VIDEO
VIDEO: Jangan Remehkan Orang ini yang Suka Membangun Sekolah dan Rumah Ibadah
Drs. Jusak Taneo, S.Th banyak sekali membangun sekolah dan rumah ibadah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di NTT. Apa Sih Tujuannya
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: omdsmy_novemy_leo
Dan karenanya, di rumah itulah bersama orangtuanyalah, anak-anak bisa menyaring berbagai informasi dan pengalaman yang didapatnya di luar rumah. Informasi dan pengalaman baik dan buruk, apapun itu. Dan untuk menyaring berbagai informasi itu, maka harus ada dialog yang harmonis dengan orangtuanya. Disitulah anak-anak bisa kembali mendapat pendidikan dan pengajaran yang tepat. Juga keteladanan orangtuanya menjadi panutan bagi anak-anak.
Karena itu, jangan meremehkan rumah, rumah adalah tempat pembelajaran yang baik bagi anak-anak dan setiap anggota keluarga didalamnya. Hal inilah yang harusnya bisa dipahami dan dijalankan oleh setiap orangtua dan keluarga. Anak adalah harta titipan Tuhan kepada orangrtua sehingga orangtua harusnya bertanggungjawab terhadap kehidupan termasuk pendidikan anaknya.
Bagaimana dengan kurikulum dan pendidikan gratis?
Saya berharap agar kurikulum yang diterapkan di Indonesia itu tidak berubah-ubah demikian cepat. Ganti menteri, ganti presiden, lalu ganti kurikulum. Hal ini tidak efektif karena bisa membingungkan guru dan anak sekolah. Hemat saya, kurikulum itu dirubah minimal 10 atau 20 tahun untuk kemudian dievaluasi sehingga kita benar-benar bisa tahu dampak positif dan negatif dari kurikulum itu dan bisa mengambil jalan keluar yang tepat ketika ingin merubahnya.
Pendidikan gratis memang bagus, namun jangan semua digratiskan, harus ada beban dan tanggungjawab orangtua untuk membiayai pendidikan anaknya, agar proses pendidikan itu bisa bermakna. Kalau orangtua tidak keluarkan uang sama sekali untuk pendidikan anaknya, maka orangtua dan anak itu tidak akan merasa berkorban untuk bisa meraih pendidikan itu. Pendidikan itu mahal, pendidikan itu penting, sehingga harus ada pengorbanan untuk bisa meraih pendidikan itu.
Pak Jusak, selain membangun STMK, Bapak juga membangun sejumlah tempat ibadah di wilayah TTS. Apa tujuan besarnya?
Saya tidak tahu ya, kenapa saya senang membangun sekolah SMTK dan membangun rumah ibadah. Hal itu seperti panggilan hidup bagi saya dan saya senang hati melakukannya meski ada kendala disana sini. Bagi saya, pendidikan dan ibadah itu penting. Kecerdasan penting, akhlak dan moral pun penting. Karenanya saya juga menggerakkan masyarakat mau dan bisa membangun rumah ibadah di wilayahnya. Dan saat ini saya dan masyarakat di TTS sudah membangun sekian banyak rumah ibadah, baik gereja Kristen, Gereja Katholik seperti kapela dan mesjid kecil.
Untuk rumah ibadah, kami mengumpulkan uang dan ada juga donatur. Lalu kami kerjakan pembangunannya bersama-sama. Fisik rumah ibadah yang kami bangun tidak mewah, namun sederhana dan bisa digunakan untuk menjalankan ibadah dengan nyaman. Kami membangun gereja GMIT Kefas Oenae klasis Amanuban Timur, gereja GMIT Imanuel Oan Anak di Kecamatan Fatukopa, perbatasan TTU Malaka. Kami juga membangun gereja GMIT Ebenhazer Taeneno di Kecamatan Fautmolo, dan gereja Kapela Yohanes Pembabtis di Desa Tunnis di Kecamatan Fautmolo.
Bahkan di Dusun Eonana, Desa Elo, Kecamatan Fautkopa, kami membangun empat rumah ibadah yakni gereja Kapela, Mesjid, Gereja Pantekosta dan Gereja GMIT. Sedangkan ada puluhan gereja yang kami rehab. Ini luar biasa karena seluruh masyarakat bergotong royong membangun berbagai rumah ibadah tersebut. Selain membangun kami juga merehap rumah rumah ibadah. Bangga dan senang karena semua masyarakat turut andil dengan caranya masing-masing. Semua ini terjadi bukan karena hebatnya saya, tapi karena masyarakat juga punya kasih dan Tuhan selalu mengaminkan hal itu.
Saya juga dengar Bapak menggerakan masyarakat untuk membeli tanah untuk ‘rumah masa depan’ alias makam. Apa alasannya?
Orang pasti tidak percaya ya. Saya sudah menyiapkan tanah untuk membuat makam saya dan keluarga ukuran sekitar 5 x 6 meter di Mapoli. Tamah makam itu sudah sudah siapkan sejak tahun 1999 atau 17 tahun lalu. Namun tanah makam itu tidak jadi saya gunakan karena sudah saya berikan kepada guru spiritual saya, Martinus Leobisa yang meninggal beberapa tahun lalu.
Sekarang saya sudah punya tanah makam penggantinya di Oebelo. Saya mau beritahu begini, setiap orang pasti mati kan, tidak ada manusia yang tidak bisa mati. Bagi saya, kita tidak harus hanya mempersiapkan masa depan, kesuksesan dan rencana-rencana untuk keberhasilan dan kesuksesan semasa hidup saja. Namun kita juga harus mempersiapkan ‘kesuksesan’ kita ketika kita meninggal nanti, baik itu keimanan, akhlak termasuk makam. Hal ini saya pelajari dari tokoh Abraham.
Dan saya tidak mau sendirian, saya ingin ada masyarakat lain yang juga bisa mempersiapkan hal yang sama. Karena itulah, mulai tahun 2003 lalu, saya membicarakan ‘rumah masa depan’ ini kepada tetangga dan masyarakat di Lasiana. Dan kami sepakat mengumpulkan uang dan membeli tanah sekitar 1 ha di Oebelo. Tanah itu akan kami gunakan untuk membuat ‘rumah masa depan’ alias makam untuk kami dan keluarga ketika meninggal dunia nanti. Sudah ada sekitar 100-an kepala keluarga (KK) yang memiliki tanah disana, satu KK mendapat jatah sekitar 7 x 10 meter.
Hingga saat ini sudah ada beberapa orang yang dimakamkan disana. Kalau tidak salah, orang pertama yang dimakamkan di ‘rumah masa depan’ kami itu bernama Sophia. Dan kami juga menamakan ‘rumah masa depan’ kami itu sebagai ‘Rumah Sophia’ atau Rumah Kebijaksanaan. Mungkin orang menganggap saya aneh, tapi saya selalu ingin bisa menata kehidupan dan kematian saya dengan baik. Tak ada yang tahu bagaimana masa depan kita seperti tak ada yang tahu kapan dan dengan cara apa kita mati. Karena semua itu adalah rahasia Tuhan. (*)
**********