Kamis, 9 April 2026

NTT Terkini

Mereka yang Menanti di Kargo Bandara El Tari Kupang 

Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Andrais Tualaka (selendang orange) dan Zakarias Tualaka (kanan) sedang menjemput jenazah Martha Tualaka di Bandara El Tari Kupang. Martha seorang PMI asal NTT yang meninggal dunia beberapa waktu lalu di Malaysia. Senin, (9/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Menempuh empat jam perjalanan dari pedalaman Timor dari arah Timur, Andrais Tualaka (54) tiba di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Hampir 10 orang menemani Andrais. Mereka menumpang sebuah kendaraan minibus yang disewa khusus menuju ke kargo Bandara El Tari Kupang
  • Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Menempuh empat jam perjalanan dari pedalaman Timor dari arah Timur, Andrais Tualaka (54) tiba di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Hampir 10 orang menemani Andrais. Mereka menumpang sebuah kendaraan minibus yang disewa khusus menuju ke kargo Bandara El Tari Kupang. 

Sekitar pukul 08.00 Wita, mereka sudah tiba. Mereka harus makan ketika dalam perjalanan. 
Sementara pesawat Garuda GA 456 baru akan tiba pukul 10:45 Wita.

Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian. 

Matanya berkaca-kaca. Dia sudah tidak sabar menunggu adiknya, Martha Tualaka (37). Martha diterbangkan dari Malaysia. Setelah tiga jam menunggu, pesawat tiba. 30 menit berlalu, petugas memanggil keluarga untuk menuju pintu utama kargo

Dari arah area landasan pacu, peti jenazah Martha Tualaka ditarik dengan kereta troli. Perlahan mulai mendekat ke pintu kargo. Tangis Andrais pecah melihat adik perempuannya itu sudah terbaring dalam peti. 

"Saya punya adik. Selama ini di Malaysia Barat. Dia meninggal tanggal 1 Maret, pas melahirkan," kata Andrais bercerita. 

Martha telah bekerja lebih dari 10 tahun di Malaysia. Dia meninggal dunia setelah melahirkan anak ketiga di Rumah Sakit setempat pada 1 Maret 2026. Nyawanya tak tertolong. 

Dua anak Martha berada di Amanatun. Suaminya, kini tengah ditahan imigrasi Malaysiakarena visa yang tidak aktif. Anak ketiga Martha kini tengah diasuh kerabat dari 
Dominggus Bau, seorang PMI asal NTT yang tinggal berdekatan dengan Martha di Malaysia

Menurut Andrais, selama ini adik perempuannya itu selalu bertukar kabar. Hampir setiap hari mereka telepon. Tidak ada tanda atau firasat apapun sebelum wafatnya Martha di Negeri Jiran. 

Selama ini almarhumah tidak mengeluh sakit apapun. Bekerja di sebuah kedai makan, Martha rutin mengirim uang untuk dua buah hatinya di kampung. Martha menyampaikan rencananya akan pulang kampung usai melahirkan. 

Baca juga: Empat Jenazah PMI Asal Ende dan Nagekeo Dipulangkan dari Kupang Menggunakan KM Wilis

"Dia pernah kasih tahu mau pulang dulu kalau sudah habis melahirkan. Tapi mau bagaimana lagi. Suami ada juga, dari imigrasi tahan karena visa mati," kata Andrais. 

Rencananya, jenazah Martha akan dikebumikan di Desa Toi Kecamatan Amanatun Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Selama belasan tahun bekerja di Malaysia, Martha tidak mendaftar secara resmi atau non- prosedural. 

Keluarga, menurut Andrais, menerima peristiwa kematian ini sebagai takdir. Dia meminta doa agar keluarga diberi kekuatan dan anak bayi yang sedang dalam perawatan, segera pulih.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved