Opini
Opini: Veronika- Dia yang Berbagi Kasih
Di zaman ketika segala sesuatu diuangkan, saat viral harus dikonversi jadi cuan, respons Ferry Klau bisa terasa asing, aneh.
Oleh: Wilfrid Babun, SVD
Pegiat literasi yang berkarya di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Biarkan saja. Itu berkah yang bisa dibagi untuk banyak orang. Kalimat itu mungkin tidak persis yang disampaikan Ferry Klau. Saya memolesnya sedikitt saja. Tetapi ada poinnya.
Seakan ada refleksi meluncur tenang dari Ferry Klau saat wawancara di TikTok. Tentang lagunya, “Lu Kenal Veronika Ko” . Anak kecil yang main sepeda di jalan, sampai pejabat, hafal lagu ini. Lirik dan musiknya terasa punya energi. Bayangkan, dia bahkan mendunia!
Wartawan tanya fee, soal royalti. Jawaban Ferry datar saja. Tetapi justru menampar logika pasar. Dia tidak bicara uang. Tetapi tentang berkah yang dibagi.
Di zaman ketika segala sesuatu diuangkan, saat viral harus dikonversi jadi cuan, respons Ferry Klau bisa terasa asing, aneh.
Baca juga: Opini: Jalan Berlubang dan Politik Kewargaan
Tetapi justru renyah, menyegarkan. Yang mengenal iman kekristenan, jawaban siapa Veronika itu sebenarnya punya akar tua. Yakni dari episode jalan salib. Kisah seorang perempuan bernama Veronika. "Veronika menyapu wajah Yesus".
Bahwa nama Veronika memang tidak jamak dicatat dalam keempat Injil: sinoptik. Namun tradisi suci Gereja Katolik mengawetkannya dalam Jalan Salib. Ketika Yesus tersungkur untuk ketiga kalinya, wajah-Nya berlumuran darah, keringat, dan debu.
Semua orang memilih menonton.Tonton dari jarak zona aman. Para prajurit menjalankan tugas. Para imam kepala puas melihat penderitaan itu.Dan murid Yesus lari tercerai-berai.
Di tengah kerumunan yang membeku oleh ketakutan dan kebencian, muncullah sosok seorang perempuan. Bukan dari lingkaran dalam para murid. Tanpa nama besar, tanpa pasukan pengawal. Dia hanya membawa sehelai kain kecil.
Dengan gemetar namun berani, ia menerobos barisan serdadu. Dan dia mengusap wajah Sang Juruselamat. Wajah Kristus pun terlulis di kain itu. Gambar yang Sejati. Pas namanya disebut Veronika: vero dan icon.
Apa yang membuat tindakan Veronika begitu monumental? Dia tidak menghentikan penyaliban. Dia tidak membuat mukjizat besar. Dia hanya hadir, melihat, merasa, dan langsung aksi.
Dia membagi apa yang dia punya: sehelai kain, setitik keberanian, dan hati yang ful belas kasih. Dan justru Tuhan mengubah yang sedikit itu menjadi abadi. Cerita itu sampai hari ini dan sampai kapan pun! Melampaui ruang dan waktu.
Dalam rentang waktu itu, kini tercipta lagu “Lu Kenal Veronika Ko”. Pertanyaan nakal, kenapa sonde nama lain, misalnya Maria. Ferry Klau mungkin sesekali baca Alkitab dan jatuh cinta pada nama itu.
Bukan di lain nama. Lalu dibalutnya dalam syair, sederhana, dengan logat Kupang Timor, yang jujur. Lagu itu tidak meledak karena aransemen mahal.
Saya kira karena nama Veronika. Bukan saja dulu. Tetapi Veronika di zaman now juga.
Baca juga: Opini: Kerugian Negara dan Alarm Tata Kelola Keuangan Publik
Karena nama Veronika, Vero dan icon tersembul pesan mendalam: tentang tindakan kasih. Ada heroisme dan kini dikemas jenaka. Ada om Strom...etc.
Maka ketika lagu itu mendunia dan ditanya soal fee, respons Ferry Klau menjadi khotbah tanpa mimbar. "Biarkan saja. Itu berkah yang bisa dibagi untuk banyak orang".
Mimbarnya di ruang digital. Ada spiritualitas Veronika yang membumi di hidup hari ini. Ferry sadar bahwa lagu itu sudah bukan miliknya lagi.
Lagu itu sepertinya menjadi senandung di antara kita. Ah, di dunia fana anggur Tuhan. Kita menikmatinya. Dan termasuk juga Ferry Klau, kita hanyalah penggarap.
Tugas kita bukan mengklaim kebun, tapi menghasilkan buah. Buahnya adalah hati yang tersentuh, iman yang dikuatkan. Dan ada ajakan untuk kembali mau peduli. Terlibat!
Berkah, kata Ferry, memang untuk dibagi. Karena berkah yang digenggam sendiri akan busuk.
Berkah yang dialirkan akan menjadi sungai yang menghidupi. Mungkin karena inspirasi lagu ini lahir di kamar mandinya Ferry Klau di Malaka.
Kita selalu ada dan berjalan di Via Dolorosa versi modern. Dunia digital yang berisik. Ada yang memikul salib sakit dan dia butuh seorang sahabat.
Butuh didengarkan. Ada tetangga yang memikul salib utang dan butuh beras satu kilo. Ada saudara kita malu karena difitnah di Facebook.
Ada anak muda yang sepi sendirian di tengah ramainya kota. Pertanyaannya bukan lagi “Lu kenal Veronika ko?”
Tapi “Lu mau jadi Veronika ko?” Menjadi Veronika tidak butuh panggung dan spotlight. Tidak butuh jadi orang hebat dulu. Syaratnya:
Lihat : sejenak berhenti scroll gaspol di media sosial.Lihat, ada yang benar-benar menderita di sekitarmu.Juga di medsos.
Rasa: merasakan dunia yang terluka. Kita sementara ada di dunia yang terluka. Izinkan hati terluka oleh luka orang lain. Jangan kebal. Jangan cuek.
Dan, ketong mau bikin apa? Ada aksi. Ulurkan “kainmu”. Kain itu bisa berupa pesan WA: “Sahabatku.
Tetap semangat, beta ada dan mendoakanmu”. Adakah telinga yang mendengarkan tanpa menghakimi. Bisa juga berupa status doa yang dishare di jam 4 pagi.
Itulah berbagi kasih. Itulah berbagi berkat. Tindakan kecil kita bisa menjadi Veronika: Vero-Icon bagi orang lain. Adalah gambar nyata wajah Kristus yang mengusap air mata sesama.
Ferry Klau sudah memilih bagiannya: "biarkan saja lagu itu menjadi berkat". Veronika juga tidak pernah menuntut agar wajah Yesus tercetak di kainnya.
Dia hanya memberi dengan tulus. Selebihnya, Tuhan yang ator! Mengubahnya menjadi mukjizat!
Saatnya kita juga belajar berkata “biarkan saja”. Biarkan waktu terpakai untuk mendengar keluh kesah teman. Biarkan tenaga untuk membantu tetangga.
Biarkan nama kita tidak disebut dalam ucapan terima kasih. Tetapi berikan dan biarkan “kain kasih” mengusap wajahNya yang menderita dalam diri sesama yang lain.
Lu kenal Veronika ko? Kalau sudah kenal, "Jadilah Veronika di hari ini". (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)