Minggu, 12 April 2026

Mutiara Ramadhan

Mutiara Ramadhan - Mukasyafah

mukasyafah berarti penyingkapan, yaitu penyingkapan dan penampakan sesuatu yang abstrak dan terselubung (mahjub). 

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
Menteri Agama, KH. Nasaruddin Umar. 

Mutiara Ramadhan - Mukasyafah
Oleh: Menteri Agama, Nasaruddin Umar

POS-KUPANG.COM - Jika seseorang telah berupaya sedemikian rupa mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT, terutama selama di dalam bulan suci Ramadan, maka tidak mustahil yang bersangkutan Allah SWT akan memberinya bonus sesuai ketetapan Allah SWT. Di antara bonus yang paling diharapkan setiap salik (pencari Tuhan) ialah mukasyafah.

Secara literal mukasyafah berarti penyingkapan, yaitu penyingkapan dan penampakan sesuatu yang abstrak dan terselubung (mahjub). 

Dalam bahasa tasawuf, mukasyafah dihubungkan dengan orang yang memiliki kemapuan untuk menyingkap rahasia dan misteri alam gaib, baik alam gaib relatif maupun alam gaib mutlak.

Alam gaib tidak sama bagi setiap orang. Tipis tidaknya atau transparansi alam gaib tidak sama bagi setiap orang. 

Semakin tinggi ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin besar peluang untuk mencapai 
tingkat mukasyafah.

Sebaliknya semakin rendah tingkat ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin tebal pula penutup (hijab) yang menghalang untuk mencapai mukasyafah. Hal-hal yang bisa menghijab seseseorang untuk mencapai mukasyafah ialah dosa dan maksiyat.

Sungguhpun orang tidak berdosa dan bermaksiyat dan telah melakukan ibadah dan berbagai ketaatan individu dan sosial tetap tidak ada jaminan dapat mencapai mukasyafah

Pencapaian mukasyafah sangat ditentukan oleh keridhaan Allah SWT. Orang yang mencapai mukasyafah memiliki banyak keutamaan. 

Selain mampu memahami sejumlah rahasia Allah Swt juga biasanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang “luar biasa” (khariq li al-‘adah) yang tidak bisa dilakukan orang-orang biasa. Perbuatan “luar biasa” itu biasa disebut dengan karamah. 

Para wali yang rata-rata sudah mencapai tingkat mukasyafah  bisa melakukan sesuatu yang bersifat ajaib atas izin kekasihnya, yaitu Allah SWT. Namun perlu dibedakan antara karamah, mu’jizah, dan sikhr. 

Karamah perbuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada para wali atau hamba tertentu yang dipilih-Nya. Mu’jizah perbuatan luar biasa khusus diberikan kepada para nabi dan rasul. 

Sedangkan sikhr perbuatan luar biasa diberikan kepada manusia biasa yang telah mempelajari 
ilmunya.

Sikhr biasanya tidak mensyaratkan adanya mukasyafah, sedangkan mu’jizah dan karamah mengharuskan adanya mukasyafah

Para wali tujuannya bukan untuk mendapatkan perbuatan luar biasa. Bahkan mereka mengelak untuk memanfaatkan keluar biasaan itu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved