Opini
Opini: Rajin Olahraga tetapi Kena Diabetes?
Konsumsi minuman manis setelah olahraga tidak selalu meningkatkan risiko diabetes tipe 2, terutama jika dilakukan secara tepat...
Paradoks Gaya Hidup Sehat
Oleh: Hermina Mau, SKM.,M.Sc
IAKMI Provinsi Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Suatu ketika, sedang dalam mode santai dengan bahagia lagi nge’scroll’ aplikasi X, saya menemukan sebuah postingan yang menarik perhatian sehingga seketika saya berhenti menggulir.
Singkat kata, postingan itu mengisahkan tentang seorang pria muda, energik, aktif berolahraga, menjaga pola makan dengan baik ironinya dia malah didiagnosa idap penyakit diabetes tipe 2.
Kolom komentar dibanjiri beragam pendapat pengguna X yang mayoritas melontarkan pernyataan keheranan, pertanyaan penasaran, mengungkapkan rasa ingin tahu dan ragam kemasan pendapat lainnya yang bermuara pada satu hal yaitu fenomena kesehatan tak lazim.
Baca juga: Opini: Mimbar Digital
Postingan ini mendorong saya untuk fokus mengamati aksi orang sekeliling saya setelah berolahraga, ternyata cukup banyak yang sangat dekat dengan
konsumsi ragam minuman isotonik.
Rata-rata masyarakat sudah tidak asing dengan frasa “diabetes melitus”, penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif.
Peranan insulin sebagai hormon yang berperan penting dalam mengatur kadar glukosa (gula) dalam darah.
Ada dua kategori diabetes yaitu diabetes melitus tipe 1, yang sebelumnya dikenal sebagai diabetes tergantung insulin. Tipe ini ditandai oleh ketidakmampuan pankreas memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai.
Diabetes melitus tipe 2 merupakan bentuk diabetes yang paling umum dan terjadi akibat gangguan penggunaan insulin oleh tubuh (resistensi insulin), sehingga glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai sumber energi.
Data global tahun 2023 memperkirakan ada 537 juta orang usia 20 – 79 tahun menderita diabetes dan sekitar 483 juta menderita diabetes melitus tipe 2, Indonesia menyumbang 19,5 juta orang hidup dengan diabetes menjadikannya negara dengan penderita diabetes terbanyak kelima di dunia
Kembali ke cerita pria muda di atas yang didiagnosa diabetes melitus tipe 2, mengapa dapat terjadi?
Profesional kesehatan kemudian menelisik “gaya hidup sehatnya”. Dia rutin berolahraga, menjaga pola makan yang sehat dan jarang mengonsumsi junkfood, tidak suka begadang, tidak konsumsi minuman keras dan bahkan tidak merokok.
Gaya hidup sehatnya nyaris tak meninggalkan celah untuk terperangkap penyakit tidak menular ini namun ada satu perilaku yang ternyata menjadi gerbang pemicu diabetes yaitu mengonsumsi minuman tertentu sehabis berolahraga.
Berlandaskan pada fakta kesehatan bahwa setelah berolahraga, tubuh membutuhkan cairan untuk menggantikan elektrolit tubuh yang hilang selama aktivitas berolahraga.
Dia secara rutin konsumsi minuman olahraga yang dirancang untuk mencegah dehidrasi dan mengembalikan cairan serta elektrolit yang hilang saat beraktivitas fisik.
Minumannya bervariasi dari segi harga, warna, komposisi, lokal, impor, dan ragam lainnya dengan misi reward bagi tubuh yang telah bekerja keras untuk tetap sehat produktif.
Baca juga: Menkes Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Tekan Risiko Diabetes
Sayangnya minuman olahraga yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang lama justru menyimpan bahaya bagi tubuh.
Ketika intake gula yang tinggi dari minuman masuk sedikit demi sedikit menjadi tak mampu dikondisikan oleh insulin sehingga terjadi resistensi insulin terhadap glukosa meskipun intake gula dari makanan telah dikontrol.
Sebagian besar minuman olahraga mengandung gula sederhana seperti glukosa, sukrosa, atau fruktosa dengan konsentrasi sekitar 4–8 persen.
Konsumsi berlebihan gula dalam bentuk cair memiliki dampak metabolik yang lebih besar dibandingkan gula dari makanan padat karena lebih cepat diserap oleh saluran cerna dan menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah.
Kondisi ini memaksa pankreas menghasilkan insulin dalam jumlah besar untuk mempertahankan kadar gula darah tetap normal.
Jika paparan glukosa tinggi berlangsung terus-menerus, sel-sel tubuh seperti otot, hati, dan jaringan adiposa mengalami penurunan sensitivitas terhadap insulin, suatu kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin.
Kajian ilmiah membuktikan bahwa konsumsi rutin minuman berpemanis gula, termasuk minuman olahraga, berhubungan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik dan diabetes melitus tipe 2 akibat gangguan sensitivitas insulin.
Kasus pria muda sporty ini relate dengan istilah yang lagi populer “Thin Outside, Fat Inside” yang menggambarkan fisik tubuh yang nampak terbentuk secara proporsional, terukur tidak obesitas namun banyak terjadi penumpukan lemak di sekitar organ dalam tubuh.
Asupan gula cair yang tinggi meningkatkan akumulasi lemak viseral dan lemak di hati, yang merupakan faktor utama dalam perkembangan resistensi insulin.
Fruktosa yang banyak digunakan sebagai pemanis pada minuman olahraga dimetabolisme terutama di hati dan dapat merangsang proses lipogenesis de novo, yaitu pembentukan lemak baru dari karbohidrat.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi rutin minuman berpemanis berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, peningkatan kadar trigliserida, peradangan kronis tingkat rendah, resistensi insulin yang menyebabkan diabetes tipe 2.
Konsumsi minuman manis setelah olahraga tidak selalu meningkatkan risiko diabetes tipe 2, terutama jika dilakukan secara tepat dan proporsional.
Saat aktivitas fisik berlangsung, otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga sensitivitas insulin meningkat dan cadangan glikogen berkurang.
Tujuan berolahraga untuk sehat, oleh karena itu sejatinya dibarengi dengan mengurangi konsumsi minuman manis setelah berolahraga.
Secara praktis, pilihlah air putih sebagai minuman utama setelah olahraga dan konsumsi air kelapa murni untuk pilihan pengganti ion dan elektrolit tubuh.
Jika ingin mengonsumsi minuman manis, batasi porsinya sekitar 200–250ml, pilih yang mengandung gula rendah, dan konsumsi bersamaan dengan sumber protein atau makanan berserat untuk memperlambat kenaikan glukosa darah.
Perilaku orang yang mengonsumsi minuman manis secara teratur, 1-2 kaleng sehari atau lebih, memiliki risiko 26 persen lebih besar terkena diabetes tipe 2 dibanding orang yang jarang mengonsumsi minuman tersebut. Risiko bahkan lebih besar pada orang dewasa muda dan ras orang Asia.
WHO dan Kemkes RI sepakat untuk merekomendasikan agar asupan gula bebas tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan energi harian atau sekitar 50 gram per hari.
Kesulitan dengan cara perhitungan dalam bentuk gram dapat dikonversi dengan takaran alat rumah tangga yaitu tidak lebih dari 12 sendok teh atau tidak lebih dari 4 sendok makan.
Idealnya kurang dari 25 gram per hari untuk manfaat kesehatan yang lebih besar.
Cerita pengalaman ini, memberi perspektif agar kawula muda yang aktif berolahraga lebih preventif terhadap penyakit degeneratif dan dapat mencapai hidup yang sehat produktif melalui gaya hidup yang tepat. Ayo Bangun NTT! (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Hermina Mau
penyebab Diabetes Melitus
Faktor risiko Diabetes Melitus
Gejala Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2
Gejala Penyakit Diabetes Melitus tipe 1
Opini Pos Kupang
IAKMI Provinsi NTT
| Opini: Mimbar Digital |
|
|---|
| Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan |
|
|---|
| Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas |
|
|---|
| Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu |
|
|---|
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hermina-Mau-SKMMSc-02.jpg)