Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Santarang dan Kisah Sejumlah Jurnal Sastra di NTT

Pada akhirnya, sejarah sastra di NTT lebih dari sekadar sejarah tentang buku-buku yang ditulis oleh para penulisnya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO F. LAWI
Mario F. Lawi 

Oleh: Mario F. Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Untuk memperingati ulang tahun ke-15 Komunitas Sastra Dusun Flobamora, jurnal sastra Santarang terbit dalam edisi khusus, dua edisi digabung menjadi satu terbitan (Januari-Maret, April-Juni 2026), dengan memperbanyak jumlah tulisan di rubrik Esai, serta menambahkan rubrik khusus yakni Galeri dan Kliping. 

Rubrik Galeri berisi kilasan dokumentasi foto kegiatan Dusun Flobamora selama 15 tahun. 

Rubrik Kliping berisi dokumentasi kiprah Dusun Flobamora yang direkam di berbagai media cetak, termasuk Kompas, Koran Tempo, dan Pos Kupang. 

Dari edisi pertama yang terbit Mei 2012 setebal 52 halaman dicetak dengan printer sederhana, ke edisi khusus setebal 360 halaman terbitan semester pertama 2026, Santarang telah melalui berbagai macam peristiwa. 

Baca juga: Opini: Aku dan Santarang

Sejumlah esai dalam edisi khusus Santarang berusaha memotret perjalanan Santarang sebagai bagian dari kisah Dusun Flobamora, bagian dari proses kreatif para penulis, yang secara tidak langsung menampilkan sejarah-sejarah personal tentang kepenulisan di Nusa Tenggara Timur

Kisah-kisah para penulis dalam Santarang khusus tersebut beririsan dengan sejumlah poin tentang jurnal sastra yang diajukan Jeffrey Spahr-Summers dalam esai provokatif berjudul “Why are Literary Journals Important for New Writers?” yang diterbitkan Cherry Publications pada 10 Desember 2024. 

Pertama, sebagai wadah mengasah dan menguji kemampuan. Jurnal sastra memprioritaskan nilai seni dan ekspresi kreatif di atas daya tarik komersial massal. 

Hal ini memberikan ruang yang aman bagi penulis baru untuk bereksperimen dengan gaya tulisan, mengeksplorasi tema naratif secara mendalam, serta mempertajam keterampilan mereka. 

Kedua, pemberi validasi dan legitimasi. Lolos kurasi dan diterbitkan dalam jurnal sastra bereputasi merupakan bentuk pengakuan atas kualitas tulisan penulis. 

Legitimasi ini menjadi modal berharga karena sering kali dilirik oleh agen literatur serta penerbit besar yang sedang mencari bakat-bakat baru.

Ketiga, membuka peluang karier yang lebih besar. Banyak penulis ternama (seperti Zadie Smith dan Jhumpa Lahiri) memulai karier mereka dari jurnal sastra. 

Tentu saja termasuk nama-nama klasik seperti Percy Bysshe Shelley, Samuel Taylor Coleridge, William Wordsworth, Joseph Conrad (Heart of Darkness pertama kali terbit di majalah sastra Blackwoods pada 1899), Ezra Pound dengan esainya berjudul “Small Magazines” di The English Journal, maupun Alexander Solzhenitsyn yang menerbitkan novelanya, Satu Hari dalam Hidup Ivan Denisovich, di majalah sastra Novy Mir.  

Publikasi di jurnal bertindak sebagai batu loncatan yang menjembatani hubungan awal antara penulis dengan audiens potensial mereka. 

Dalam kasus lokal, publikasi puisi Tia Ragat di Santarang memungkinkan karyanya dibaca oleh editor Gramedia dan kemudian diterbitkan oleh penerbit tersebut.

Baca juga: Komunitas Dusun Flobamora Bangun Inisatif Kaum Muda Lewat Festival Sastra Santarang 

Keempat, bimbingan dari editor. Para editor jurnal sastra sering kali merupakan sesama penulis atau kritikus yang bertindak sebagai mentor. 

Mereka memberikan umpan balik (kritik dan saran) yang berharga untuk membantu penulis baru menyempurnakan draf kasar mereka menjadi karya yang matang. 

Poin ini kian relevan di era akal imitasi ini. Kita bisa dengan mudah menemukan banyak tulisan bertebaran di media dengan mengandalkan prompt, membuat semua gagasan dibahasakan secara seragam. 

Sebaliknya, jurnal sastra justru lahir dari pergulatan antara para penulisnya dengan kata-kata, perangkat utama mereka. 

Gaya ungkap para penulislah yang membuat tulisan mereka berwarna, dan membedakan identitas sastrawi mereka dari para penulis lain. 

Para editor, dalam hal ini, lebih dari sekadar pemberi umpan balik, adalah orang-orang pertama yang membaca tulisan-tulisan para penulis, serta menemukan kekhasan masing-masing penulis sebelum memberikan masukan berdasarkan kekhasan yang ditemukan itu. 

Kekhasan tersebut, dalam edisi khusus Santarang, tampak jelas dalam pendekatan dan gaya yang digunakan masing-masing penulis.

Kelima, menyuarakan keberagaman dan perspektif baru. Tidak seperti media arus utama yang cenderung homogen demi pasar, jurnal sastra aktif mendorong inklusivitas. 

Mereka membuka pintu bagi suara-suara yang secara historis terpinggirkan atau kurang terwakili untuk menampilkan narasi yang ortodoks dan berani. 

Selama 14 tahun, Santarang terus mendorong dan berupaya memperkenalkan suara-suara baru, terutama dari Nusa Tenggara Timur.

Keenam, membangun komunitas penulis dan pembaca. Jurnal sastra memfasilitasi dialog, ulasan, dan pertukaran ide yang demokratis. 

Lingkungan kolaboratif ini memungkinkan bakat-bakat baru berkembang secara organik tanpa harus terkungkung oleh tuntutan komersialisasi pasar.

Santarang terbit di lintasan waktu yang beririsan dengan jurnal sastra lain. 

Sebelum Dusun Flobamora dideklarasikan, ada Jurnal Sastra Filokalia yang diterbitkan Komunitas Sastra Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang. 

Komunitas ini kemudian mengubah nama menjadi Komunitas Sastra Filokalia, sesuai nama jurnal tersebut. 

Edisi pertama Filokalia terbit pada November 2010, dengan tebal 10 halaman, ukuran A3, didesain oleh Romo Patris Neonnub, dicetak dengan mesin fotokopi di seminari. 

Di rubrik “Dari Meja Redaksi”, ada penjelasan pemilihan nama “Filokalia”, serta hubungannya dengan karya sastra. Rubriknya adalah esai, cerpen, puisi, pantun, puisi berantai, dan humor. 

Lalu ada Jurnal Sastra Jendela, terbit perdana pada Maret 2016, diterbitkan oleh Roman Nama dan kawan-kawan. Rubriknya adalah esai, cerpen, foto, resensi, dan wawancara. Kemudian ada Buletin Sastra Flumina, edisi pertama Mei-Juni 2016. 

Flumina diterbitkan oleh Komunitas Sastra Seminari Menengah St. Rafael, Oepoi. Flumina sendiri merupakan rebranding dari Jurnal Sastra Cahaya dari Jantung Karang. Buletin ini memuat rubrik khusus, Calista, berisi esai Melayu-Kupang, yang mirip rubrik Kusu-kusu di Santarang

Dari Pulau Flores, ada Jurnal Sastra Dala ‘Ela, terbit pertama September 2016, diselenggarakan oleh Komunitas Kahe. 

Tiga tahun kemudian, jurnal sastra Kupas, edisi 1, 2019, terbit, diselenggarakan oleh Komunitas Cukil, para mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang. 

Kupas hanya terbit sekali, setelah itu tak terdengar lagi. Terakhir, ada Jurnal Sastra Sanctuarium, vol. 1 No. 1, Februari 2026, dengan tebal 84 halaman, yang diterbitkan oleh Komunitas KaTa, kumpulan dosen dan mahasiswa Universitas Timor, digawangi oleh Mariano Sengkoen dan Yoventa Nahak. 

Mungkin saja ada sejumlah jurnal dan buletin sastra yang luput dari pantauan saya. 

Namun, media-media semacam itu, dengan segala keterbatasan logistik dan dana yang kerap membayangi jurnal komunitas, berupaya sepenuh hati menjalankan fungsi-fungsi krusial yang bisa kita temukan dalam enam poin utama di awal tulisan ini. 

Ada yang masih bertahan sampai hari ini, lebih banyak berhenti terbit setelah beberapa edisi. 

Meski demikian, kerja-kerja tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang kuat di antara para pelaku literasi di NTT untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, mengakomodasi, dan membuka diskusi tentang kekayaan khazanah sastra yang ada di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Pada akhirnya, sejarah sastra di NTT lebih dari sekadar sejarah tentang buku-buku yang ditulis oleh para penulisnya. 

Sejarah sastra di NTT adalah juga kisah kolektif tentang komunitas-komunitas kecil yang memanfaatkan mesin fotokopi dan printer sederhana, merogoh kocek pribadi demi biaya cetak, dan terus menulis demi memastikan bahwa suara dari selatan Indonesia terus didengarkan.(*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved