Opini
Opini: Bunyi dan Hening
Pelajaran mengenai pentingnya ritme dan jeda sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Kondisi tersebut sering dipandang sebagai peluang emas untuk mendorong kemajuan bangsa.
Namun bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penduduk usia produktif. Ia juga ditentukan oleh kualitas manusia yang mengisinya.
Kualitas tersebut tidak cukup diukur melalui kemampuan menggunakan teknologi atau menguasai perangkat digital. Yang sama pentingnya adalah kemampuan berpikir mendalam, belajar secara berkelanjutan, bekerja dengan penuh perhatian, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Semua kemampuan itu bertumpu pada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: kapasitas untuk mengelola perhatian di tengah dunia yang semakin bising.
Krisis Perhatian di Era Digital
Perubahan besar yang dibawa teknologi digital sesungguhnya tidak hanya terjadi pada cara manusia berkomunikasi, melainkan juga pada cara manusia memberi perhatian.
Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian telah berubah menjadi salah satu sumber daya yang paling diperebutkan. Jika dahulu manusia bersaing memperebutkan tanah, energi, atau modal ekonomi, kini berbagai platform digital justru berlomba memperebutkan waktu dan perhatian manusia.
Fenomena ini dapat dirasakan hampir di setiap sudut kehidupan. Di ruang keluarga, setiap anggota keluarga dapat duduk bersama tanpa benar-benar hadir satu sama lain karena perhatian masing-masing tersedot ke layar telepon genggam.
Di ruang kelas, tidak sedikit peserta didik yang kesulitan mempertahankan fokus selama beberapa puluh menit tanpa memeriksa notifikasi.
Di tempat kerja, percakapan sering terputus oleh pesan yang masuk, panggilan telepon, atau dorongan untuk membuka media sosial.
Kondisi tersebut perlahan membentuk kebiasaan baru. Manusia semakin terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan. Kita membaca sambil memeriksa pesan, berbicara sambil melihat layar, dan bekerja sambil terus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya.
Sekilas keadaan ini tampak sebagai bentuk kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Namun di baliknya, perhatian manusia sesungguhnya sedang mengalami fragmentasi.
Perhatian yang terpecah membuat manusia semakin sulit terlibat secara mendalam pada suatu aktivitas. Membaca menjadi terburu-buru.
Mendengarkan menjadi setengah-setengah. Berpikir menjadi dangkal karena pikiran terus berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lainnya.
Bahkan ketika tubuh berada di suatu tempat, kesadaran dan perhatian sering kali telah berada di ruang digital yang berbeda.
Yang lebih mengkhawatirkan, krisis perhatian bukan sekadar persoalan individu. Ia perlahan berkembang menjadi persoalan sosial.
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara |
|
|---|
| Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus |
|
|---|
| Opini: Curaçao Sudah Sampai, Indonesia Kapan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bernabas-Unab.jpg)