Wartawan Tribun Melawat ke Australia
Mahasiswa di Australia Cari Pacar yang Kutu Buku
Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda.
Gadis cilik ini cerita, gemar bermain sepak takraw, cabang olahraga perpaduan sepakbola dan voly. Bahan bolanya, berupa anyaman atau gulungan rotan dibuat bulat menyerupai bola.
Saat sesi tanya jawab, ada wartawan Indonesia yang bertanya tentang, apakah murid-murid sudah terbiasa menggunakan media sosial?
Austin menjawab, dia dan murid SD lainnya belum memiliki akun media sosial. Alasannya, undang-undang di negaranya membatasi usia, minimum 16 tahun, baru boleh menggunakan medsos.
Tidak Kenal Medsos
Bahasa Indonesia Bertram Primary School diajar beberapa guru Bahasa Indonesia. Misalnya, Vincent Sweetman, warga negara negeri Koala itu. Ia fasih bahasa Indonesia.
Ia bahkan telah menikahi Vinny, wanita asal Bandung. Selain Sweetman, ada juga Vita, perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur, yang dalam empat tahun terakhir mengajarkan budaya dan Bahasa Indonesia. Dia mengenalkan batik, wayang, serta budaya lainnya dari Indonesia kepada pelajar.
Sweetman mengatakan, murid-murid SD Bertram memang dilarang bermedia sosial. Sebab konstitusi tidak membolehkan anak usia di bawah 16 tahun mengakses platform media sosial.
Undang-Undang Amandemen Keamanan Dalam Jaringan/Daring atau Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024, merupakan amandemen terhadap Undang-Undang Keamanan Daring 2021.
Undang-undang ini meliputi batasan usia, melarang anak di bawah usia 16 tahun untuk membuat atau memiliki akun di platform media sosial yang dibatasi usia.
Undang-undang juga menempatkan tanggungjawab pada perusahaan teknologi dan platform media social, seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X,untuk mencegah anak di bawahusia 16 tahun mengakses layanan mereka, daripada menghukum anak-anak atau orang tua mereka.
Platform yang gagal mematuhi akan menghadapi sanksi perdata yang ketat, dikenai sanksi denda hingga 49,5 juta dolar Australia, setara dengan Rp 613 miliar.
Mencari Pacar Kutu Buku
Dr Nasya Bahfen, dosen Departmen of Politics Media and Philosophy, La Trobe University, Melbourne, Victoria, Autralia, mengatakan telah terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler pintar (smart phone), serta media sosial.
Bila sebelumnya, kerap menjumpai orang-orang sibuk memelototi layar ponsel, atau jari-jemari memainkan layar sambil berjalan di kaki-lima maupun kampus, saat ini, gejala tersebut mulai hilang.
Mahasiswa di kampus, atau di tempat tongkrongan, lebih gemar tanpa membawa smartphone.
Mereka pun mengganti kesibukan bermain ponsel, dengan membaca buku Pelajaran maupun novel yang kemudian membentuk prinsip-prinsip baru.
"Mahasiswa saya, sekarang lebih senang membaca buku, daripada memegang ponsel. Bahkan, ada semacam prinsip bagi anak muda, mencari pacar yang kutu buku, daripada yang ketagihan ponsel," kata Bahfen, perempuan kelahiran Singapura, masa kecil pernah di Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Siswa-Australia-01.jpg)