Liputan Khusus
LIPSUS: Warga Heran NTT Tanpa LPG Subdisi, Harga LPG Nonsubsidi Sudah Tidak Wajar
PT Pertamina Patra Niaga secara resmi menetapkan tarif terbaru untuk produk liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg.
Kondisi tersebut membuat As’ad terbebani dan dilema. Pasalnya kenaikan itu di luar kemampuan mereka. Bersama istrinya, ia pun saat ini mempertimbangkan untuk menaikkan harga menu makanan yang dijualnya.
Menu nasi bebek goreng bumbu hitam misalnya, saat ini harganya Rp35.000 kemungkinan ia naikkan menjadi Rp40.000. Begitu juga nasi ayam kampung goreng, nasi ayam pedaging goreng, nasi ayam rica-rica dan minumannya. “Ya pasti naik,” ujarnya.
Sementara itu, Nurul, pemilik Warung Lalapan 99, lebih memilih menahan rasa kesalnya terhadap kenaikan LPG. Dia tidak berani menaikkan harga menu makanan karena takut pelanggan berpindah. “Biar untung sedikit. Kalau naikkan harga mana mau orang-orang. Ya sabar saja,” ujarnya.
Para pelaku usaha di Atambua, Kabupaten Belu mengaku kenaikkan harga LPG kian memberatkan. Di daerah perbatasan Indonesia – Timor Leste tersebut, harga elpiji 12 kilogram tembus Rp330 ribu hingga Rp340 ribu per tabung.
Pelaku UMKM, Veronica Puji Novita Sari, pemilik usaha Ayola Makan, mengaku harus membeli elpiji 12 kilogram dengan harga Rp340 ribu per tabung, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Ia juga mengaku sempat mengalami kekosongan stok elpiji, sehingga terpaksa beralih menggunakan minyak tanah sebagai alternatif agar usaha tetap berjalan. “Kalau stok habis, kita terpaksa pakai minyak tanah supaya tetap bisa produksi,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan elpiji, sehingga tidak semakin menekan pelaku usaha kecil.
Fatmawati, seorang pengecer LPG di wilayah Kabupaten Kupang mengungkapkan kenaikan harga tersebut sangat berdampak pada aktivitas penjualan. “Sekarang saya jual Rp340 ribu bahkan Rp345 ribu per tabung 12 kilo. Sebelumnya kami ambil dari agen itu masih di kisaran Rp260 ribu sampai Rp280 ribu,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan harga ini membuat daya beli masyarakat menurun. Sejumlah warga juga mulai mengeluhkan mahalnya harga LPG yang dinilai semakin memberatkan kebutuhan rumah tangga.
Harga Tidak Wajar
Warga Kelurahan, Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU, Antonius Ruron mengeluhkan kenaikan harga LPG yang dinilai tidak wajar. Kenaikan harga elpiji tersebut memaksa mereka harus mengeluarkan anggaran tambahan yang tidak pernah diprediksi sebelumnya.
Antonius tidak setuju dengan kenaikan harga elpiji tersebut. Saat ini harga elpiji di Kota Kefamenanu mencapai Rp. 330.000. Sebelumnya, harga elpiji 12 kilogram dibeli dengan harga Rp. 260.000. "Itu saja, saya beli sejak akhir Februari 2026 lalu. Kemungkinan harganya naik lagi," ujarnya, Rabu (22/4).
Pada Bulan Desember 2025 lalu, harga elpiji 12 kilogram masih berkisar Rp. 260.000. Harga tersebut dinilai masih berada pada titik wajar. Belum lagi adanya kelangkaan di TTU. "Kalau beli ke distributor mereka bilang stok menipis jadi harganya naik," ungkapnya.
Di Kabupaten TTU lanjutnya, nyaris tidak ada elpiji ukuran 5 kilogram. Oleh karena itu, mereka terpaksa membeli elpiji 12 kilogram.
Warga Kelurahan Nonohonis, Kecamatan Kota Soe, Rey Natonis, mengeluhkan kenaikan harga LPG. Kenaikan yang dirasakan sejak tiga bulan terakhir sangat dirasakannya.
| LIPSUS: Sopir Truk Protes Pembatasan BBM, Gugat Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2023 |
|
|---|
| LIPSUS: Pertamax di Amfoang Tembus Rp 25.000 Per Liter, Ratusan Massa Demo di Kantor Gubernur NTT |
|
|---|
| LIPSUS: Maria Terpukul Lihat Padi Rata Tanah, Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Malaka |
|
|---|
| LIPSUS: Dokter Spesialis Mogok Kerja, Pasien RSUD Atambua Kecewa |
|
|---|
| LIPSUS: Pembelian BBM 50 Liter Sehari, Kendaraan Antri di SPBU, Dipicu Isu Kenaikan Harga BBM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/LPG-12-kg-naik-harga.jpg)