Kementerian Kesehatan mengindikasikan bahwa lebih dari separuh (51,73 persen) anak usia di bawah lima tahun (balita) di NTT mengalami stunting -pendek untuk usia mereka.

Keenam, tempat tinggal. Data BPS NTT tahun 2015 dinding rumah bukan tembok sebesar 62,8 persen. Dan dinding lantai yang bukan semen sebesar 33,55 persen. Ini berarti rumah tidak layak huni sangat tinggi. Sedangkan kesulitan air bersih hampir merata. Bahkan di Kupang,ibu kota provinsi fasilitas air bersih sangat buruk. Begitu juga tentang sanitasi seperti mandi, cuci, kakus (MCK) kondisi tak jauh berbeda-buruk dan tak tertata.

Miskin Tapi Bahagia

Data BPS NTT tahun 2015, indeks kebahagiaan masyarakat NTT 2014 sebesar 66. Masuk kategori tinggi. Fakta ini memperlihatkan sesuatu yang paradoks, "tingkat kemiskinan tinggi namun indeks kebahagiaan tinggi pula. Secara teori ekonomi modern, kemiskinan tinggi indeks kebahagiaan mestinya rendah.

Data lain menunjukkan indeks kebahagiaan berdasarkan umur mengalami penurunan pada usia tua. Muda bahagia-tua sengsara. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi akar masalah kemiskinan di NTT.

Pertama, adat-istiadat membantu pola hidup konsumtif masyarakat NTT. Ritual dan pesta adat berbiaya tinggi dikalangan penduduk berpenghasilan rendah. Memang melibatkan partisipasi komunitas, tetapi terkesan paksaan sosial. Seperti berutang di tengkulak dan tak jarang mengorbankan pendidikan anak.

Ritual adat tidak terlepas dari wajah ganda masyrakat NTT sebagai agama animisme dan agama samawi pada saat bersamaan. Problem lain muncul "politisasi adat" pada pesta demokrasi di semua tingkatan. Distorsi dan disorientasi ini dibantu sikap konsumerisme di akar rumput yang menjalar cepat.. Adat dan budaya tidak lagi sebagai simbol pemaknaan atas kehidupan.

Kedua, agama. Kritix Karl Marx, agama sebagai candu perlu direfleksikan. Pemuka agama hanya menjalankan rutinitas keagamaan pada mekanisme formal. Tidak menjelaskan arti yang sesungguhnya sebagai spiritualitas kehidupan. "Lebih mudah seekor unta masuk lubang jaru daripada orang kaya masuk kerajaan Allah". Ayat ini bisa menjebak kemiskinan jika tidak dipahami dengan benar. Kristen tidak melarang orang menjadi kaya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved