Opini
Opini: Veronika- Dia yang Berbagi Kasih
Di zaman ketika segala sesuatu diuangkan, saat viral harus dikonversi jadi cuan, respons Ferry Klau bisa terasa asing, aneh.
Karena nama Veronika, Vero dan icon tersembul pesan mendalam: tentang tindakan kasih. Ada heroisme dan kini dikemas jenaka. Ada om Strom...etc.
Maka ketika lagu itu mendunia dan ditanya soal fee, respons Ferry Klau menjadi khotbah tanpa mimbar. "Biarkan saja. Itu berkah yang bisa dibagi untuk banyak orang".
Mimbarnya di ruang digital. Ada spiritualitas Veronika yang membumi di hidup hari ini. Ferry sadar bahwa lagu itu sudah bukan miliknya lagi.
Lagu itu sepertinya menjadi senandung di antara kita. Ah, di dunia fana anggur Tuhan. Kita menikmatinya. Dan termasuk juga Ferry Klau, kita hanyalah penggarap.
Tugas kita bukan mengklaim kebun, tapi menghasilkan buah. Buahnya adalah hati yang tersentuh, iman yang dikuatkan. Dan ada ajakan untuk kembali mau peduli. Terlibat!
Berkah, kata Ferry, memang untuk dibagi. Karena berkah yang digenggam sendiri akan busuk.
Berkah yang dialirkan akan menjadi sungai yang menghidupi. Mungkin karena inspirasi lagu ini lahir di kamar mandinya Ferry Klau di Malaka.
Kita selalu ada dan berjalan di Via Dolorosa versi modern. Dunia digital yang berisik. Ada yang memikul salib sakit dan dia butuh seorang sahabat.
Butuh didengarkan. Ada tetangga yang memikul salib utang dan butuh beras satu kilo. Ada saudara kita malu karena difitnah di Facebook.
Ada anak muda yang sepi sendirian di tengah ramainya kota. Pertanyaannya bukan lagi “Lu kenal Veronika ko?”
Tapi “Lu mau jadi Veronika ko?” Menjadi Veronika tidak butuh panggung dan spotlight. Tidak butuh jadi orang hebat dulu. Syaratnya:
Lihat : sejenak berhenti scroll gaspol di media sosial.Lihat, ada yang benar-benar menderita di sekitarmu.Juga di medsos.
Rasa: merasakan dunia yang terluka. Kita sementara ada di dunia yang terluka. Izinkan hati terluka oleh luka orang lain. Jangan kebal. Jangan cuek.
Dan, ketong mau bikin apa? Ada aksi. Ulurkan “kainmu”. Kain itu bisa berupa pesan WA: “Sahabatku.
Tetap semangat, beta ada dan mendoakanmu”. Adakah telinga yang mendengarkan tanpa menghakimi. Bisa juga berupa status doa yang dishare di jam 4 pagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)