Jumat, 12 Juni 2026

Wawancara Eksklusif

AWK Sebut NTT Sebagai Nusa Ternak Terintegrasi 

Hari ini dengan pemerintah provinsi saya sudah membangun komunikasi, sampai kita harus benahi beberapa level kalau ini mau diseriusi. 

Tayang:
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
PODCAST POS KUPANG - Wakil Ketua Komite II DPD RI dan Penggagas Gerakan Senator Inseminator, Angelo Wake Kako bersama host jurnalis Pos Kupang, Ryan Nong dalam Podcast Pos Kupang, Kamis, 11/06/2026. 

Kenapa? Jawa saya keliling sebagai inseminator, minta maaf, orang pelihara sapi di Jawa seperti orang pelihara babi di NTT. 

Sapi di belakang rumah karena tidak ada lahan, sementara kita di NTT punya sabana yang begitu luas dan kosong. 

Sabana kita luas tapi sabana yang hanya rumput. Karena saking kosongnya, sorry to say, pemerintah pusat datang untuk membangun yang namanya tambak udang karena kita tidak ada tawaran. Di Sumba hari ini kan, karena kita tidak menawarkan sapi, yang dikasih, udang, fakta. 

Hari ini dengan pemerintah provinsi saya sudah membangun komunikasi, sampai kita harus benahi beberapa level kalau ini mau diseriusi. 

Yang pertama, tadi populasi sapi potong. Populasi sapi perah, saya sudah keliling satu NTT, mungkin saya salah nanti bisa dikoreksi, atau ada teman-teman yang tahu informasi sapi perah di pelosok NTT, kasih tahu ke saya. 

Saya sudah keliling, kita hanya punya 14 ekor sekarang. Dua ekor di Novisiat Claret Benlutu, lima ekor di Labur, teman-teman di Belu pasti tahu, saya sudah minum susunya juga di sana kemarin, tujuh ekor di Nenuk, di biara. Ini semua punya biara di Timor, hanya punya 14 ekor sapi perah sementara kalau kita bicara kebutuhan susu sapi, bisa dicek datanya, untuk mencapai swasembada susu, kita butuh 2 juta populasi sapi perah. Indonesia hari ini hanya punya 400 ribu lebih. 

Gapnya lumayan besar. Dimana wilayah yang harus kita mainkan? Benlutu ke atas, ke Timor, di Mutis di Eban sana, Detusoko sampai Moni, mulai dari Bajawa, Boawae ke sana, Ruteng dan sekitarnya. 

15-20 tahun lalu barang itu masih kita nikmati. Di Mataloko itu dulu di Seminari ada sapi perah. Di Ruteng, di Katedral itu ada sapi perah orang minum susu, tapi setelah SVD hilang ya hari ini kita seperti itu. 

Ini tantangan kita bagaimana untuk bergerak dan yang paling penting, setelah saya teropong juga di daerah, keperpihakan pemerintah daerah kita masih kurang khususnya di level kabupaten/kota. 

Masih banyak peternakan itu yang masuk bidang pertanian. Peternakan itu tidak menjadi dinas, dia menjadi bidang di Dinas Pertanian. 


Itu salahnya di man Bung? 


Itu kan anggaran nanti. Kalau bidang kan anggarannya pasti sedikit. Itu kan ketahuan bupatinya berpihak tidak soal peternakan. Itu tidak bisa dibohongi. Kalau dia menaruh itu menjadi dinas, uangnya pasti lebih banyak, yang berikut fasilitas dan lain-lain pasti digerakkan untuk itu.

Ini tantangan kita tapi bagi saya semoga gerakan ini membangkitkan semangat karena temuan saya, kami punya grup, siapa yang mau bergabung, yang mau sapinya diinseminasi dan kita kasih inseminasi gratis asalkan dia masuk di grup dan mengisi form. Kenapa isi form?

Kita sebelum inseminasi, sapinya harus ditelusuri. Banyak dokter hewan yang sekarang bergabung dengan kita, banyak inseminator, saya satu bulan lalu di TTS, belasan inseminator datang ketemu, ngobrol dan ternyata inseminator kita itu rindu untuk kejayaan sapi.


Bagaimana anda melihat potensi kita di NTT? Kita bisa menyumbang berapa? 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved