Opini
Opini: Perang Melawan Sampah Plastik di NTT
Studi Bappenas (2025) memperkirakan kerugian akibat pencemaran plastik di sektor perikanan dan pariwisata Rp12,1 triliun per tahun.
Refleksi tentang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026
Oleh: Aris wawo, SVD
Guru di SMA Sto. Arnoldus Janssen Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Bangsa Indonesia sudah mengalami kemerdekaan dari penjajah asing lebih dari 80 tahun.
Kemerdekaan dirayakan dengan penuh kegembiraan. Kekuasaan bangsa-bangsa penjajah dicatat dalam buku sejarah dan dipelajari oleh semua anak bangsa secara formal maupun informal.
Kolonialisme asing sudah selesai, ada bentuk kolonialisme dengan wajah baru yaitu sampah. Sampah plastik menjadi ancaman lingkungan terbesar di Indonesia.
Kementerian Linkungan Hidup mencatat jumlah timbunan sampah 2025 mencapai 141.926 ton per hari dengan 37.001 ton sudah dikelola (Kompas.com 7 April 2026). Mengerikan!
Baca juga: Opini: Berpancasila Secara Progresif
Di ibu kota Kabupaten Sikka misalnya, jumlah timbunan sampah sekitar 132 ton per hari (kompas.com, 30 Maret 2026), sedangkan di Kota Kupang jumlah timbunan mencapai 267 ton per hari (Prokopim Kota Kupang, 9 April 2026).
Dua kota ini menjadi wakil dari NTT yang secara gamblang menunjukkan bahwa sampah sedang menjadi momok yang mengerikan dan menakutkan saat ini.
Sampah pada gilirannya merusak ekosistem laut, darat dan udara secara pelan namun pasti.
Studi Bappenas (2025) memperkirakan kerugian akibat pencemaran plastik di sektor perikanan dan pariwisata mencapai Rp12,1 triliun per tahun.
Penanganan dan pengolahan serta tindakan preventif terhadap sampah plastik merupakan panggilan nurani setiap orang. Melawan sampah dengan cara-cara kreatif adalah cara lain menolak kolonialisme baru.
Keindahan Di NTT: Suatu Ironi
Nusa Tenggara Timur ( NTT) merupakan salah satu provinsi paling Timur di wilayah Indonesia.
Provinsi yang kaya akan budaya dan bahasa serta keindahan alam. Bukan tidak mungkin NTT diminati para wisatawan.
Dilansir dari detikbali (Minggu, 18 Januri 2026) Di Labuan Bajo, kunjungan wisatawan asing ke sana sebanyak 500 ribu. Ini merupakan berita yang membanggakan.
Selain Labuan Bajo, wilayah-wilayah lain NTT dikenal eksotik. Ada banyak wisatawan yang mengunjungi alor, Sumba dan beberapa wilayah di Flores daratan.
Keindahan adalah idaman dan harapan semua orang. Semua orang ingin menyaksikan ruangan yang asri, toilet umum yang bersih, taman-taman yang indah dan sejuk.
Keindahan ini sebagai ironi ketika menyaksikan sampah-sampah yang berseliweran di pinggir-pinggir dan di tepi-tepi pantai serta di tempat-tempat umum lainnya.
Di beberapa tempat, orang membuang sampah di tempat yang dilarang oleh pemilik tanah.
Di Kota Kupang misalnya, drainase masih menjadi tempat pembuangan sampah plastik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kita juga menyaksikan sampah-sampah plastik yang dibuang di pinggir jalan dari kendaraan-kendaraan mewah.
Banyak pelaku bisnis seperti alfamart, indomart, toko-toko lain masih menggunakan plastik sebagai tempat menyimpan barang-barang belanjaan para pembeli.
Plastik masih menjadi wadah yang lazim dalam transaksi jual-beli di pasar dan pertokoan. Belum ada upaya bersama untuk menyelesaikan masalah ini secara masif dan profesional.
Sekolah Sampah
Salah satu pertanyaan paling dasar: Bagaimana cara agar warga NTT memiliki kepedulian terhadap sampah secara spontan? Kepedulian terhadap sampah harus dapat dimulai sejak dini.
Ada beberapa pihak yang menjadi “sekolah sampah”. Memilih, memilah dan membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi sampah butuh sekolah.
Pertama, Keluarga. Keluarga adalah komunitas pertama seorang anak bertumbuh dan berkembang secara utuh.
Di tempat ini, anak belajar tentang hidup sehat dan bersih. Salah satu hal yang dapat diajarkan kepada anak-anak adalah memilih, memilah, dan membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi sampah.
Baca juga: Opini: Membangun Resiliensi Kota Lewat Aksi-Aksi Iklim Berbasis Alam
Sampah dibedakan dalam dua bentuk yaitu sampah organik dan anorganik. Memberikan pengetahuan yang memadai kepada anak-anak tentang sampah merupakan tugas utama dari orang tua.
Orang tua turut bertanggung jawab mendidik anak-anak untuk mencintai lingkungan hidup secara benar.
Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah memberi teladan. Keteladan orang tua merawat dan memerhatikan lingkungan rumah adalah mutlak.
Menyiapkan bekal untuk anak-anak misalnya, dan mewajibkan anak-anak membawa thumber adalah cara paling jitu mengurangi sampah plastik.
Kebaikan harus selalu dilatih sejak dini, sama halnya dengan disiplin. Membawa bekal dan thumber setiap hari ke sekolah adalah salah satu bentuk dari latihan tentang kecintaan terhadap lingkungan.
Perilaku seperti ini diakukan berulang, akan menjadi kebiasaan. Kebaikan memang mesti diatih dan dilakukan berulang-ulang.
Ada ungkapan latin yang cukup familiar adalah Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo. Ungkapan ini berarti “tetesan air melubangi batu bukan karena kekuatannya, tetapi karena jatuhnya yang terus-menerus”.
Mengurangi penggunaan plastik misalnya, dapat menjadi kebiasaan bukan sekadar tindakan ini terpuji tapi karena diakukan terus-menerus.
Hal lain yang dibutuhkan adalah dialog kehidupan di rumah. Dialog adalah cara lain memberi pemahaman yang akurat kepada anak-anak tentang lingkungan hidup.
Dialog tidak sekadar membangunn komunikasi, tapi sebagai upaya sadar untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak melalui cara-cara sederhana.
Misalnya, membiasakan anak-anak untuk menikmati masakan ibu secara bertanggung jawab.
Bertanggung jawab terhadap makanan oleh anak artinya ia menikmati makanan itu sampai selesai dan tanpa sisa.
Keteladanan dan dialog kehidupan tidak cukup dilakukan dengan keberanian, mesti dilakukan secara konsisten.
Kualitas keteladanan dan dialog kehidupan ada pada konsistensi melakukannya. Tidak sedikit orang yang menyerah terhadap nilai-nilai karena rapuhnya konsistensi.
Belajar dari UPTD SDN Papela
Kedua, Sekolah. Sekolah adalah pihak kedua yang bertanggung jawab membina para murid untuk mencintai lingkungan hidup.
Sekolah-sekolah di NTT masih harus berperang melawan sampah, karena sekolah masih menjadi produksi sampah plastik paling banyak.
Kesadaran para murid untuk membuang sampah pada tempatnya dan kecintaan terhadap lingkungan masih jauh panggang dari api.
Salah satu pikiran alternatif yang dapat menjadi acuan untuk menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman dan nyaman dari sampah adalah membangun pemahaman bersama tentang kecintaan terhadap lingkungan hidup melalui seminar, animasi-animasi dan praktik mendaur ulang sampah.
Seminar dan animasi-animasi berbasis lingkungan hidup pada gilirannya memberikan kepercayaan kepada para murid untuk berpikir secara benar.
Para murid menjadi peduli tentang sampah karena pengetahuan yang sudah diperolehnya.
Sampah dan dampaknya tidak sedang dibahas secara khusus sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah formal.
Itu berarti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendasmen) memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah untuk mengolah sampah bersama para murid.
Sekolah harus memiliki strategi-strategi konkret untuk mendulang semangat dan sikap cinta murid terhadap lingkungan.
UPTD SDN Papela sebagai sebuah sekolah contoh. Sekolah ini terletak di kecamatan Rote Timur dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia setelah memeroleh Juara 1 Kompetisi AIA Healthiest Schools 2025 kategori SD di panggung nasional.
Sekolah ini berhasil mendidik dan melatih para murid untuk memahami sampah-sampah plastik dan mendaur ulang melalui program ecolitera.
Ecolitera dijalankan untuk menjawabi dua tantagan utama di sekolah tersebut yaitu rendahnya minat baca murid dan kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Mereka menyulap plastik, ban bekas, dan sampah organik menjadi media belajar kreatif.
Murid diajak menulis, membaca dan berpikir kritis melalui media daur ulang seperti PlastiKata, ecobrick, dan taman belajar dari ban bekas.
Kemampuan UPTS SDN Papela mengolah sampah secara benar dan kontekstual dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah di NTT pada khususnya dan Indonesia pada umumya.
Pengolahan sampah secara benar adalah tanggung jawab kolektif warga sekolah. Dan belajar praktik baik dari sekolah ini adalah berkat.
Ketiga, Pemerintah. Edukasi tentang lingkungan yang bersih dan asri harus menjadi salah satu program prioritas pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Pemimpin-pemimpin daerah belum menangani sampah secara militan dan masif. Gerakan kebersihan masih merupakan tanggung jawab utama para petugas kebersihan.
Regulasi pemerintah daerah tentang sampah masih menjadi himbauan dan belum menjadi aksi nyata di kalangan masyarakat secara langsung. Regulasi tentang penggunaan barang-barang alternatif yang ramah lingkungan belum ada.
Misalnya, para pembeli diwajibkan untuk menggunakan tas-tas anyaman (keranjang) buatab masyarakat lokal yang bertahan lama dan ramah terhadap lingkungan.
Hemat penulis, penggunaan keranjang-keranjang buatan masyarakat lokal bernilai ekonomis.
Masyarakat lokal akan menjadi lebih kreatif mengembangkan kerajinan-kerajinan tangan sesuai dengan kebutuhan pasar. Boleh jadi, produk-produk seperti itu laku di pasaran.
Selain itu, pemerintah bekerja sama dengan pelaku-pelaku bisnis untuk membatasi penggunaan plastik. Acap kali kepedulian terhadap sampah tidak berasal dari para pelaku bisnis.
Kepedulian terhadap sampah justru berasal dari keprihatinan sekelompok orang.
Oleh karena itu, pemerintah mesti menjadi fasilitator dan eksekutor menanggulangi sampah di tingkat daerah secara serius melalui pembatasan penggunaan plastik dan penyediaan infrastruktur daur ulang yang memadai.
Keempat masyarakat. Masyarakat adalah pelaku-pelaku utama kebijakan dan aturan pemerintah. Sampah dan penanganangannya mesti dilakukan secara kolektif.
Sampah hanya dapat diselesaikan jika semua kalangan mengambil bagian secara aktif terhadapanya.
Kerbersihan adalah mungkin. UPTS SDN Papela adalah salah satu contohnya. Pemerintah juga telah menyiapkan piagam adipura bagi kota yang berhasil dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan dapat dicapai dengan usaha, kerja keras dan kerja sama yang solid.
Tanggung jawab kolektif untuk memerangi sampah adalah imperatif. Kita memiliki peran yang sama dan semangat yang sama untuk memerangi sampah.
Kita kepalkan tangan, satukan tekad untuk mengatakan tidak terhadap sampah plastik, sebab sampah adalah bentuk lain dari kolonialisme baru. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aris-Wawo-01.jpg)