Ayah
KEMARIN kulukis hari penuh bahagia. Tawa ceria serta eratnya kebersamaan menjadi warna yang mewarnai hariku. Menelusuri setiap detik tanpa lelah hingga malam menjelang. Kami bermain sepuasnya,...
“Nanti kapan pa?”
“Nanti kalau papa tidak sibuk ok,” tandasku.
Wajahnya mengguratkan kekecewaan karena aku tak menemaninya bermain seperti kemarin. Ia pun bergegas meninggalkanku seakan mencoba memaklumi dan memaafkan keadaanku yang saat ini tak bisa menemaninya bermain. Aku mengikuti langkahnya dengan mataku, merasakan kekecewaan darinya. Kaki mungilnya yang menggemaskan melangkah menjauh dariku seakan menamparku dengan dosa berat karena menolaknya. Dan seketika terlintas masa kecilku saat masih seusianya.
Pikiranku melayang tak karuan. Perasaan ini mengajakku berkelana ke masa silam. Masa dimana aku begitu marah pada keadaan karena aku tak memiliki ayah. Sosok ayah mendadak penuhi ruang batinku. Masa kecilku tidak seperti anakku. Tak sadar aku meneteskan air mata kerinduan akan sosok ayahku yang telah lama pergi meninggalkan aku dan ibu disaat diriku sebenarnya masih membutuhkan kasih sayangnya.
Teringat kembali dulu saat melihat teman sebayaku bergelayut mesra di gendongan ayahnya lalu bertanya padaku dimana ayahmu?? saat itu bibirku terkunci tak mampu memberi jawaban hanya bisa diam lalu pergi begitu saja meninggalkannya. Aku juga masih ingat saat dimana banyak orang iba padaku bahkan banyak juga orang yang melecehkanku hanya karena aku tak memiliki ayah. Aku juga pernah menangis di pangkuan ibuku dan menyalahkan ayah yang meninggal begitu cepat.
Pernah pula aku berontak tidak terima dengan keadaan dimana banyak orang menghina dan menyepelekan kami hanya karena ibuku seorang janda dan aku anak yatim. Tapi semua itu ditanggapi ibu dengan tenang sembari mengatakan padaku untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan tahu mana yang terbaik. Itulah yang selalu diucapkan ibuku.
“Bagaimana rasanya punya ayah?,” batinku.
“Ayah mengapa kau tinggalkan aku?”
Kupejamkan mata dan kubiarkan imajinasi bermain-main dalam diriku membayangkan sosok ayahku. Ayah bagiku adalah ibuku. Imajinasiku tetap tak mampu menghadirkan sosok ayahku. Bilik hatiku tak mampu menterjemahkan rasanya memiliki seorang ayah sesungguhnya.
Mungkin karena aku terlalu kecil untuk sekedar mengenal ayahku saat meninggalkan dunia. Saat itu usiaku masih 1 tahun. Tak cukup waktu bagiku untuk mengenal sosok ayahku. Rupa ayahku pun kutahu hanya karena beberapa foto ayah yang masih disimpan ibu.
Dari foto-foto yang kulihat guratan wajahnya ada sebagian di wajahku. Semua tentang ayah kutahu dari cerita ibu serta orang-orang dekat yang mengenal ayah. Apa yang mereka katakan itulah yang menjadi peganganku tentang sosok ayahku. Hati kecilku berbisik lirih tentang sabda kerinduan akan ayah.
***
Langit biru diatas sana seolah melemparkan senyum padaku. Semilir angin senja seakan memeluk aku dalam keteduhan. Rumput-rumput liar terus bergoyang mengikuti irama alunan angin yang meliuk girang. Kupu-kupu yang saling berkejaran meliuk diantara bunga-bunga liar. Laju kakiku terus menyusuri jalanan tanah berbatu ini.
Bunga kamboja yang berjatuhan di tanah seakan menuntunku menuju tempat bersemayam terakhir ayahku. Pekuburan Maupoli seperti mempersilahkan diriku untuk segera melangkah menuju makam ayahku sekalipun dengan susah payah karena begitu banyaknya kuburan yang berhimpit satu sama lain. Istri dan anakku yang berjalan mengikuti dibelakangku seakan turut merasakan kerinduan yang kurasakan. Mereka seperti memahami kerinduanku dengan membiarkan aku mendahului mereka. Langkahku tergopo-gopo seiring kerinduan yang bergemuruh di dadaku.
Tak lagi kuhiraukan sekumpulan orang -orang iseng yang sedang asyik tertawa riang menikmati Sopi diatas kuburan orang. Tak kugubris mereka saat mereka meminta uang untuk alasan keamanan.