Kamis, 4 Juni 2026

Wartawan Tribun Melawat ke Australia

Mahasiswa di Australia Cari Pacar yang Kutu Buku 

Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada  pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
TRIBUNNETWORK/DOMU D. AMBARITA
BUDAYA INDONESIA - Suasana murid-murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). 

Dia sudah berpuluh tahun tinggal di Australia. Menurut Bahfen, perempuan berhijab ini, dalam lima tahun ke belakang, ada gerakan, remaja sekarang meninggalkan smartphone, beralih kepada dumbphone atau telepon zaman dulu. 

Ponsel jadul, yang tidak terhubung ke internet dan dalam jaringan (online).Ponsel yang dapat digunakan menelepon dan atau mengirim pesan singkat (SMS), juga tidak terdapat layanan whatsapp. Tidak dapat video call.

Kini, fenomena sosiologis dan psikologis, ada kesadaran dan kekhawatiran akan dampak kecanduan ponsel mengakibatkan kelelahan kognitif, kecemasan, gangguan kesehatan mental, dan hilangnya batas antara kehidupan personal dan profesional. 

Muncullah kontra-tren gerakan minimalis digital di kalangan generasi muda, Genenerasi Z dan Milenial,sebagai respons terhadap kejenuhan akut akibat disrupsi smartphone.

Dulu, dunia memuji smartphone karena multitasking dan mampu menyatukan (konvergensi) belasan fungsi alat tunggal seperti jam, alarm, kamera, pemutar musik. 

Kini, arus balik,anak muda memisahkan fungsi-fungsi tersebut (divergensi) lewat teknologi satu fungsi.Bahfen mengakui, memiliki riset tentang perilaku remaja yang semakin gemar membaca buku. "Mereka disebut masuk dalam era Booktok, sejak pandemic Covid-19, lima tahun lalu," ujar Bahfen. 

Toko Buku Kembali Laris

Fenomena BookTok muncul di Australia, merujuk pada komunitas pencinta buku di dalam platform medsos TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional saat membaca.

Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada  pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. 

Pemicunya adalah adanya kebijakan pembatasan wilayah yang ketat berupa isolasi (lockdown) di berbagai negara bagian, terutama Melbourne dan Sydney. 

Pembatasan relasi memaksa remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah. TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian.

Awal 2021, para penjual buku eceran di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil: buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun lalu tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers) luar negeri maupun lokal Australia.

Dikutip dari Sydney Herald Morning, penerbit pun bersiasat menghadapi fenomena BookTok, tersebut. "BookTok adalah tentang tren," kata penjual buku Dymocks, Josh Hortinela. 

Ia sepenuhnya sependapat dengan suara lokal, dan panduan referensi berjalan untuk cerita romantis dan kriminal yang sedang naik daun. 

"Anda dapat melihat tren muncul di BookTok, dan itu memengaruhi orang-orang yang bertanya tentangnya di toko. Dulu orang datang dan meminta rekomendasi untuk romansa  paranormal, tetapi sekarang mereka meminta trope. Mereka akan berkata, saya mencari trope 'hanya satu tempat tidur', atau buku 'musuh-menjadi-kekasih'. Itu pasti ada hubungannya dengan bagaimana buku dipasarkan di TikTok," katanya.

Caitlin Toohey,  eksekutif pemasaran di Harper Collins Australia, mengatakan penerbit "memperhatikan beberapa judul romantis yang lebih ringan yang mungkin belum banyak ditayangkan untuk sementara waktu, karena itulah yang diinginkan orang ... [TikTok] adalah tempat baru untuk menjangkau pembaca baru."

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved