Perang Israel Iran
Eropa dan NATO Matangkan Misi Militer Buka Selat Hormuz
Negara-negara Erop dan anggota NATO mematangkan rencana misi militer untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
POS-KUPANG.COM - Negara-negara Erop dan anggota NATO mematangkan rencana misi militer untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pertemuan akan berlangsung di Paris, Perancis, pada Jumat (17/4/2026) guna mengumumkan garis besar rencana pemulihan navigasi di jalur vital tersebut.
Misi ini rencananya akan melibatkan kapal militer, pengawalan bersenjata, operasi intelijen, pembersihan ranjau, hingga pengerahan kemampuan radar.
Dilansir dari Euronews, sejumlah negara Eropa bahkan telah mengirimkan kapal ke kawasan Timur Tengah tersebut sebagai langkah awal.
Langkah ini diambil setelah para pemimpin Eropa berada dalam posisi sulit menyusul serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut memicu Iran menutup jalur pelayaran penting itu, yang kemudian melumpuhkan ekonomi global dan berdampak signifikan bagi Eropa. Upaya pembukaan kembali selat ini juga muncul di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump.
Baca juga: Wamenlu Iran: Kami Tidak Menerima Gencatan Senjata
Dia dilaporkan memberikan ultimatum kepada sekutu NATO untuk segera menyusun rencana dalam hitungan hari. Pesan tersebut disampaikan langsung oleh Trump kepada Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte saat kunjungannya ke Washington pekan lalu.
"Aman untuk dikatakan bahwa Sekretaris Jenderal memiliki kesimpulan spesifik dari percakapannya dengan Trump," ujar seorang sumber internal NATO kepada Euronews.
"Ada rasa frustrasi yang nyata dari Trump, dan dijelaskan dengan sangat jelas bahwa kita perlu segera bertindak," tambah sumber tersebut.
Meski demikian, koalisi menekankan bahwa misi pembukaan Selat Hormuz bersifat sangat defensif. Para pemimpin Eropa bersikeras agar operasi ini terpisah dari pihak-pihak yang sedang berkonflik, yakni AS dan Israel.
"Koalisi ingin memastikan misi ini tidak dikaitkan dengan pihak yang bertempur, dalam hal ini AS dan Israel," kata seorang sumber yang mengetahui persiapan tersebut.
Presiden Perancis Emmanuel Macron melalui unggahannya di media sosial X juga menegaskan bahwa misi yang sangat defensif ini akan terpisah dari pihak-pihak yang berperang.
Pertemuan di Paris dalam membahas rencana misi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat digelar dalam format hibrida.
Baca juga: Pakistan Soal Perundingan AS dan Iran: Tidak Ada Kebuntuan
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Friedrich Merz dilaporkan hadir secara langsung di Istana Elysee untuk mendampingi Macron.
Sementara itu, sebagian besar anggota koalisi lainnya, termasuk perwakilan dari Korea Selatan, Australia, dan Jepang, mengikuti pertemuan secara daring.