Kamis, 28 Mei 2026

Polisi Periang Itu Tembak Kepalanya Sendiri, Akhirnya Meninggal Dunia

Menyadari sumber rintihan itu datang dari kamar tidur yang baru ditempati suaminya Aiptu Fransisco de Araujo, Martina de Araujo berteriak, "Tolonggg

Tayang:
Penulis: Alfons Nedabang | Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG/ALFONS NEDABANG
Jenazah Aiptu Fransisco de Araujo dalam kereta, saat dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Bayangkara Kupang, Rabu (7/6/2017) sore. 

Bersikap Normal
Putri mengatakan, ayahnya tidak memperlihatkan keanehan bersikap saat berada di rumah. Fransisco bersikap normal sebagaimana hari-hari sebelumnya.

"Bangun pagi, bapak masih sempat antar adik Fadli (9) ke sekolah. Pulang dari SD Oeba 1, bapak langsung masuk kamar," ujar Putri.

Putri sempat mendatangi kamar orangtuanya. Berdiri di depan pintu, Putri minta pinjam handphone (Hp) ayahnya. Fransisco tidak langsung memenuhi permintaan anaknya. "Bapak bilang tunggu karena sedang ganti baju," tuturnya.

Putri juga mengungkapkan, hubungan ayah dan ibunya baik-baik saja. Pada Senin (5/6/2017) malam, mereka sekeluarga masih bercengkrama.

"Tidak ada hal yang aneh. Kami juga tidak ada firasat apa-apa," jelasnya.

Sejak suaminya dibawa ke RS Bhayangkara, Martina beserta tiga anaknya Mebiana, Putri dan Fadli, selalu mendampingi. Ekspresi kesedihan jelas terpancar dari raut wajah mereka. Sesekali Martina menangis.

Saat menemani suaminya di kamar operasi, Martina jatuh pingsan. Peristiwa ini terjadi sekira pukul 12.10 Wita. Martina lalu digotong anggota polisi dan petugas medis.

Baca: VIDEO: Dua Anak dari Fransisco De Araujo Keluar dari Ruangan ICU RS Bhayangkara Sambil Menangis

Dia dikeluarkan dari kamar operasi, selanjutnya dibaringkan pada salah satu ruang UGD. Beberapa kerabat menjaganya.

Tak lama berselang, Martina siuman lalu diberi minum air mineral. Dia dihibur dan dikuatkan beberapa ibu yang berbicara menggunakan bahasa Tetun. Pukul 12.30 Wita, Martina bangkit lalu kembali masuk ke kamar operasi dengan dipapah. Martina mengucurkan air mata saat keluar dari kamar operasi.

Pengunjung yang memadati area di depan kamar operasi diselimuti suasana haru.

Martina yang mengenakan baju kaos motif garis horisontal merah, kuning dan putih dipadu celana panjang hitam, selalu dikuatkan anggota keluarganya.

Kompol Martinus Ginting, Sp.P, dokter yang menangani Fransisco Araujo, menjelaskan, saat itu kondisi korban belum stabil.

"Memang secara medis kita bilang tahap kritis sudah dilewati. Tapi kondisinya belum stabil," kata Ginting, saat mendampingi Kapolres Kupang Kota, AKBP Anthon Cristanto menjelaskan kasus tersebut kepada wartawan di RS Bhayangkara.

Ginting menjelaskan, peluru menembusi kepala korban. Luka tembak satu lubang, di atas telinga kanan keluar belakang telinga kiri. Hal tersebut mengakibatkan terjadi pendarahan.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved