Opini
Opini: Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri?
Pada tahun 2021, bunuh diri merupakan penyebab ketiga kematian tertinggi di antara usia 15–29 tahun secara global .
Lebih lanjut, hasil dari meta-analisis yang dilakukan oleh Poorolajal et al pada tahun 2022 mendukung pandangan bahwa kesadaran akan hubungan antara agama dan risiko bunuh diri dapat sangat membantu dalam kebijakan dan program pencegahan bunuh diri.
Oleh karena itu, diperlukan adanya pendekatan yang lebih selain pendekatan secara religiusitas, yaitu dukungan secara psikologis dalam hal penanganan di bidang kesehatan mental, serta dari segi lingkungan keluarga dan sosial.
Dalam perspektif psikologi, maka untuk mencegah terjadinya bunuh diri dapat melakukan coping religiusitas yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Berdoa
2. Menggambar
3. Mendengarkan musik
4. Membaca buku motivasi
Hal ini merupakan bagian dari terapi tersebut yang bertujuan memberikan makna pada kehidupan dan membantu individu dalam merasa terkoneksi dengan dunia dan merasa diterima (Marlina et al, 2025).
Selain itu, dapat didukung dengan salah satu strategi coping menurut Lazarus dan Folkman (dalam Marlina et al, 2025) menyatakan bahwa salah satu strategi coping adalah dengan adanya dukungan emosional dari orang lain baik secara langsung atau tidak.
Oleh karena itu, beribadah tidak langsung membuat seseorang untuk tidak melakukan tindakan bunuh diri, namun dengan beribadah seseorang mampu memiliki alasan agar tetap hidup dan menjalani kehidupannya dengan penuh makna.
Dengan demikian diperlukan adanya penggabungan dalam hal mengatasi tindakan bunuh diri, yaitu penanganan dari sisi religiusitas dan sisi kesehatan mental, serta dari sisi lingkungan keluarga dan sosial. (*)
Referensi
- Daniels, Ph.D, C. L., Ellison, Ph.D, C.G., DeAngelis, Ph.D, R.T., & Klee, M.S, K. (2023). Is irreligion a risk factor for suicidality? Findings from the Nashville stress and health study. J Relig Health. Vol. 62 No.6.
- Jie Du, Li. (2024). The associations between religiosity and resilience when individuals are challenged by risk factors of suicide and mental illness. Opinion.
- Krisnandita, G.O., & Christanti, D. (2022). Hubungan Antara Religiusitas dengan Kecenderungan Bunuh Diri pada Individu Dewasa Awal. Jurnal Pendidikan dan Konseling. Vol. 4 No.5.
- Marlina, M., Amanda, R.S., Suroji, S.A., Juliansyah, D., & Putri, M. (2025). Efektivitas Terapi Religius Coping dalam Mengatasi Self- Harm pada Mahasiswa. Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences. Vol. 3 No. 1.
- Mason, K., Moore, M., Palmer, J., Yang, Z. (2023). Religious Commitment and Intent to Die by Suicide during the Pandemic. Article.
- Poorolajal, MD, PhD, J., Goudarzi, PhD, M., Ensaf, MSc, F.G., & Darvishi, MSc, N. (2022). Relationship of Religion with Suicidal Ideation, Suicide Plan, Suicide Attempt, and Suicide Death: A Meta-analysis. Journal of Research in Health Sciences. Vol. 22 No.1.
- World Health Organization. (2021). Suicide prevention.
- Yuniaty, S., & Hamidah. (2019). Pengaruh Perceived Stress dan Religiusitas terhadap Intensi Bunuh Diri Dewasa Awal. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental. Vol. 4 No.1. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital |
|
|---|
| Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri |
|
|---|
| Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial |
|
|---|
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Sikap-Berdoa.jpg)