Ayah
KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya,...
Cerpen Jose Wassa
KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya, bercengkerama bersama, tertawa riang, dan menggauli waktu dengan penuh suka cita.
Anakku terlihat begitu bersemangat, akupun larut didalamnya. Sorot mata anakku memancarkan kebahagiaan yang tak terkira dan dari caranya menatapku dapat kurasakan bahwa ia pun sangat menyayangi serta menghormatiku sebagai ayahnya. Aku merasa bangga menjadi seorang ayah.
Ketika anakku memelukku kurasakan ada kekuatan yang maha dashyat yang begitu lembut namun memiliki efek yang memancarkan kedamaian teramat sangat. Ketika anakku melompat kegirangan dengan tawa yang lepas kurasakan betapa indahnya dunia ini. Beban juga penat rutinitas kehidupan seketika sirna tak berbekas. Tak terasa sedikitpun lelah.
Justru Aku merasa hebat sebagai seorang ayah.
“ Sebelum tidur harus sembayang dulu,” pintaku padanya.
“ Kenapa harus sembayang?,” Tanya anakku.
“ Ia biar Tuhan jaga kita”, jawabku.
“ Tuhan tolong jaga papa, mama, opa, oma, semua -muanya amin,” doa anakku singkat.
“ Pa….besok main lagi ya.” Pinta anakku.
“Iya” jawabku sambil mengangukkan kepala tanda setuju.
Anakku lalu memelukku erat sembari mendengar dongeng dari mulutku dan tak berapa lama kemudian ia tertidur pulas disisiku.
Kucium keningnya dan kubisikkan aku mencintaimu nak! Kutatap sekujur tubuhnya yang mulai bertumbuh dan pasti cepat atau lambat ia akan beranjak dewasa. Raut wajahnya tampak kelelahan setelah sehari penuh bermain bersamaku.Terselip namanya dalam doaku.
***
Siang hari saat mentari begitu bercahaya memancarkan panas yang menyengat. Di depan beranda rumah kulepas lelah sembari menikmati es teh karya istriku.
“Pa ayo,” pintanya.
“Nanti sa klo papa libur lagi kayak kemarin”.
“Sekarang sa… mari su,”pintanya dengan nada memohon.
“ Sekarang papa lagi sibuk nanti sa e,”