Kamis, 28 Mei 2026

NTT Terkini 

Leta Rafael Levis: Berikan Insentif Petani

Menurut Levis, banyak petani telah mengalihkan fungsi lahan untuk tanaman kopi dengan tanaman lain khususnya tanaman hortikultura.

Tayang:
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Akademisi Faperta Undana, Dr. Leta Rafael Levis 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG  - "Benar hasil survei ke beberapa desa di wilayah produksi, awal tahun 2024, produksi kopi benar menurun karena rata-rata tanaman kopi sudah berumur tua, tanaman warisan nenek moyang sehingga produksi kopi menurun," ujar Akademisi Faperta Undana, Dr. Leta Rafael Levis, Minggu (26/10/2025). 

Menurut Levis, banyak petani telah mengalihkan fungsi lahan untuk tanaman kopi dengan tanaman lain khususnya tanaman hortikultura.

"Alasan para petani, pohon kopi rata-rata sudah tua jika mereka lakukan peremajaan maka butuh waktu lama menghasilkan uang," katanya. 

Sedangkan kalau mereka ganti tanaman kopi dengan tanaman hortikultura mereka akan cepat menghasilkan uang. 

Solusinya, menurut Levis, pemerintah semestinya memberikan insentif bagi petani kopi saat mereka lakukan peremajaan tanaman kopi sebab ada cela ketiadaan penghasilan oleh petani ketika mereka lakukan peremajaan. 

Baca juga: Dosen Agroteknologi Faperta Undana Terapkan TTG Pengolahan Komoditi Pertanian di Desa Oelnasi

Dikatakan, cara lain adalah, para petani diberikan ruang untuk melakukan peremajaan secara berjenjang/ trap agar tidak semua tanaman kopi diganti dengan tanaman hortikultura.

Dikuatirkan kopi Bajawa akan menjadi cerita masa lalu jika pemerintah dan para petani tidak serius mencari jalan keluar win-win solution agar keharuman kopi Bajawa dapat dinikmati oleh anak cucu. 

Levis menjelaskan, petani kita utamakan kenyamanan, jadi walau produksi kopi menurun tetapi mereka tetap menikmati karena orientasi mereka bukan komersial tetapi petani subsistensi yakni puas dengan apa yang ada, produksi cukup untuk konsumsi. 

Selain itu, mereka tidak melakukan peremajaan atau mengganti tanaman kopi dengan anakan tanaman kopi baru karena mereka takut terhadap resiko kegagalan. 

Lebih lanjut dikatakan, ini ciri utama petani subsistensi yang dianut sebagian besar petani di NTT termasuk petani kopi, juga petani kakao. 

Sehingga walaupun pemerintah memberikan bantuan secara terus menerus akan tetapi kondisi petani kita kelihatan tidak banyak berubah. 

Kalau dalam ilmu keinovatifan, petani kita masuk dalam kategori 'late majority' artinya petani susah menerima teknologi baru, mereka umumnya menunggu ada bantuan pemerintah, kalau ada bantuan pasti bergerak tetapi setelah bantuan berhenti mereka cenderung kembali pola awal. 

Dikatakan, petani seperti ini biasanya memiliki keterbatasan modal skill dan pengetahuan untuk merubah pertanian secara fundamental. 

"Oleh karena itu, saya ajak pemerintah untuk mendorong terus para petani milenial agar memiliki tingkat keinovatifan yang baik sebagai inovator atau pelopor agar terjadi transformasi perilaku serta  perubahan secara struktural dalam perilaku bertani dalam masyarakat kita," pungkasnya. (fan) 

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved