Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi?

Pendidikan karakter yang sejati tidak lahir dari slogan, melainkan dari keteladanan sistem yang mau mengoreksi diri.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YORIM YOSAVAT KAUSE
Yorim Yosavat Kause 

Jika sebuah polemik publik dijawab terutama dengan pemberian hadiah kepada pihak yang dirugikan, maka yang dipelajari orang muda bisa sangat problematis. 

Mereka bisa menangkap kesan bahwa yang terpenting bukanlah meluruskan prosedur, melainkan meredakan dampak emosional dan citra publik sesudah masalah terlanjur terjadi. 

Cara berpikir seperti ini berbahaya karena mendidik generasi muda untuk memandang kompensasi sebagai pengganti pembenahan prinsip.

Bahaya Moral dari Kompensasi

Tentu, beasiswa pada dirinya sendiri adalah hal yang baik. Beasiswa membuka jalan bagi masa depan, memberi penghargaan terhadap prestasi, dan menolong orang muda berkembang lebih jauh. 

Namun nilai baik itu menjadi kabur ketika beasiswa hadir di tengah polemik yang belum terlebih dahulu dijernihkan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Masalahnya bukan pada beasiswanya, melainkan pada posisi moral yang diberikan kepadanya. 

Jika beasiswa dibaca publik sebagai jawaban atas dugaan ketidakadilan prosedural, maka beasiswa itu berisiko dipahami bukan lagi sebagai penghargaan murni, melainkan sebagai penutup luka kelembagaan. 

Pada titik itu, orang muda dapat belajar pelajaran yang salah: bahwa kesalahan sistem tidak harus sungguh-sungguh diperbaiki, asalkan pihak yang terluka diberi sesuatu yang dianggap setimpal.

Pendidikan Publik Bagi Generasi Muda

Di tengah situasi sosial yang sering menuntut anak muda untuk tunduk dan diam, keberanian menyampaikan keberatan secara terbuka adalah pelajaran sipil yang penting. Karena itu, respons terhadap keberanian seperti ini juga harus mendidik. 

Ketika orang muda melihat kritik yang jujur dijawab dengan transparansi dan koreksi, mereka belajar bahwa kebenaran layak diperjuangkan dengan tertib dan bertanggung jawab. 

Sebaliknya, ketika keberanian moral hanya diakhiri dengan simpati simbolik tanpa pembenahan sistem, mereka dapat tumbuh dengan kesadaran yang rapuh tentang kehidupan publik. 

Mereka bisa menyimpulkan bahwa substansi tidak terlalu penting selama ada gestur yang cukup kuat untuk meredakan keadaan. 

Di sinilah Amsal 22:6 mengingatkan bahwa: generasi muda akan dibentuk oleh jalan yang terus-menerus diperlihatkan kepada mereka.

Karena itu, perlu ditegaskan bahwa keadilan dalam kompetisi publik tidak dapat digantikan oleh kompensasi personal. 

Bila memang terjadi kekeliruan penilaian, maka yang pertama-tama diperlukan adalah pengakuan institusional yang jujur, penjelasan resmi yang rinci, evaluasi proses penjurian, dan pembenahan mekanisme keberatan atau banding. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved