Selasa, 19 Mei 2026

TTU Terkini

Mengawal Pangan di Tanah Pengungsian 

Puluhan tahun masyarakat di Desa Ponu berada dalam cengkraman tengkulak. Harga beras yang dijual sangat menyedihkan.

Tayang:
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON
KUNJUNGI - Direktur Pengadaan Perum Bulog bersama Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah NTT dan Pemimpin Bulog Cabang Atambua dan jajaran saat mengunjungi lahan produktif milik warga di Kabupaten TTU, Selasa, 5 Mei 2026. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Lengan Yanuarius Molo (41) menyeka keringat yang menetes di dahinya. Guratan tanah bercampur keringat membekas di wajah pria itu.

Istrinya, Yohana Kolo (40) sedang memasak di gubuk kecil yang dibangun tepat di pinggir pematang sawah itu. Asap kayu api dari tungku batu melata di atap gewang gubuk itu dan hilang disapu bayu.

Yanuarius mempercepat gerakan tangan menebar pupuk di atas lahan seluas 2 hektare. Di langit, mega berarak pelan mendekap setengah matahari. Lahan sawah tersebut digarap lagi setelah absen pada tahun sebelumnya.

Bersama istri dan 3 orang anaknya, Yanuarius berdomisili di SP2 Blok D, tepatnya di RT 018, RW 007, Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lahan sawah terletak tidak jauh dari pemukiman mereka.

Baca juga: Polsek Biboki Anleu Tahap II Perkara Dugaan Penganiayaan di Desa Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara 

Yanuarius merupakan salah satu warga yang mengungsi ke Indonesia pada tahun 1999 sejak Provinsi Timor Timur (nama wilayah ketika masih menjadi bagian dari Negara Indonesia) memisahkan diri dari Negara Indonesia. Mayoritas masyarakat yang berdomisili di wilayah itu merupakan warga transmigran dan juga warga yang mengungsi dari Timor Leste setelah memutuskan menjadi Warga Negara Indonesia. 

"Tahun ini baru selesai masa tanam, kami biasanya tanam sekitar akhir Desember atau Bulan Januari," ujarnya membuka percakapan siang itu, Sabtu, 28 Maret 2026 lalu.

Pada tahun 2024, Yanuarius memperoleh pendapatan Rp. 36.000.000 dari hasil penjualan 3 ton beras. Pada tahun 2025 ia memperoleh pendapatan Rp. 12.000.000 dari hasil penjualan sebanyak 1 ton.

Biaya yang dibutuhkan untuk mengolah lahan pertanian seluas 1 hektare minimal Rp. 15.000.000. Pada tahun 2025 lalu, Yanuarius memanen sebanyak 2, 8 ton beras di atas lahan seluas 30 are. 

Hasil Panen Dijual ke Tengkulak 

 

Sebelumnya, hasil panen petani di desa itu dijual ke tengkulak. Mirisnya, harga beras yang dijual ke tangan tengkulak berkisar Rp. 8.000 per kilogram. 

Masyarakat menjual gabah ke tengkulak dengan harga Rp. 5.000 per kilogram. Harga tersebut tidak sesuai dengan harga sebenarnya.

Harga yang mencekik ini menyebabkan petani di Desa Ponu biasa menjual kepada tengkulak yang membeli dengan harga yang cukup baik di Kota Atambua (Ibukota Kabupaten Belu) dan Kota Kefamenanu (Ibukota Kabupaten TTU). Mereka terpaksa menempuh perjalanan sejauh 36 kilometer sampai 75 kilometer untuk menjual beras dengan harga baik.

Puluhan tahun masyarakat di Desa Ponu berada dalam cengkraman tengkulak. Harga beras yang dijual sangat menyedihkan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved