NTT Terkini
Mereka yang Menanti di Kargo Bandara El Tari Kupang
Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Eflin Rote
"Ambulans semua jejer di depan sini," ucap Penyuluh dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT, Steven Gunawan, memandu, Senin (9/3/2026).
Steven merupakan salah satu petugas BP3MI NTT yang cekatan mengurus setiap jenazah PMI asal NTT yang tiba di Kupang. Dia memastikan peti jenazah diterima dengan baik oleh keluarga.
Di kargo, Steven menjadi jembatan penghubung keluarga korban dengan para petugas di bandara. Dokumen yang harus diteliti ulang hingga menyiapkan kendaraan ambulans.
Steven juga yang akan mengurus jenazah yang melanjutkan penerbangan ke daerah lain di NTT. Setelah semua jenazah di dalam ambulans, Steven menyerahkan semua administrasi kepada masing-masing keluarga.
Pada Senin siang ini, Steven mengurus setidaknya empat jenazah. Selain Martha Tualaka, ada tiga jenazah PMI lainnya yang diterbangkan dalam pesawat yang sama.
Tiga jenazah itu adalah Martinus Beding asal Kabupaten Lembata. Jenazah Martinus baru diberangkatkan beberapa hari lagi karena menunggu jadwal pelayaran Kupang ke Lembata.
Untuk sementara, jenazah dibaringkan di Yayasan Sosial Penyelenggaraan Ilahi Kupang. Martinus meninggal dunia pada 5 Maret lalu akibat gangguan pernapasan. Almarhum tercatat sebagai PMI di BP3MI Kalimantan Utara.
Sementara, jenazah Reni Anakapu (35), asal Sumba Timur akan melanjutkan penerbangan ke Waingapu. Korban meninggal karena trauma pada otak. Ia meninggal dunia di rumah sakit Selangor pada 7 Maret lalu.
Sedangkan, jenazah lainnya Ferdinandus Bria asal Desa Naimana Kabupaten Malaka, langsung melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan ambulans dari kargo Bandara menuju rumah duka. Ia meninggal pada 1 Maret lalu karena infeksi.
Sama seperti Reni dan Martha, Ferdinandus juga PMI asal NTT yang bekerja secara non-prosedural di Malaysia.
"Kami mengucapkan turut berdukacita sedalam-dalamnya bagi keempat keluarga duka. Kita sebagai orang beriman meyakini bahwa empat saudara/saudari kita berada di rumah keabadian," kata Suster Laurentia.
Suster Laurentia mengajak semua keluarga dan petugas untuk berdoa sejenak sebelum jenazah diberangkatkan ke rumah duka. Harapannya agar Tuhan memberi kemudahan dalam setiap perjalanan itu.
Suster Laurentia merupakan pimpinan di Yayasan Sosial Penyelenggaraan Ilahi Kupang. Ia juga dikenal dengan Suster 'kargo'. Wajahnya tidak pernah absen ketika jenazah PMI asal NTT tiba di kargo El Tari Kupang.
Suster Laurentia juga merupakan seorang aktivis dan pegiat HAM di NTT. Dia berharap agar wilayah seperti Kupang dibangun sebuah rumah singgah untuk jenazah PMI asal NTT yang diberangkatkan dari luar daerah.
Dia berkata, pihaknya sering kewalahan menangani jenazah ketika berada di Kupang. Sebab, tempat penitipan jenazah yang ada memerlukan biaya sewa. Setiap jenazah paling kurang harus membayar Rp 140 ribu.
| Mahasiswa Politani Kupang Berbagi Pengalaman Studi dan Magang di Belanda |
|
|---|
| Realisasi Pajak Pemprov NTT hingga April 2026 Sebesar 9 Persen dari Target Rp 1,9 Triliun |
|
|---|
| Komunitas IMof NTT Diberi Penguatan Kapasitas Hak Asasi Manusia |
|
|---|
| Oceania Vista Sandar di Pelabuhan Tenau, Pelindo Dorong Kebangkitan Pariwisata Kupang |
|
|---|
| Kwarda Pramuka NTT Punya Utang Rp 300 Juta, Anggarannya Dipangkas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Andrais-Tualaka-selendang-orange-dan-Zakarias-Tualaka-kanan-sedang-menjemput-jenazah.jpg)