Rabu, 10 Juni 2026

Ayah

KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya,...

Tayang:

Cerpen Jose Wassa

KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya, bercengkerama bersama, tertawa riang, dan menggauli waktu dengan penuh suka cita.

Anakku terlihat begitu bersemangat, akupun larut didalamnya. Sorot  mata anakku  memancarkan  kebahagiaan yang tak terkira dan dari caranya menatapku dapat kurasakan bahwa ia pun sangat menyayangi serta menghormatiku sebagai ayahnya. Aku merasa bangga menjadi seorang ayah.

Ketika anakku memelukku kurasakan ada kekuatan yang maha dashyat yang begitu lembut namun memiliki efek yang memancarkan kedamaian teramat sangat. Ketika anakku melompat kegirangan dengan  tawa yang lepas kurasakan betapa indahnya dunia ini. Beban juga penat rutinitas kehidupan seketika sirna tak berbekas. Tak terasa sedikitpun lelah.

Justru   Aku merasa hebat sebagai seorang ayah.
“ Sebelum tidur harus sembayang dulu,” pintaku padanya.
“ Kenapa harus sembayang?,” Tanya anakku.

“ Ia biar Tuhan jaga kita”, jawabku.

“ Tuhan tolong jaga papa, mama, opa, oma, semua -muanya amin,” doa anakku singkat.

“ Pa….besok main lagi ya.” Pinta anakku.

“Iya” jawabku sambil mengangukkan kepala tanda setuju.
Anakku lalu memelukku erat sembari mendengar dongeng dari mulutku dan tak berapa lama kemudian ia tertidur pulas disisiku.

Kucium keningnya dan kubisikkan aku mencintaimu  nak! Kutatap sekujur tubuhnya yang mulai bertumbuh dan pasti cepat atau lambat ia akan beranjak dewasa. Raut wajahnya tampak kelelahan setelah sehari penuh bermain bersamaku.Terselip namanya dalam doaku.

***

Siang hari saat mentari begitu bercahaya memancarkan panas yang menyengat. Di depan beranda rumah kulepas lelah sembari menikmati es teh karya istriku.
“Pa ayo,” pintanya.

“Nanti sa klo papa libur lagi kayak kemarin”.

“Sekarang sa… mari su,”pintanya dengan nada memohon.

“ Sekarang papa lagi sibuk  nanti sa e,”

“Nanti kapan pa?”

“Nanti kalau papa tidak sibuk ok,” tandasku.

Wajahnya mengguratkan kekecewaan karena aku tak menemaninya bermain seperti kemarin. Ia pun bergegas meninggalkanku seakan mencoba memaklumi dan memaafkan keadaanku yang saat ini tak bisa menemaninya bermain. Aku mengikuti langkahnya dengan mataku, merasakan kekecewaan darinya. Kaki mungilnya yang menggemaskan melangkah menjauh dariku seakan menamparku dengan dosa berat karena menolaknya.  Dan seketika terlintas masa kecilku saat masih seusianya.

Pikiranku melayang tak karuan. Perasaan  ini mengajakku berkelana ke masa silam. Masa dimana aku begitu marah  pada keadaan karena aku tak memiliki ayah. Sosok ayah mendadak penuhi ruang batinku. Masa kecilku tidak seperti anakku. Tak sadar aku meneteskan air mata kerinduan akan sosok ayahku yang telah lama pergi meninggalkan aku dan ibu disaat diriku sebenarnya masih membutuhkan kasih sayangnya.

Teringat kembali dulu saat melihat teman sebayaku bergelayut mesra di gendongan ayahnya lalu bertanya padaku dimana ayahmu?? saat itu bibirku terkunci tak mampu memberi jawaban hanya bisa diam lalu pergi begitu saja meninggalkannya. Aku juga masih ingat saat dimana banyak orang iba padaku bahkan banyak juga orang yang melecehkanku hanya karena aku tak memiliki ayah. Aku juga pernah menangis di pangkuan ibuku dan menyalahkan ayah yang meninggal begitu cepat. 

Pernah pula aku berontak tidak terima dengan keadaan dimana banyak orang menghina dan menyepelekan  kami hanya karena ibuku seorang janda dan aku anak yatim. Tapi semua itu ditanggapi ibu dengan tenang sembari mengatakan padaku  untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan tahu mana yang terbaik. Itulah yang selalu diucapkan ibuku.

“Bagaimana rasanya punya ayah?,” batinku.

“Ayah mengapa kau tinggalkan aku?”

Kupejamkan mata dan kubiarkan imajinasi bermain-main dalam diriku membayangkan sosok ayahku. Ayah bagiku adalah ibuku. Imajinasiku tetap tak mampu menghadirkan sosok ayahku. Bilik hatiku tak mampu  menterjemahkan  rasanya memiliki seorang ayah sesungguhnya.

Mungkin karena aku terlalu kecil untuk sekedar mengenal ayahku  saat meninggalkan dunia. Saat itu usiaku masih 1 tahun. Tak cukup waktu bagiku untuk mengenal sosok ayahku. Rupa ayahku pun kutahu hanya karena beberapa foto ayah yang masih disimpan ibu.

Dari foto-foto yang kulihat guratan wajahnya ada sebagian di wajahku.  Semua tentang ayah kutahu dari cerita ibu serta orang-orang dekat yang mengenal ayah. Apa yang mereka katakan itulah yang menjadi peganganku tentang sosok ayahku.  Hati kecilku berbisik lirih tentang sabda kerinduan akan ayah.

***

Langit biru diatas sana seolah melemparkan senyum padaku. Semilir angin senja  seakan  memeluk  aku dalam keteduhan. Rumput-rumput liar terus bergoyang mengikuti irama alunan angin yang meliuk girang. Kupu-kupu yang saling berkejaran meliuk diantara bunga-bunga liar. Laju kakiku terus menyusuri jalanan tanah berbatu ini.

Bunga kamboja yang berjatuhan di tanah seakan menuntunku  menuju tempat bersemayam terakhir ayahku. Pekuburan Maupoli seperti mempersilahkan diriku untuk segera melangkah  menuju makam ayahku sekalipun dengan susah payah karena begitu banyaknya kuburan yang berhimpit satu sama lain.  Istri dan anakku yang berjalan mengikuti dibelakangku seakan turut merasakan kerinduan yang kurasakan. Mereka seperti memahami kerinduanku dengan membiarkan aku mendahului mereka. Langkahku tergopo-gopo seiring kerinduan yang bergemuruh di dadaku.

Tak lagi kuhiraukan sekumpulan orang -orang iseng yang sedang asyik tertawa riang menikmati Sopi diatas kuburan orang. Tak kugubris mereka saat mereka meminta uang untuk alasan  keamanan.

Persetan dengan mereka orang -orang tak berguna yang tak pernah mau berusaha selain memaksa dengan cara-cara tak terpuji. Orang -orang yang berlindung di dalam jubah kemiskinan tanpa mau berusaha keluar dari lembah kemelaratan. Russaak kuburan ayahku oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Ulah orang -orang gila yang seharusnya dipanggang di dasar neraka. Kondisi yang sangat memprihatinkan. Heran orang-orang ini begitu percaya diri dengan kelakuan busuk mereka.

Didepan pusara ayahku  keheningan  membawaku  khusuk berdoa kepada Sang Khalik.  Doa dari seorang anak untuk ayahnya. Kuyakin diatas sana ayah  telah berbahagia bersama-NYA dan menjadi pendoa bagi kami yang masih berziarah di dunia ini. Ayah… maafkan aku anakmu yang masih selalu menggugat kehadiranmu didalam hidupku.  

Lilin-liin kecil tampak meleleh pelan seperti tetesan airmataku yang terus mengguyur pelan wajahku. Bunga rampai dalam  genggaman  tanganku kutaburi diatas pusara ayahku. Lalu kucium pusara itu dan semerbak aroma mewangi menyebar di sekitarku. Kekuatan hatiku berkata pelan setengah berbisik
 “ Ayah sekalipun  mungkin aku  tak begitu mengenalmu, tetapi aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun “.

(Dedicated to my lovely Father  in heaven)

“Oooo, aku ingat sekarang. Tentang seseorang ditaman kota itu kan? Bill,  bukan kemarin sore aja, aku sama dia ditaman kota. Seminggu kami biasa ke tempat itu, tiga kali dan udah berlangsung enam bulan ini.”

Billy tercengang mendengarkan kalimat terakhir Nony. Kali ini Billy membalikan badan dan menatap ke arah Nony dengan seksama, tanpa senyum. Nonypun demikian. Beberapa saat, keduanya bertatapan dalam diam.
“Jadi...” “Itu yang harus kuceritakan biar kamu tahu.”  Kalimat Billy langsung dipotong. Nonypun berkisah.

***

Dua tahun lalu saat sedang mempersiapkan dirinya untuk masuk perguruan tinggi, sebuah prahara rumah tangga keluarga Nony terjadi. Tak pernah terbayangkan olehnya situasinya menjadi parah seperti itu.

Pertengkaran ayah dan ibunya didepan dia, membuat dia tak percaya. Karena selama ini, sebagai anak tunggal, perhatian yang didapatkan dari ke dua orang tuanya dirasakan sangat sempurna. Hubungan mereka pun baik-baik adanya. Permasalahan yang timbul selalu didiskusikan di meja makan untuk mendapat jalan keluarnya.

Tapi, Senin pagi saat itu, akal sehat tak lagi dipakai. Masing-masing dengan suara yang meninggi, tidak saling mendengarkan. Nony hanya bisa menangis memeluk kedua kaki ibunya. Tapi itupun tidak menyurutkan pertengkaran. Kalimat terakhir yang dia dengar, seperti meruntuhkan atap rumah mewah di tengah kota itu.

“Lebih baik bercerai. Aku sudah tidak kuat menanggung semua ini.” kata ibunya sambil menangis. Butiran air mata ibunya menetes dan jatuh ke lantai. Sementara pelukan Nony dikaki ibunya semakin kuat. Nonypun menangis sejadi-jadinya hingga tertidur diatas kedua kaki ibunya.

Nony baru sadar beberapa jam kemudian disebuah ruang UGD di rumah sakit dikota itu. Air matanya belum mengering. Ditemani sang bunda disampingnya, Nony tak banyak bicara. Yang membuat ibunya bingung, kadang Nony tersenyum dan tertawa sendiri. Dokter yang memeriksanya belum memberikan penjelasan tentang sakit yang diderita putri semata wayangnya. Tapi sebagai seorang ibu, naluri keibuannya mengatakan bahwa anaknya mengalami depressi.

Jam pun berlalu. Dokter yang memeriksa sang putrinya pun sudah ada dikamar rawat Nony.

“Bu, putri  ibu  mengalami depresi berat. Saya sarankan agar putri ibu dibawah ke rumah sakit jiwa. Tapi mala mini biar putri ibu istirahat aja disini dulu. Nanti aku kasih obat penenang” Dokter menjelaskan hasil diagnosanya pada wanita yang bermata sembab disampingnya.  Ibu yang masih kelihatan cantik ini, nampak biasa-biasa saja setelah mendengar penjelasan dokter, karena ia sudah memperkirakan sebelumnya. Ia menganggukan kepalanya setelah mendengar saran dari dokter.  

Esok paginya setelah menyelesaikan administrasi, ambulance rumah sakit mengantar ibu dan Nony ke rumah sakit jiwa seperti yang disarankan dokter. Berada di sebuah daerah pegunungan, tidaklah membuat rumah sakit ini sepih pengunjung ditambah dengan para penghuninya yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

Nony dan ibunya pun diterima dua petugas diteras depan. Sejak pagi itu Nony secara resmi jadi penghuni rumah sakit jiwa. Didepan dokter kepala, sang ibu menitipkan putrinya, dengan harapan Nony bisa sehat seperti sebelumnya. Sang ibu pun kembali tapi tidak ke rumah mewah mereka. Ia kembali ke rumah orang tuanya, sambil menunggu proses pengadilan lebih lanjut.

Waktupun bergulir dan berlalu. Berlalu meninggalkan berbagai kenangan pahit dan manis yang dialami Nony dan Ibunya. Tanpa disadarinya, dua tahun tahun sudah putri semata wayangnya berada di rumah sakit jiwa. Ia masih ingat pesan dokter untuk datang menjenguk putrinya pada tahun yang kedua. Berbekalkan pesan itu, sang ibu pagi itu menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk dibawah.

Dengan menumpang sebuah angkutan pedesaan, dengan wajah berbinar dan rasa rindu untuk ketemu dengan putri semata wayangnya, sang ibu ingin cepat-cepat tiba dirumah sakit. Sesampainya dipintu gerbang rumah sakit, ia disambut dengan ramah oleh seorang satpam.

“Permisi pa..Mau ketemu dokter kepala, boleh ya?”

“Silahkan bu. Nanti diantar sama petugas yang lain.”

“Makasih pa.”

Dari sebuah taman bunga didepan rumah sakit, terdengar  suara yang sangat dikenal.

“Mamaaaaaaaaaa....”    

                                       
“Nonyiiiiiiiiiiiii....”

Tak butuh waktu lebih lama sang ibu pun menghampiri pemilik suara itu. Dipeluk dan diciumnya berulang-ulang menumpahkan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Tak dihiraukannya beberapa pasien dan petugas kebersihan yang berada disekitarnya. Mereka membiarkan adegan itu berjalan beberapa menit, sebelum seorang petugas datang dan memanggil  sang ibu untuk menemui dokter kepala. Sang ibupun bergegas menemui dokter sedangkan Nony kembali melanjutkan pekerjaannya ditaman.

“Mat siang, dok.”

“Mat siang juga bu. Silahkan duduk. Ibu sudah ketemu sama Nony kan?. Seperti yang ibu lihat sendiri, Nony sudah sehat. Keinginan untuk cepat sembuh sangat besar.

Saya sangat bangga dengan hal ini, selain apa yang sudah kami berikan di rumah sakit ini. Nony bisa pulang hari ini juga, tapi saya sarankan untuk tidak kembali ke rumah dulu, sebaiknya ke rumah nenek, biar dia tidak terbawa dengan situasi rumah. Dan Nony selalu harus ditemani. Biasakan untuk ajak Nony  jalan-jalan ke mana aja, pokoknya ada tempat yang bisa membangkitkan kegairahannya kembali untuk maju. Dan kalau itu dijalankan dengan baik, enam bulan Nony sudah kembali menemukan dunianya. 

“ Dokter kepala memberikan beberapa saran untuk dilakukan.
Setelah pertemuan itu, dokter kepala memanggil Nony. Diberitahukan niat ibunya untuk menjemputnya kembali. Nony tertunduk. Terbayang kebersamaan yang sangat indah, yang sudah tercipta diantara para penghuninya. Keramahan dan ketelaten para perawatnya melayani semua pasien dengan berbagai karakternya masing-masing.

Tapi mau tidak mau Nony harus bisa menjalankan kehidupannya sendiri seperti sebelumnya. Jabatan tangan dan saling ciuman diantara mereka terjadi. Para perawat dan semua karyawan memberikan ciuman. Sebuah pertanda dukungan terhadap kehidupan Nony bersama keluarga. Nony dan ibunya  diantar ke gerbang depan rumah sakit. Angkutan pedesaan itupun pergi dan  meninggalkan sejuta cerita yang ada dalam rumah sakit itu.

Tiba disebuah rumah sederhana opa dan oma Nony sudah menunggu digerbang. Nony disambut dengan ciuman dan air mata kebahagiaan. Ibu Nony sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk putri tercintanya. Namun sesuai pesan dokter kepala, ia harus menemani Nony, sehingga ia harus sekamar dengan putrinya. Nony, ibu dan kedua orang tua ibu menjalani sebuah kehidupan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah perbedaan kehidupan yang sangat kontras yang pernah Nony jalani sebelumnya. 

Beberapa hari menjalani kehidupan di rumah yang baru, ibu Nony belum sempat mengajak Nony jalan-jalan. Sebuah terapi yang harus Nony jalankan. Untunglah, sewaktu Nony masih di rumah sakit, seorang kerabatnya memperkenalkan seorang pembimbing spiritual yang cukup terkenal di kota tetangga. Ibu Nony menghubunginya.

Sore harinya, Tian, pembimbing spiritual tiba. Sesuai kesepakatan dengan ibu Nony, semua proses therapy mengikuti jadwal yang sudah disiapkan Tian, yakni dalam satu minggu, tiga hari sekali, Nony harus dibawah ke tempat-tempat yang dianggap mampu membangkitkan gairah Nony, diantaranya ditaman kota. Proses itu mulai dijalankan hari berikutnya, hingga enam bulan ke depan.

***

Billy hanya menatap kosong kearah danau sambil sesekali menghela napas mendengar  Nony menyelesaikan ceritanya. Berbeda dengan Nony, matanya berkaca-kaca. Butir demi butir air mata itu akhirnya jatuh dan ia rebah ke bahu Billy.
“Semua kita pasti punya masa lalu.

Ada yang indah namun ada pula yang sangat getir. Keindahan masa lalu tetap akan menjadi kenangan manis, apabila pengalaman itu tidak bisa dibawah dalam sebuah kondisi pada masa depan. Banyak orang hanya bisa membanggakan masa lalu, tapi tidak  berupaya untuk menghadirkan apa yang sudah dilalui. Sementara, ada juga pengalaman pahit yang dilewati dijadikan sebagai suluh dalam menatap ke sebuah masa depan. Kekuatan untuk merubah tergantung dari pribadi masing-masing orang. Dan kamu satu diantaranya, Non. Aku bangga.”

Nony tak menjawab sepatah katapun. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Tak terlihat lagi butiran air mata yang jatuh. Tangannya memeluk erat Bily. Semakin lama semakin keras seakan tidak ingin melepaskannya. Billy hanya pasrah. Sementara dari kejauhan, ditengah danau, dua burung elang terbang merendah dan bermain diatas permukaan air. Sebuah suasana romantis yang tercipta diantara sepasang makhluk hidup yang berbeda. 

Sebelum kembali, Billy membisikan sebuah kata. “Non, I love you.” Billy berjanji untuk menjaga ketulusan sebuah hati yang telah  mengajarkan  makna hidup yang tak ternilai baginya. Dedaunan pohon yang bergoyang diterpa semilir angin dari arah danau, turut melambai mengucapkan selamat jalan pada Billy dan Nony yang perlahan menaiki anak tangga menuju tempat titipan kendaraan..

(Cerita ini adalah fiksi semata. Apabila ada nama, tempat dan kejadian yang sama, semua itu hanya sebuah kebetulan semata)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved