Opini
Opini: Santarang dan Kisah Sejumlah Jurnal Sastra di NTT
Pada akhirnya, sejarah sastra di NTT lebih dari sekadar sejarah tentang buku-buku yang ditulis oleh para penulisnya.
Edisi pertama Filokalia terbit pada November 2010, dengan tebal 10 halaman, ukuran A3, didesain oleh Romo Patris Neonnub, dicetak dengan mesin fotokopi di seminari.
Di rubrik “Dari Meja Redaksi”, ada penjelasan pemilihan nama “Filokalia”, serta hubungannya dengan karya sastra. Rubriknya adalah esai, cerpen, puisi, pantun, puisi berantai, dan humor.
Lalu ada Jurnal Sastra Jendela, terbit perdana pada Maret 2016, diterbitkan oleh Roman Nama dan kawan-kawan. Rubriknya adalah esai, cerpen, foto, resensi, dan wawancara. Kemudian ada Buletin Sastra Flumina, edisi pertama Mei-Juni 2016.
Flumina diterbitkan oleh Komunitas Sastra Seminari Menengah St. Rafael, Oepoi. Flumina sendiri merupakan rebranding dari Jurnal Sastra Cahaya dari Jantung Karang. Buletin ini memuat rubrik khusus, Calista, berisi esai Melayu-Kupang, yang mirip rubrik Kusu-kusu di Santarang.
Dari Pulau Flores, ada Jurnal Sastra Dala ‘Ela, terbit pertama September 2016, diselenggarakan oleh Komunitas Kahe.
Tiga tahun kemudian, jurnal sastra Kupas, edisi 1, 2019, terbit, diselenggarakan oleh Komunitas Cukil, para mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang.
Kupas hanya terbit sekali, setelah itu tak terdengar lagi. Terakhir, ada Jurnal Sastra Sanctuarium, vol. 1 No. 1, Februari 2026, dengan tebal 84 halaman, yang diterbitkan oleh Komunitas KaTa, kumpulan dosen dan mahasiswa Universitas Timor, digawangi oleh Mariano Sengkoen dan Yoventa Nahak.
Mungkin saja ada sejumlah jurnal dan buletin sastra yang luput dari pantauan saya.
Namun, media-media semacam itu, dengan segala keterbatasan logistik dan dana yang kerap membayangi jurnal komunitas, berupaya sepenuh hati menjalankan fungsi-fungsi krusial yang bisa kita temukan dalam enam poin utama di awal tulisan ini.
Ada yang masih bertahan sampai hari ini, lebih banyak berhenti terbit setelah beberapa edisi.
Meski demikian, kerja-kerja tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang kuat di antara para pelaku literasi di NTT untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, mengakomodasi, dan membuka diskusi tentang kekayaan khazanah sastra yang ada di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Pada akhirnya, sejarah sastra di NTT lebih dari sekadar sejarah tentang buku-buku yang ditulis oleh para penulisnya.
Sejarah sastra di NTT adalah juga kisah kolektif tentang komunitas-komunitas kecil yang memanfaatkan mesin fotokopi dan printer sederhana, merogoh kocek pribadi demi biaya cetak, dan terus menulis demi memastikan bahwa suara dari selatan Indonesia terus didengarkan.(*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-03.jpg)