Opini
Opini: Menghormati Bunda Maria
Martabat sebagai ibu Tuhan diberikan oleh Tuhan sendiri (Bdk. Lukas 1:38). Tanpa itu tidak ada cerita lebih lanjut.
Devosi kepada Maria sudah terjadi jauh sebelum Kapten Nippon itu datang atau dilahirkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa devosi kepada Maria membentuk karakter orang-orang Flores secara unik dengan segala implikasi dan konsekuensi budaya yang mengikutinya.
Dengan kata lain, dalam situasi perang yang mencekam, sang Kapten Nippon tidak kehilangan religiositas dalam dirinya yang elegan untuk membaca hati dan raut wajah orang-orang beriman di Flores.
Mereka berdoa dan percaya diri. Hidup secara genuine (autentik). Mereka bekerja dan tidak ‘menambang’ seni, cara hidup dan bahasa bangsa Nippon yang kemudian gagal total di tanah air Flores.
Devosi rakyat kepada Bunda Maria bahkan melampaui dalih dan keputusan politik termasuk keputusan yang dari atas.
Devosi itu justru menciptakan panorama baru dalam pandangan matanya di negeri jajahan dengan nama pulau Bunga.
Dengan kata lain, orang-orang di Flores menghormati Bunda Maria. Mereka memiliki cara berdoa dan keyakinan kepadanya.
Dengan itu mereka memiliki kapasitas untuk membaca apakah pemimpinnya menghargai dan memiliki iman atau sebaliknya.
D. C. Schinder filsuf America dalam bukunya God and the City berargumen bahwa Tuhan bekerja melalui para pemimpin politik (Schindler, St. Augustine, Press, IN 2023).
Luka: Cinta tak punya alternatif
Dewasa ini kita berbicara tentang luka (wound). Macam-macam luka menunjukkan vulnerability (kerentanan). Sekuat apapun manusia, ia tetap rentan.
Kerentanan menyimpan dan menegaskan kapasitas besar, dashyat di dalam dirinya.
Ia bekerja secara organik setiap saat untuk hidup, bertahan, peduli dan terlibat. Kerentanan bukan kemalangan. Ia parallel dengan cermin. Bisa memantulkan.
Menolak kerentanan akan menjauhkan manusia dari realitas. Jelas ada konsekuensi yang fatal jika realitas (manusia) ditolak, disangkal apalagi ‘diamankan’ dalam bahasa order baru.
Ada luka yang ditanggungkan kepada yang lemah (PK 17 Mei 2026). Argumen berpikir itu jika dibalik akan berarti penyangkalan atas kebenaran dari orang-orang yang innocent atau tidak bersalah.
Ia sekaligus menghancurkan dengan paksa segala potensi yang relevan, organik, dinamis dan berkesinambungan.
Ada epidemi sosial yang tertutup, menyebar secara pyramidal dan kaum lemah dan rentan sebagai korban di atas mezbah dalam kasus virus HIV (Pos Kupang, 24 April 2026). Padahal penyebaran AIDS dan HIV terjadi melalui instrumen dan cara yang kompleks.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Beni-Wego-Pater.jpg)