Opini
Opini: Flobamora dalam Dikotomi Langit
Rangkaian perjalanan iklim NTT sepanjang bulan Mei 2026 diawali oleh sebuah kejutan berupa anomali transisi cuaca makro yang sangat kontras.
Berdasarkan peta analisis curah hujan aktual terbaru dari BMKG - Stasiun Klimatologi NTT, hampir 90 persen total luas daratan di provinsi ini kembali tertutup oleh gradasi warna cokelat pekat, hal ini merefleksikan curah hujan yang terjadi penurunan secara signifikan dengan kategori Rendah (kurang dari 20 mm/dasarian.
Kota-kota utama seperti Kupang, Labuan Bajo, Waingapu, Ba'a dan Seba kembali mencatat berkurangnya pertumbuhan awan-awan hujan yang signifikan.
Penurunan drastis volume air ini diperkuat oleh peta monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) per tanggal 31 Mei 2026, yang memperlihatkan titik-titik pos hujan didominasi oleh warna kuning dengan kategori Pendek (6 hingga 10 hari) dan warna oranye untuk kategori Menengah (11 hingga 20 hari tanpa hujan).
Bahkan, indikator warna cokelat tua untuk kategori HTH Panjang (21 hingga 30 hari tanpa hujan berturut-turut) telah mulai menyala di beberapa wilayah rentan, seperti Rambangaru di Sumba Timur serta beberapa wilayah pedalaman di Timor Barat, hal ini menandakan lapisan tanah atas mulai kehilangan kelembapan hidrologisnya secara cepat.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kota-Kota Besar Indonesia Hari Ini Selasa 2 Juni 2026
Untuk membedah kausalitas fisik di balik penurunan curah hujan yang drastis di akhir Mei dan prediksi probabilistik curah hujan awal Juni ini, kita harus melihat melampaui batas regional dan menelaah indikator termal lautan berskala global di Samudra Pasifik tropis.
Berdasarkan data pemantauan historis bulanan dan penampang melintang anomali suhu bawah permukaan laut (Sub-SST) Pasifik yang dirilis oleh BMKG dan International Research Institute for Climate and Society (IRI) Columbia University per Juni 2026, nilai anomali Sea Surface Temperature (SST) pada wilayah Nino3.4 tercatat berada pada angka positif 1.04 derajat Celsius.
Data numerik ini mengonfirmasi secara tegas bahwa iklim global saat ini sedang berada pada kondisi fenomena El Nino pada fase Lemah dan berpeluang besar terjadi peningkatan menuju fase Moderat, setelah sebelumnya sempat meluruh ke fase netral di awal tahun.
Pemodelan penampang bawah permukaan laut di sepanjang garis ekuator Pasifik memperlihatkan penumpukan energi panas berupa kolam air hangat (warm pool). (*)
Sumber Referensi
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2026). Peta Analisis Curah Hujan Dasarian NTT. Nusa Tenggara Timur.
- International Research Institute for Climate and Society (IRI). (2026). ENSO Climate Forecasts. Columbia University.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hamdan-Nurdin-02.jpg)