Opini
Opini: Children helping Children a la Pangeran Cilik
Anak-anak perlu dibiarkan bertumbuh dalam dunianya yang penuh kepolosan sambil tetap diarahkan untuk membangun relasi yang sehat.
Oleh: Antonius Guntramus Plewang
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Berbagai perangkat terbarukan seperti gawai, laptop, dan lainnya kini menyusup ke semua kalangan, dari orang tua sampai anak-anak usia belia. Masing-masing golongan disibukkan dengan aktivitas yang serba online.
Orang tua dengan grup WhatsApp keluarga besar, anak muda dan remaja dengan keterlibatannya di media sosial, anak-anak usia dini dengan dunia permainan online dan tontonan hiburannya.
Semua golongan tampaknya terfragmentasi oleh batasan-batasan platform digital. Tak pelak, ruang kebersamaan antara generasi ke generasi dibingkai sesuai minat di jagat digital.
Fenomena ini tampaknya cukup memprihatinkan. Golongan orang tua berusaha untuk memasuki ranah yang belum sempat mereka alami sebelumnya. Menariknya bahwa mereka sudah cukup matang untuk berinteraksi di ranah itu.
Baca juga: Opini: Pelajaran dari Pancasila bagi Kebijakan Satu Peta
Golongan kaum muda dan remaja menguasai ranah ini dengan keyakinan bahwa jagat digital merupakan bagian utuh dari diri mereka.
Kaum muda dan remaja mendominasi sebagian besar platform digital, saling menunjukkan jati diri mereka dengan prinsip siapa yang mau menguasai siapa dan dengan cara bagaimana.
Sementara itu, golongan anak-anak masuk ke ranah ini hanya bermodal keterampilan dalam mengoperasikan perangkat digital.
Secara umum, mereka belum memiliki kecakapan literasi digital untuk membuat kehadiran mereka di ranah ini menjadi kondusif. Mereka seakan dinilai sudah memiliki pemahaman yang sama seperti orang dewasa.
Dalam banyak peristiwa, dapat ditemukan anak-anak yang kondisi emosionalnya relatif tidak stabil, sikap dan tingkah lakunya tidak begitu ramah dan cenderung agresif, serta merasuknya sikap individualis.
Ruang Preventif
Di tengah situasi tersebut, pendekatan yang hanya berfokus pada pengawasan dan pembatasan penggunaan teknologi tampaknya tidak cukup.
Anak-anak membutuhkan ruang preventif yang memungkinkan mereka bertumbuh bersama sesamanya.
Ruang preventif ini bukan pertama-tama dibangun melalui aturan yang ketat, melainkan melalui pengalaman relasional yang sehat. Anak-anak perlu belajar mengenal, memahami, dan membantu anak-anak lain yang hidup bersama mereka.
Dengan demikian, mereka tidak tumbuh sebagai individu yang terisolasi di depan layar, melainkan sebagai pribadi yang mampu membangun kepedulian sosial.
Gagasan ini dapat dirumuskan dalam konsep Children Helping Children. Anak-anak tidak selalu harus menjadi objek bantuan dari orang dewasa.
Mereka juga memiliki kemampuan untuk membantu sesamanya sesuai kapasitas mereka.
Ketika seorang anak menghibur temannya yang sedih, membantu teman belajar, atau menemani temannya yang kesepian, ia sedang berpartisipasi dalam proses pembentukan karakter bersama.
Dalam tindakan-tindakan kecil seperti inilah nilai kemanusiaan ditanamkan sejak dini.
Inspirasi mengenai hal tersebut dapat ditemukan dalam novel Pangeran Cilik
( The Little Prince) karya Antoine de Saint-Exupéry.
Novel ini memperlihatkan kontras yang tajam antara cara berpikir orang dewasa dan cara pandang seorang anak.
Orang dewasa dalam kisah tersebut kerap digambarkan terlalu sibuk dengan kalkulasi matematis, posisi jabatan, dan keuntungan.
Segala sesuatu dinilai berdasarkan manfaat praktis dan hasil yang dapat diukur.
Cara berpikir semacam ini membuat mereka kehilangan kepekaan terhadap hal-hal sederhana yang justru memiliki makna mendalam.
Sebaliknya, Pangeran Cilik menghadirkan kaca mata yang berbeda. Ia bukan melulu memandang dunia berdasarkan prinsip untung dan rugi. Ia melihat nilai dalam relasi, perhatian, dan kebersamaan.
Sebab itu perjumpaannya dengan sang rubah menjadi salah satu bagian paling penting dalam novel tersebut.
Rubah mengajarkan bahwa relasi antarmakhluk hidup dibentuk melalui proses saling mengenal dan saling membutuhkan. Dari relasi itulah muncul kesetiaan dan tanggung jawab.
Pelajaran ini penting untuk direfleksikan dalam konteks kehidupan anak-anak saat ini.
Dunia anak sesungguhnya memiliki kekayaan yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa.
Anak-anak memiliki kemampuan untuk membangun imajinasi kolektif tentang kebahagiaan.
Anak-anak dapat bermain bersama tanpa terlalu mempersoalkan status sosial, latar belakang keluarga, ataupun perbedaan lainnya. Mereka lebih mudah melihat perbedaan sebagai keunikan daripada ancaman.
Dalam dunia mereka, kebersamaan sering kali lebih penting daripada kompetisi.
Namun, tidak jarang orang dewasa memaksakan cara pandangnya kepada anak-anak.
Sejak dini, mereka diajarkan untuk mengejar prestasi, menjadi yang terbaik, dan memenangkan persaingan.
Akibatnya, anak-anak perlahan meninggalkan dunia mereka yang penuh imajinasi dan mulai melihat sesamanya sebagai pesaing.
Mereka belajar mengukur nilai seseorang berdasarkan pencapaian yang tampak, bukan berdasarkan kualitas relasi yang dibangun.
Di sinilah kritik Pangeran Cilik menjadi relevan. “Apa yang esensial tidak selalu tampak oleh mata” (What is essentials is invisible to the eyes).
Persahabatan, kepedulian, dan kesetiaan tidak dapat dihitung secara matematis, tetapi justru itulah yang membuat hidup manusia menjadi bermakna.
Dewasa ini Children Helping Children perlu dipahami sebagai upaya menumbuhkan kembali imajinasi kolektif tentang kebersamaan.
Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk merawat benih-benih kebaikan yang telah ada dalam diri mereka.
Mereka perlu belajar bahwa tindakan sederhana seperti mendengarkan, menemani, berbagi, dan menolong sesama memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Tindakan-tindakan kecil tersebut mungkin tidak menghasilkan keuntungan yang dapat dihitung, tetapi mampu membentuk generasi yang lebih peka terhadap sesama.
Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia zaman bukanlah membuat anak-anak semakin mahir menggunakan teknologi, melainkan memastikan bahwa mereka tetap menjadi manusia yang mampu mencintai dan dicintai.
Anak-anak perlu dibiarkan bertumbuh dalam dunianya yang penuh kepolosan sambil tetap diarahkan untuk membangun relasi yang sehat dengan sesamanya.
Sebab, ketika anak-anak belajar membantu anak-anak lain, mereka sedang mempersiapkan masa depan yang lebih manusiawi.
Seperti yang diajarkan oleh Pangeran Cilik, hal-hal yang paling penting dalam hidup sering kali justru lahir dari tindakan-tindakan kecil yang tidak diperhitungkan oleh logika orang dewasa. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Antonius Guntramus Plewang
Children helping Children
Pangeran Cilik
digitalisasi
Opini Pos Kupang
Meaningful
Universitas Sanata Dharma
| Opini: Makna Pentahbisan Diakon dalam Perspektif Thomas Aquinas tentang Penggerak Pertama |
|
|---|
| Opini: Pelajaran dari Pancasila bagi Kebijakan Satu Peta |
|
|---|
| Opini: Ketika Luka Menjadi Pemandangan- NTT dan Kelelahan Merawat Sesama |
|
|---|
| Opini: Doxa Kapitalistik vs Aletheia Masyarakat- Menguji Pancasila dari Hutan Papua |
|
|---|
| Opini: Ekonomi Politik Ketakutan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Guntramus-Plewang.jpg)