Oleh Pdt. Dr. Ebenhaizer Nuban Timo
Selalu Ada Babak Baru
HIDUP menghadirkan kepada kita dua pilihan tak terhindarkan: pengalaman suka dan duka,
Gereja dan umat kristen seantero jagad, sedang menjalani masa-masa pra paskah, atau yang dalam tradisi perenungan gereja disebut quadragessima, masa empat puluh hari. Selama rentang waktu ini, fokus pemberitaan gereja adalah pada kesengsaraan, penderitaan dan kematian Yesus. Untuk merenungkan peristiwa sukacita, yakni Natal gereja hanya melakukannya selama 4 minggu adventus.
Sementara untuk penderitaan dan kematian, waktunya begitu lama. Tujuh minggu jumlahnya. Apa maksud semua ini?
Buku pertama dari kitab suci orang Kristen dan orang Yahudi adalah Kejadian. Kitab itu berisi tentang permulaan segala sesuatu: baik permulaan langit dan bumi maupun permulaan sejarah keselamatan atau hikayat perjanjian yang Tuhan Allah adakan dengan manusia, termasuk juga permulaan penderitaan, yang oleh kitab Kejadian disebabkan oleh kejatuhan dalam dosa.
Orang kristen menyebut nama buku pertama itu: Kejadian. Sedangkan orang Yahudi menamakannya: Pada Mulanya. Nama ini diambil dari kata pertama yang ada di awal kitab itu. Ini memang kebiasaan orang Yahudi. Lima buku pertama dari kitab suci mereka sebut menurut kata pertama dari masing-masing kitab itu. Jadi nama Yahudi dari kelima buku pertama dari kitab suci kristen adalah: Pada Mulanya untuk kitab Kejadian, Inilah Nama-Nama untuk kitab Keluaran, Tuhan Memanggil sebagai nama untuk kitab Imamat, Di Padang Gurun adalah nama kitab Bilangan, dan Inilah Firman-Firman menjadi nama kitab Ulangan.
Sekarang kita perhatikan buku pertama: kitab Kejadian atau kitab Pada Mulanya. Hanya ada satu permulaan yang diceritakan dalam kitab Kejadian, tetapi permulaan yang satu itu terdiri dari tiga babak. Babak pertama berisi cerita tentang permulaan segala sesuatu. Itulah yang kita baca dalam hikayat jadinya langit dan bumi. Babak kedua dari permulaan itu kita baca dalam cerita Nuh dan keluarganya. Itu bercerita tentang tindakan Allah membaharui bumi yang mengalami kerusakan berat akibat dosa. Babak ketiganya adalah pemilihan Allah terhadap Abram untuk menjadi sahabat Allah membangun satu imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah demi menjadikan pembaharuan bumi yang dilakukan bersama Nuh menjadi milik semua kaum di bumi.
Kitab suci orang kristen terdiri dari 66 buku. Baru saja kita membaca buku yang pertama, kita sudah menemukan hal tentang Allah yang mengejutkan dan membawa sukacita, yakni pada Allah dan hidup bersama Allah selalu ada permulaan- permulaan baru. Memulai sesuatu secara baru merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Apalagi pengulangan itu harus dilakukan beberapa kali. Tetapi itulah yang Allah buat bagi kita dan untuk keselamatan kita.
Hidup memang dipenuhi dengan banyak pengalaman menyakitkan. Terkadang kita menangis karena terluka, kita tidak berdaya akibat tekanan berat dan betapa sering kita gagal dalam satu usaha. Memulai kembali usaha itu secara baru? Kita biasanya menganggap pilihan itu sebagai tanda kelemahan dan kekalahan. Dari pada memulai kembali secara baru, kita lebih suka mengerjakan sesuatu yang sama sekali baru.
Jelasnya, memulai sesuatu secara baru, bukanlah pilihan yang biasa bagi kita. Tetapi apa yang tidak kita sukai itu, justru menjadi pilihan Allah. Pada Allah dan bersama Allah selalu ada babak-babak baru yang terbuka dalam setiap kegagalan atau kehancuran. Allah tidak ingin ciptaan yang merupakan buah dari cinta kasihNya gagal ambil bagian dalam keselamatan yang sudah Dia sediakan. Allah mengambil jalan yang tidak disukai manusia. Dia siap menderita di tempat manusia dan bersama-sama manusia. Dengan ambil bagian dalam penderitaan dan air mata manusia, air mata itu dapat diubah menjadi mata air yang memberi kehidupan.
Allah tidak meniadakan air mata dengan menghindar, tetapi dengan menghadapi air mata itu. Allah bukan pribadi yang suka menjaga image (jaim) karena itu menghindar dari keadaan yang dianggap merusak imagenya. Demi keselamatan manusia, Allah masuk dalam derita manusia supaya bisa membawa manusia keluar dari derita dan air mata itu. Apophatisme, kenosis merupakan jalan yang dipilih Allah demi menyelamatkan kita dari kematian. Inilah yang kita temukan dalam kitab Pada Mulanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan penciptaan dalam enam hari, Allah mendahului manusia masuk ke dalam sabat. Di sana Ia menunggu manusia: Adam dan "Hawa memimpin segenap ciptaan datang kepadaNya untuk mengembalikan kemuliaan, hormat dan kuasa kepadaNya. Ternyata, manusia tidak melakukan itu. Yang manusia buat adalah hidup begitu rupa seolah-olah kemuliaan, kuasa dan hormat itu adalah miliknya dan tertuju kepadanya. Manusia mau menguasai segala sesuatu, termasuk yang ada di tengah-tengah taman di Eden.
Akibatnya dosa dan kejahatan mulai menguasai bumi. Dosa berlipat ganda sangat cepat. Dalam kejadian 6:11 disebutkan bahwa bumi itu telah rusak dan penuh dengan kekerasan. Manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Seluruh ciptaan bergerak mengarah ke jalan buntu, manusia adalah pemimpinnya.
Untuk memulihkan itu, Allah mengakhiri babak pertama dan memulai babak kedua bersama Nuh dan keluarganya. Setelah air bah, sejarah mengalami lagi kegagalan. Orang-orang yang selamat dari air bah bukannya mempermuliakan Allah. Mereka berkumpul di Sinear untuk membangun sebuah menara dengan maksud untuk mencari nama, seperti yang disebutkan dalam Kejadian 11:4, bukannya memberitakan dan mempermuliakan nama Allah. Dua kali manusia gagal mengerjakan tugas dan hidup sesuai dengan panggilannya.
Tapi Allah tidak mau kegagalan manusia itu merusak rencanaNya atas manusia. Maka Allah mengambil inisiatif baru. Babak ketiga dari permulaan dibuka lagi oleh Allah. Abram dan Sarai menjadi mitra bagi Allah pada babak ini.
Allah belum mengucapkan kata terakhir betapapun manusia suka mengakhiri semua yang ia terima dari Allah. Pada Allah selalu ada kesempatan baru, babak baru dan permulaan baru. Menghadapi keadaan yang rusak dan kehidupan yang terperosok dalam kebinasaan, Allah selalu menawarkan peluang, kesempatan dan kemungkinan baru. Allah melakukan itu dengan maksud menolong kita untuk menjalani hidup dengan cara-cara yang baru.
Hidup memang menawarkan kepada kita banyak kesulitan, duka, air mata dan penderitaan. Kita tidak boleh putus asa dan berhenti berusaha. Kita tidak boleh terus meratapi nasib, mengeluhkan keadaan sekitar dan membiarkan diri kalah. Kita harus bangkit dan berbenah diri untuk menjalani babak-babak baru yang Tuhan Allah buka bagi kita. Permulaan yang Tuhan sediakan bagi kita belum berakhir. Permulaan itu, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab kejadian terdiri dari banyak babak.
Kalau ada SMS yang indah dari rekan-rekan yang masuk ke handphone saya, pesan yang indah itu selalu saya simpan sebagai dokumen iman. Salam satu pesan yang terus saya ingat dan selalu menjadi isi doa saya setiap bangun pagi adalah ini: "Jangan meminta Tuhan memberikan kepadamu kesempatan baru sebab kesempatan baru selalu disediakan Tuhan. Mintalah dari Tuhan kekuatan dan keberanian untuk mengisi kesempatan baru itu secara baik, benar dan bijaksana."
Setiap pagi Tuhan memberikan kesempatan baru kepada semua orang: laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, tua dan muda, kaya dan miskin, orang kristen dan non kristen. Ada yang berhasil mengisi kesempatan baru itu tetapi ada juga yang terus-menerus gagal. Apa sih kunci keberhasilan dan kegagalan itu?
Belajar dari kitab kejadian, yang nama aslinya adalah Pada Mulanya, keberhasilan atau kegagalan itu ditentukan oleh seberapa jauh komitmen kita untuk mengingat firman atau pesan-pesan Tuhan dan menjadikan firman pesan-pesan itu sebagai pedoman dalam mengisi kesempatan-kesempatan baru itu.
Jemaat yang bersekutu dalam nama Tuhan Yesus Kitab Kejadian bersaksian tentang permulaan dari segala sesuatu. Kita sudah melihat bahwa pada Allah dan bersama Allah permulaan terdiri dari beberapa babak. Pada tiap babak selalu ada dimensi baru yang ditambahkan Allah. Babak pertama dari permulaan yang dikisahkan dalam kejadian 1 dan 2 Allah memberi mandat kepada manusia untuk memimpin segenap ciptaan masuk ke dalam sabat untuk menyembah dan memuliakan Allah (bdg, Kejadian 1:28).
Dosa membuat manusia gagal menunaikan mandat itu. Permulaan baru Allah mulai lagi bersama Nuh. Dalam babak itu dimensi baru ditambahkan Tuhan, yakni pengampunan dosa. Itu tersirat dari pernyataan Allah dalam Kejadian 9:11: "Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi."
Keturunan Nuh, seperti nyata dari kesaksian selanjutnya gagal. Sebagai jawaban atas kegagalan itu, Allah membuka babak ketiga, dengan Abram dan Sarai. Kepada pengampunan dosa yang sudah diberikan dalam babak kedua, Allah menambahkan lagi satu dimensi baru yakni janji keturunan dan tanah. Keturunan untuk mengalami langsung pengampunan dosa dari Allah dan tanah tempat di mana pengampunan yang mereka terima itu dipraktekkan dalam hubungan satu sama lain.
Hal lain yang menarik dari kisah tentang permulaan yang selalu dibaharui Allah ialah bahwa permulaan itu terjadi dalam konteks kehidupan keluarga. Pada babak pertama Allah mulai dengan Adam dan Hawa bersama tiga orang anak mereka: Kain, Habel dan Zet. Babak kedua Tuhan Allah memilih Nuh dan tiga anaknya: Sem, Ham dan Yafet. Babak ketiga dengan Abram dan Sarai dengan dua orang anak Abram: Ismael dan Isak.
Keluarga ternyata merupakan sel paling menentukan dalam mengintrodusir permulaan-permulaan baru. Kegagalan mengisi kesempatan-kesempatan baru secara baik, benar dan berdaya-guna selalu berawal dari ketidak-beresan relasi-relasi di dalam keluarga antara sesama mempelai dan juga antara orang tua dan anak.
Adam dan Hawa gagal karena suami istri itu meremehkan komunikasi yang terbuka di antara mereka. Itu berakibat buruk pada relasi kedua anak mereka: Kain dan Habel. Setelah air bah, Nuh melakukan kesalahan serupa, ia mabuk-mabukan sehingga mengutuki anak yang satu dan memberkati anak yang lain. Ismael dan Isak bingung menghadapi kedua orangtua mereka, terutama Sarah dan Hagar yang membangun arogansi diri. Kebingungan Ismael dan Isak itu masih terus terjadi sampai saat ini di negeri kita.
Tetapi kita tidak boleh menyerah dengan kesulitan-kesulitan, derita dan ancaman kegagalan itu. Kesempatan-kesempatan baru yang disediakan Tuhan hanya bisa kita jalani secara berguna apabila menjadikan keluarga dan rumah tangga, lingkungan kerja dan masyarakat sebagai pentas di mana kita mempersembahkan semua yang ada pada kita bagi kemuliaan Allah. (Rohaniawan, Tinggal di Salatiga)