Ayah
KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya,...
Persetan dengan mereka orang -orang tak berguna yang tak pernah mau berusaha selain memaksa dengan cara-cara tak terpuji. Orang -orang yang berlindung di dalam jubah kemiskinan tanpa mau berusaha keluar dari lembah kemelaratan. Russaak kuburan ayahku oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Ulah orang -orang gila yang seharusnya dipanggang di dasar neraka. Kondisi yang sangat memprihatinkan. Heran orang-orang ini begitu percaya diri dengan kelakuan busuk mereka.
Didepan pusara ayahku keheningan membawaku khusuk berdoa kepada Sang Khalik. Doa dari seorang anak untuk ayahnya. Kuyakin diatas sana ayah telah berbahagia bersama-NYA dan menjadi pendoa bagi kami yang masih berziarah di dunia ini. Ayah… maafkan aku anakmu yang masih selalu menggugat kehadiranmu didalam hidupku.
Lilin-liin kecil tampak meleleh pelan seperti tetesan airmataku yang terus mengguyur pelan wajahku. Bunga rampai dalam genggaman tanganku kutaburi diatas pusara ayahku. Lalu kucium pusara itu dan semerbak aroma mewangi menyebar di sekitarku. Kekuatan hatiku berkata pelan setengah berbisik
“ Ayah sekalipun mungkin aku tak begitu mengenalmu, tetapi aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun “.
(Dedicated to my lovely Father in heaven)
“Oooo, aku ingat sekarang. Tentang seseorang ditaman kota itu kan? Bill, bukan kemarin sore aja, aku sama dia ditaman kota. Seminggu kami biasa ke tempat itu, tiga kali dan udah berlangsung enam bulan ini.”
Billy tercengang mendengarkan kalimat terakhir Nony. Kali ini Billy membalikan badan dan menatap ke arah Nony dengan seksama, tanpa senyum. Nonypun demikian. Beberapa saat, keduanya bertatapan dalam diam.
“Jadi...” “Itu yang harus kuceritakan biar kamu tahu.” Kalimat Billy langsung dipotong. Nonypun berkisah.
***
Dua tahun lalu saat sedang mempersiapkan dirinya untuk masuk perguruan tinggi, sebuah prahara rumah tangga keluarga Nony terjadi. Tak pernah terbayangkan olehnya situasinya menjadi parah seperti itu.
Pertengkaran ayah dan ibunya didepan dia, membuat dia tak percaya. Karena selama ini, sebagai anak tunggal, perhatian yang didapatkan dari ke dua orang tuanya dirasakan sangat sempurna. Hubungan mereka pun baik-baik adanya. Permasalahan yang timbul selalu didiskusikan di meja makan untuk mendapat jalan keluarnya.
Tapi, Senin pagi saat itu, akal sehat tak lagi dipakai. Masing-masing dengan suara yang meninggi, tidak saling mendengarkan. Nony hanya bisa menangis memeluk kedua kaki ibunya. Tapi itupun tidak menyurutkan pertengkaran. Kalimat terakhir yang dia dengar, seperti meruntuhkan atap rumah mewah di tengah kota itu.
“Lebih baik bercerai. Aku sudah tidak kuat menanggung semua ini.” kata ibunya sambil menangis. Butiran air mata ibunya menetes dan jatuh ke lantai. Sementara pelukan Nony dikaki ibunya semakin kuat. Nonypun menangis sejadi-jadinya hingga tertidur diatas kedua kaki ibunya.
Nony baru sadar beberapa jam kemudian disebuah ruang UGD di rumah sakit dikota itu. Air matanya belum mengering. Ditemani sang bunda disampingnya, Nony tak banyak bicara. Yang membuat ibunya bingung, kadang Nony tersenyum dan tertawa sendiri. Dokter yang memeriksanya belum memberikan penjelasan tentang sakit yang diderita putri semata wayangnya. Tapi sebagai seorang ibu, naluri keibuannya mengatakan bahwa anaknya mengalami depressi.
Jam pun berlalu. Dokter yang memeriksa sang putrinya pun sudah ada dikamar rawat Nony.
“Bu, putri ibu mengalami depresi berat. Saya sarankan agar putri ibu dibawah ke rumah sakit jiwa. Tapi mala mini biar putri ibu istirahat aja disini dulu. Nanti aku kasih obat penenang” Dokter menjelaskan hasil diagnosanya pada wanita yang bermata sembab disampingnya. Ibu yang masih kelihatan cantik ini, nampak biasa-biasa saja setelah mendengar penjelasan dokter, karena ia sudah memperkirakan sebelumnya. Ia menganggukan kepalanya setelah mendengar saran dari dokter.
Esok paginya setelah menyelesaikan administrasi, ambulance rumah sakit mengantar ibu dan Nony ke rumah sakit jiwa seperti yang disarankan dokter. Berada di sebuah daerah pegunungan, tidaklah membuat rumah sakit ini sepih pengunjung ditambah dengan para penghuninya yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.