Editorial
Editorial: Jangan Takut Harga Naik
KEBIASAAN masyarakat Indonesia untuk merayakan hari raya sudah ada sejak lama. Setiap hari raya, entah itu hari kenegaraan, keagamaan
POS-KUPANG.COM, KUPANG - KEBIASAAN masyarakat Indonesia untuk merayakan hari raya sudah ada sejak lama. Setiap hari raya, entah itu hari kenegaraan, keagamaan maupun lainnya selalu dirayakan dengan berbagai acara.
Hal ini berimbas pada kebutuhan terutama dalam rumah tangga yang semakin meningkat. Terutama hari raya keagamaan, kebutuhan akan beragam. Entah itu untuk konsumsi ataupun lainnya, membutuhkan tambahan anggaran.
Sama seperti saat ini, tiga hari raya keagamaan berlangsung berdekatan. Sebentar lagi ada hari raya Nyepi diikuti Idul Fitri dan Paskah. Hari raya keagamaan ini biasanya dirayakan oleh masyarakat.
Hal ini mengakibatkan kebutuhan dalam rumah tangga meningkat. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh pasar. Entah siapa yang memulai, meski pemerintah sudah mengumumkan bahwa stok kebutuhan aman, namun harga tetap naik. Pasar selalu menangkap peluang pendapatan lebih ketika kebutuhan masyarakat meningkat.
Hukum harga pasar (permintaan dan penawaran) menyatakan bahwa harga terbentuk berdasarkan keseimbangan antara jumlah barang yang diminta konsumen dan ditawarkan produsen.
Harga naik saat permintaan tinggi atau pasokan rendah dan turun saat permintaan rendah atau pasokan tinggi. Ini adalah mekanisme alamiah untuk mencapai titik ekuilibrium.
Seperti saat ini, menjelang hari raya Nyepi, Idul Fitri dan Paskah, harga barang di pasaran mulai naik. Bahkan, beberapa kebutuhan dasar seperti minyak tanah, gas dan lainnya mulai langka bahkan naik.
Air kemasan galon misalnya, yang sebelumnya dijual Rp 40 ribu, kini bahkan menyentuh angka Rp 60 ribu. Ini belum termasuk gas ukuran 12 kg yang saat ini sudah Rp 360 ribu dari sebelumnya Rp 270 ribu.
Kenaikan harga pasar secara spontan ini yang terkadang membuat masyarakat panik. Takut tak kebagian atau stok akan habis, ada yang bahkan membeli dalam jumlah banyak.Bahkan ada spekulan-spekulan yang mulai menimbun kebutuhan pokok sebelum hari raya. Perhitungannya, ketika barang mulai langka, mereka akan mengeluarkannya dan menjual dengan harga mahal.
Inilah yang kemudian membuat masyarakat mulai ketakutan. Padahal, menjelang hari raya, pemerintah biasanya sudah melakukan opname pasar. Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma bahkan turun langsung ke dua pasar besar di Kota Kupang untuk mengecek harga. Dan, saat itu tidak ditemukan harga barang yang naik.
Anehnya, ketika masyarakat datang membeli, harga justru sudah berubah. Satgas pangan bentukan pemerintah pun sudah melakukan hal yang sama. Stok dan harga tidak bermasalah. Kebutuhan pasti akan terpenuhi dan harga pun tidak naik,
Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pun sudah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian bahan pokok secara berlebihan atau panic buying. Saat ini ketersediaan stok pangan strategis yang dikelola Bulog dipastikan dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di NTT.
Stok beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersedia di gudang-gudang Bulog masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. Secara nasional, stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikuasai Perum Bulog mencapai sekitar 3,74 juta ton.
Selain itu, Bulog juga terus melakukan langkah-langkah penguatan distribusi guna memastikan pasokan tetap lancar di seluruh wilayah, termasuk di NTT. Bulog juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, distributor, serta pelaku usaha pangan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok di tengah masyarakat.
Namun kenyataan di lapangan, harga kebutuhan pokok tetap naik. Satgas Pangan Polres Belu bersama perwakilan Disperdagin dan Bulog Cabang Atambua misalnya, melakukan inspeksi mendadak di Pasar Baru Atambua, Kabupaten Belu, Senin (2/3).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-ucapan-lebaran-2026-1.jpg)