Kamis, 4 Juni 2026

Wartawan Tribun Melawat ke Australia

Mahasiswa di Australia Cari Pacar yang Kutu Buku 

Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada  pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
TRIBUNNETWORK/DOMU D. AMBARITA
BUDAYA INDONESIA - Suasana murid-murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). 

Puncak fenomena BookTok di Australia tercapai pada rentang tahun 2022 hingga 2023. Pada periode ini, BookTok tidak lagi sekadar subkultur internet tersembunyi, melainkan telah mendikte pasar arus utama (mainstream). 

Jaringan toko buku raksasa Australia seperti Dymocks, QBD Books, serta toko independen Readings,laris manis. Mereka memampang meja pajangan khusus di bagian depan toko dengan papan penanda besar bertulis "As Seen on BookTok" atau "Trending on TikTok".

Buku It Ends with Us karangan Colleen Hoover bahkansempat merajai daftar best seller  fiksi di Australia selama berbulan-bulan, mengalahkan buku-buku baru rilisan lokal. 

Pada puncaknya, penerbit besar Australia mulai mengontrak influencer BookTok local sebagai pembicara di festival-festival literasi besar, seperti Melbourne Writers Festival,untuk menarik audiens Gen Z.

Dampak BookTok terhadap industri retail buku di Australia sangat masif dan membalikkan prediksi banya kanalis yang awalnya mengira generasi muda akan meninggalkan buku fisik demi gawai. (domu d.  ambarita)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved