Ungkapan Kebencian (1)
Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto mengemukakan bahwa penanganan ujaran kebencian atau hate speec
Soraya dkk menemukan lebih dari 57.000 tweet dan lebih dari 4.900 email mengungkapkan kebencian. Pada gilirannya Soraya memaksa FB untuk menarik atau menutup semua akun yang menabur kebencian. Akhirnya FB menarik iklan dari 15 perusahaan, termasuk Nissan UK, House of Burlesque, dan Nationwide UK tepat pada tanggal 29 Mei 2013.
Hubungan antara penggunaan FB sebagai media sosial dengan HS dalam ilmu komunikasi dapat dijelaskan melalui teori komunikasi ritual versi James Carey (1985, 1992). Menurut Carey, semua berita yang Anda akses dari media massa (terutama media massa cetak) merupakan transmisi informasi tentang peristiwa lintas geografi yang tidak lebih tidak kurang seperti pertunjukan drama, jadi informasi harus dinikmati sebagai drama tentang suatu realitas yang dipertunjukkan di atas panggung.
Akibatnya muncul pertanyaan apakah berita media itu tampil sebagai realitas murni atau realitas virtual yang telah dimanipulasi oleh media atau penulisnya? Karena itu Carey mempertanyakan apakah berita itu mempunyai kemampuan mencerahkan atau mengaburkan realitas itu sendiri? Dia bahkan meragukan kekuatan informasi media umum untuk mengubah sikap audiens, karena informasi dari media tidak cukup kuat menjadi faktor pemersatu audiens sehingga Carey lebih percaya pada komunikasi ritual.
Bahwa, komunikasi ritual yang sering dipraktekkan komunitas dalam bentuk upacara ritual oleh suatu komunitas budaya tertentu lebih jelas dan lebih kuat daya ikatannya karena semua informasi dalam proses komunikasi dilakukan dalam upacara ritual seperti upacara keagamaan, adat istiadat) dll.
Kejelasan tujuan komunikasi ritual itulah menurut Carey telah berhasil menegaskan kembali komitmen anggota suatu komunitas ke dalam tradisi keluarga, suku, bangsa, agama, negara, ideologi atau apapun namanya. Carey mengakui pula bahwa salah satu dampak negatif komunikasi ritual adalah tiap komunitas budaya cenderung mengunggulkan budaya komunitas mereka sendiri lalu mengungkapkan kebencian mereka terhadap komunitas lain yang mereka anggap sangat mengganggu dan berbahaya. Tentang ini diakui juga Matsuda dkk (1993), bahwa ungkapan kebencian rasis dapat menyebabkan komunitas sasaran mengalami perubahan emosional yang luar biasa.
Sampai-sampai komunitas sasaran akan mengalami perasaan rendah diri yang pada gilirannya menganggap ungkapan kebencian tidak lain sebagai mekanisme dari komunitas-komunitas berpengaruh untuk mengsubordinasikan komunitas-komunitas sasaran.
Sarah Sorial (2015) dalam tulisan berjudul "Hate Speech and Distorted Communication: Rethinking the Limits of Incitement" secara gamblang menjelaskan tentang ungkapan kebencian yang berbentuk hasutan. Kata Sarah, ungkapan kebencian umumnya didefinisikan ke dalam ranah hukum sebagai hasutan di mana target hukum itu fokus pada bagaimana konten dari pernyataan sesungguhnya. Memang, kata Sarah, ada sejumlah konsekuensi yang tidak diinginkan, (1) hukum cenderung menangkap bentuk nyata dari ungkapan kebencian lalu cenderung mengabaikan alasan atau argumen kenapa ungkapan itu dinyatakan; dan (2) jika ini terjadi. maka apa saja yang diungkapkan seseorang bisa dikategorikan sebagai hasutan, apalagi mengabaikan konteks tempat di mana sebuah kultur mengakui hasutan seperti itu (dalam komedi dll).
Bahaya dari mischaracterizing ungkapan kebencian itu menjadi debat akademis atau politik. Dengan mengacu pada pendapat komunikasi versi Habermas bahwa yang terjadi adalah distorsi komunikasi, maka Sarah mengusulkan kriteria yang berbeda untuk mendefinisikan dan memahami ungkapan kebencian yang sudah tentu mempunyai alasan sehingga kita perlu menafsirkan konsep hasutan secara lebih luas. (bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-facebook_20160422_105926.jpg)