Oleh Pdt. Dr. Ebenhaizer Nuban Timo
Selalu Ada Babak Baru
HIDUP menghadirkan kepada kita dua pilihan tak terhindarkan: pengalaman suka dan duka,
Kalau ada SMS yang indah dari rekan-rekan yang masuk ke handphone saya, pesan yang indah itu selalu saya simpan sebagai dokumen iman. Salam satu pesan yang terus saya ingat dan selalu menjadi isi doa saya setiap bangun pagi adalah ini: "Jangan meminta Tuhan memberikan kepadamu kesempatan baru sebab kesempatan baru selalu disediakan Tuhan. Mintalah dari Tuhan kekuatan dan keberanian untuk mengisi kesempatan baru itu secara baik, benar dan bijaksana."
Setiap pagi Tuhan memberikan kesempatan baru kepada semua orang: laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, tua dan muda, kaya dan miskin, orang kristen dan non kristen. Ada yang berhasil mengisi kesempatan baru itu tetapi ada juga yang terus-menerus gagal. Apa sih kunci keberhasilan dan kegagalan itu?
Belajar dari kitab kejadian, yang nama aslinya adalah Pada Mulanya, keberhasilan atau kegagalan itu ditentukan oleh seberapa jauh komitmen kita untuk mengingat firman atau pesan-pesan Tuhan dan menjadikan firman pesan-pesan itu sebagai pedoman dalam mengisi kesempatan-kesempatan baru itu.
Jemaat yang bersekutu dalam nama Tuhan Yesus Kitab Kejadian bersaksian tentang permulaan dari segala sesuatu. Kita sudah melihat bahwa pada Allah dan bersama Allah permulaan terdiri dari beberapa babak. Pada tiap babak selalu ada dimensi baru yang ditambahkan Allah. Babak pertama dari permulaan yang dikisahkan dalam kejadian 1 dan 2 Allah memberi mandat kepada manusia untuk memimpin segenap ciptaan masuk ke dalam sabat untuk menyembah dan memuliakan Allah (bdg, Kejadian 1:28).
Dosa membuat manusia gagal menunaikan mandat itu. Permulaan baru Allah mulai lagi bersama Nuh. Dalam babak itu dimensi baru ditambahkan Tuhan, yakni pengampunan dosa. Itu tersirat dari pernyataan Allah dalam Kejadian 9:11: "Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi."
Keturunan Nuh, seperti nyata dari kesaksian selanjutnya gagal. Sebagai jawaban atas kegagalan itu, Allah membuka babak ketiga, dengan Abram dan Sarai. Kepada pengampunan dosa yang sudah diberikan dalam babak kedua, Allah menambahkan lagi satu dimensi baru yakni janji keturunan dan tanah. Keturunan untuk mengalami langsung pengampunan dosa dari Allah dan tanah tempat di mana pengampunan yang mereka terima itu dipraktekkan dalam hubungan satu sama lain.
Hal lain yang menarik dari kisah tentang permulaan yang selalu dibaharui Allah ialah bahwa permulaan itu terjadi dalam konteks kehidupan keluarga. Pada babak pertama Allah mulai dengan Adam dan Hawa bersama tiga orang anak mereka: Kain, Habel dan Zet. Babak kedua Tuhan Allah memilih Nuh dan tiga anaknya: Sem, Ham dan Yafet. Babak ketiga dengan Abram dan Sarai dengan dua orang anak Abram: Ismael dan Isak.
Keluarga ternyata merupakan sel paling menentukan dalam mengintrodusir permulaan-permulaan baru. Kegagalan mengisi kesempatan-kesempatan baru secara baik, benar dan berdaya-guna selalu berawal dari ketidak-beresan relasi-relasi di dalam keluarga antara sesama mempelai dan juga antara orang tua dan anak.
Adam dan Hawa gagal karena suami istri itu meremehkan komunikasi yang terbuka di antara mereka. Itu berakibat buruk pada relasi kedua anak mereka: Kain dan Habel. Setelah air bah, Nuh melakukan kesalahan serupa, ia mabuk-mabukan sehingga mengutuki anak yang satu dan memberkati anak yang lain. Ismael dan Isak bingung menghadapi kedua orangtua mereka, terutama Sarah dan Hagar yang membangun arogansi diri. Kebingungan Ismael dan Isak itu masih terus terjadi sampai saat ini di negeri kita.
Tetapi kita tidak boleh menyerah dengan kesulitan-kesulitan, derita dan ancaman kegagalan itu. Kesempatan-kesempatan baru yang disediakan Tuhan hanya bisa kita jalani secara berguna apabila menjadikan keluarga dan rumah tangga, lingkungan kerja dan masyarakat sebagai pentas di mana kita mempersembahkan semua yang ada pada kita bagi kemuliaan Allah. (Rohaniawan, Tinggal di Salatiga)