Ayah
KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya,...
Nony dan ibunya pun diterima dua petugas diteras depan. Sejak pagi itu Nony secara resmi jadi penghuni rumah sakit jiwa. Didepan dokter kepala, sang ibu menitipkan putrinya, dengan harapan Nony bisa sehat seperti sebelumnya. Sang ibu pun kembali tapi tidak ke rumah mewah mereka. Ia kembali ke rumah orang tuanya, sambil menunggu proses pengadilan lebih lanjut.
Waktupun bergulir dan berlalu. Berlalu meninggalkan berbagai kenangan pahit dan manis yang dialami Nony dan Ibunya. Tanpa disadarinya, dua tahun tahun sudah putri semata wayangnya berada di rumah sakit jiwa. Ia masih ingat pesan dokter untuk datang menjenguk putrinya pada tahun yang kedua. Berbekalkan pesan itu, sang ibu pagi itu menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk dibawah.
Dengan menumpang sebuah angkutan pedesaan, dengan wajah berbinar dan rasa rindu untuk ketemu dengan putri semata wayangnya, sang ibu ingin cepat-cepat tiba dirumah sakit. Sesampainya dipintu gerbang rumah sakit, ia disambut dengan ramah oleh seorang satpam.
“Permisi pa..Mau ketemu dokter kepala, boleh ya?”
“Silahkan bu. Nanti diantar sama petugas yang lain.”
“Makasih pa.”
Dari sebuah taman bunga didepan rumah sakit, terdengar suara yang sangat dikenal.
“Mamaaaaaaaaaa....”
“Nonyiiiiiiiiiiiii....”
Tak butuh waktu lebih lama sang ibu pun menghampiri pemilik suara itu. Dipeluk dan diciumnya berulang-ulang menumpahkan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Tak dihiraukannya beberapa pasien dan petugas kebersihan yang berada disekitarnya. Mereka membiarkan adegan itu berjalan beberapa menit, sebelum seorang petugas datang dan memanggil sang ibu untuk menemui dokter kepala. Sang ibupun bergegas menemui dokter sedangkan Nony kembali melanjutkan pekerjaannya ditaman.
“Mat siang, dok.”
“Mat siang juga bu. Silahkan duduk. Ibu sudah ketemu sama Nony kan?. Seperti yang ibu lihat sendiri, Nony sudah sehat. Keinginan untuk cepat sembuh sangat besar.
Saya sangat bangga dengan hal ini, selain apa yang sudah kami berikan di rumah sakit ini. Nony bisa pulang hari ini juga, tapi saya sarankan untuk tidak kembali ke rumah dulu, sebaiknya ke rumah nenek, biar dia tidak terbawa dengan situasi rumah. Dan Nony selalu harus ditemani. Biasakan untuk ajak Nony jalan-jalan ke mana aja, pokoknya ada tempat yang bisa membangkitkan kegairahannya kembali untuk maju. Dan kalau itu dijalankan dengan baik, enam bulan Nony sudah kembali menemukan dunianya.
“ Dokter kepala memberikan beberapa saran untuk dilakukan.
Setelah pertemuan itu, dokter kepala memanggil Nony. Diberitahukan niat ibunya untuk menjemputnya kembali. Nony tertunduk. Terbayang kebersamaan yang sangat indah, yang sudah tercipta diantara para penghuninya. Keramahan dan ketelaten para perawatnya melayani semua pasien dengan berbagai karakternya masing-masing.
Tapi mau tidak mau Nony harus bisa menjalankan kehidupannya sendiri seperti sebelumnya. Jabatan tangan dan saling ciuman diantara mereka terjadi. Para perawat dan semua karyawan memberikan ciuman. Sebuah pertanda dukungan terhadap kehidupan Nony bersama keluarga. Nony dan ibunya diantar ke gerbang depan rumah sakit. Angkutan pedesaan itupun pergi dan meninggalkan sejuta cerita yang ada dalam rumah sakit itu.
Tiba disebuah rumah sederhana opa dan oma Nony sudah menunggu digerbang. Nony disambut dengan ciuman dan air mata kebahagiaan. Ibu Nony sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk putri tercintanya. Namun sesuai pesan dokter kepala, ia harus menemani Nony, sehingga ia harus sekamar dengan putrinya. Nony, ibu dan kedua orang tua ibu menjalani sebuah kehidupan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah perbedaan kehidupan yang sangat kontras yang pernah Nony jalani sebelumnya.
Beberapa hari menjalani kehidupan di rumah yang baru, ibu Nony belum sempat mengajak Nony jalan-jalan. Sebuah terapi yang harus Nony jalankan. Untunglah, sewaktu Nony masih di rumah sakit, seorang kerabatnya memperkenalkan seorang pembimbing spiritual yang cukup terkenal di kota tetangga. Ibu Nony menghubunginya.
Sore harinya, Tian, pembimbing spiritual tiba. Sesuai kesepakatan dengan ibu Nony, semua proses therapy mengikuti jadwal yang sudah disiapkan Tian, yakni dalam satu minggu, tiga hari sekali, Nony harus dibawah ke tempat-tempat yang dianggap mampu membangkitkan gairah Nony, diantaranya ditaman kota. Proses itu mulai dijalankan hari berikutnya, hingga enam bulan ke depan.
***
Billy hanya menatap kosong kearah danau sambil sesekali menghela napas mendengar Nony menyelesaikan ceritanya. Berbeda dengan Nony, matanya berkaca-kaca. Butir demi butir air mata itu akhirnya jatuh dan ia rebah ke bahu Billy.
“Semua kita pasti punya masa lalu.
Ada yang indah namun ada pula yang sangat getir. Keindahan masa lalu tetap akan menjadi kenangan manis, apabila pengalaman itu tidak bisa dibawah dalam sebuah kondisi pada masa depan. Banyak orang hanya bisa membanggakan masa lalu, tapi tidak berupaya untuk menghadirkan apa yang sudah dilalui. Sementara, ada juga pengalaman pahit yang dilewati dijadikan sebagai suluh dalam menatap ke sebuah masa depan. Kekuatan untuk merubah tergantung dari pribadi masing-masing orang. Dan kamu satu diantaranya, Non. Aku bangga.”
Nony tak menjawab sepatah katapun. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Tak terlihat lagi butiran air mata yang jatuh. Tangannya memeluk erat Bily. Semakin lama semakin keras seakan tidak ingin melepaskannya. Billy hanya pasrah. Sementara dari kejauhan, ditengah danau, dua burung elang terbang merendah dan bermain diatas permukaan air. Sebuah suasana romantis yang tercipta diantara sepasang makhluk hidup yang berbeda.
Sebelum kembali, Billy membisikan sebuah kata. “Non, I love you.” Billy berjanji untuk menjaga ketulusan sebuah hati yang telah mengajarkan makna hidup yang tak ternilai baginya. Dedaunan pohon yang bergoyang diterpa semilir angin dari arah danau, turut melambai mengucapkan selamat jalan pada Billy dan Nony yang perlahan menaiki anak tangga menuju tempat titipan kendaraan..
(Cerita ini adalah fiksi semata. Apabila ada nama, tempat dan kejadian yang sama, semua itu hanya sebuah kebetulan semata)