Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini: Menghormati Bunda Maria

Martabat sebagai ibu Tuhan diberikan oleh Tuhan sendiri (Bdk. Lukas 1:38). Tanpa itu tidak ada cerita lebih lanjut. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BENI WEGO
Beni Wego 

Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana kedudukan dan peran Maria bagi Kristus sebagai Tuhan dan Penebus dunia adalah irrelevant dan tidak pada tempatnya. 

Jelasnya, Tuhan tidak menjadikan Maria sebagai tuhan untuk melampaui Tuhan sendiri. 

Tuhan yang memilih Maria. Maria tidak menawarkan diri. Ia bahkan menolak sebelum menerima dalam keyakinan akan jaminan sebagai Hamba Tuhan. 

Iman akan Allah di dunia yang fana ditegaskan. 

Politic in Town

Dalam novelnya The Song of Bernadette (Ignatius, 2006), Franz Werfel menampilkan sisi lain dari penampakan Bunda Maria di Lourdes.  

Werfel yang ketika itu berada di bawah bayang-bayang pengejaran Hitler dengan mesin operasi Nazi yang canggih dan mematikan, ia masih berpaling kepada event di gua yang sangat kotor pada waktu itu dan jauh dari perhatian publik. 

Pada bagian ketiga bab 28 (p. 326) ia menulis tentang Walikota (Major) Anselme Lacade. Ia adalah pemimpin kota saat peristiwa penampakan itu terjadi. Dus, ada politic in town.

Kalau begitu, kejadian di Lourdes bukanlah kegiatan dalam satu operasi rahasia. Sang walikota meragukan kejadian di gua, tempat di mana Bunda Maria dan Bernadette Soubirous bertemu dan berdialog. Ia kemudian bertahan. Malah menuduh mereka yang hendak menutup gua itu sebagai tindakan kudeta. 

Sang walikota tidak melakukan konfrontasi dan menolak apalagi bersikap brutal terhadap sikap dan keyakinan sekitar 20.000 penduduk sederhana dan setia dalam iman yang sudah lama hidup dan tinggal di kaki dan lembah pegunungan Pyrenees. 

Mereka meyakini kejadian di gua dengan sungai jernih yang mengaliri kota itu, sebagai kejadian iman. Jadi Werfel menulis tentang kenyataan dan fakta (realitas) sosial yang terjadi dan meliputi kota. 

Ia menulis tentang kejadian spiritual yang unik dalam kehidupan manusia dan dialami oleh seorang gadis sederhana dan kecil: Bernadette. 

Jelas, ia menulis bukan untuk membuat sejarah, mengubah karakter dan kehidupan orang-orang di Lourdes. 

 “…ketika saya menulis bait-bait pertama [the Song of Bernadette] saya berjanji bahwa saya selamanya dan di manapun dalam semua tulisanku, memuliakan misteri Ilahi dan kesucian manusia.”

Dalam bukunya I remember Flores, New York, 1957 Kapten Jepang Tasuku Sato dihadapkan pada kenyataan akan keyakinan umat sederhana di Flores yang memiliki devosi kepada Bunda Maria

Ia menulis, “Pater Sanders, seorang imam Belanda tiba di sini pada tahun 1851. Ia masih mendapatkan umat mempertahankan iman mereka meskipun tanpa imam. Bersama raja dan umat, ia berlutut mengucapkan doa rosario.” (Ende, Nusa Indah, 2005 p.164)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved