Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Membangun Komunikasi Kasih di Tengah Dunia yang Ramai Bicara

Manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga kehangatan relasi yang mampu memulihkan kemanusiaannya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FIDEL DARSO
Fidel Darso 

Oleh: Fidel Darso
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di era digital, manusia bukan paradoks komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya: semua orang dapat berbicara  tetapi semakin sedikit yang sungguh-sungguh mendengar. 

Informasi bergerak tanpa henti, percakapan hadir di setiap layar tetapi relasi antarmanusia justru semakin rapuh. 

Kita hidup di zaman ketika kata-kata melimpah, tetapi ketulusan perlahan menghilang. Generasi digital hari ini tidak kekurangan ruang untuk berbicara. 

Sebaliknya, mereka hidup dalam ledakan komunikasi yang terus bergerak setiap detik. 

Baca juga: Opini: Pesta Babi- Tamparan Bagi Negara yang Gagal Berpesta Secara Manusiawi

Media sosial memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat, menanggapi isu, bahkan memengaruhi pandangan publik hanya melalui satu unggahan singkat. 

Namun di balik kemudahan itu, muncul satu persoalan besar: komunikasi semakin kehilangan kasih.

Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan sehar-hari. Media sosial dipenuhi hujatan, sindiran, fitnah, dan bahkan penghakiman yang diproduksi tanpa jeda. Perbedaan pendapat politik mudah berubah menjadi permusuhan. 

Kritik kerap kali disampaikan tanpa etika. Bahkan rasa hormat dapat hilang hanya karena seseorang memiliki pilihan atau pandangan yang berbeda.

Komunikasi yang Kehilangan Arah

Perkembangan teknologi digital sebenarnya membawa harapan besar bagi kehidupan manusia. Komunikasi menjadi lebih cepat, praktis, dan terbuka. 

Orang dapat terhubung lintas daerah dan negara dalam hitungan detik. Namun kelimpahan komunikasi ini tidak otomatis melahirkan kedekatan. 

Yang terjadi justru paradoks baru: manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin terasing secara emosional.

Hari ini banyak orang berbicara hanya untuk bereaksi, bukan untuk memahami. Kata-kata bergerak lebih cepat daripada refleksi. Orang lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. 

Sesuatu dianggap benar bukan karena telah dipikirkan secara matang, melainkan karena sesuai dengan emosi dan mendapat dukungan banyak orang. 

Generasi digital tumbuh dalam budaya komunikasi yang serba cepat. Mereka terbiasa memberi respons instan, tetapi tidak selalu terbiasa membangun dialog yang mendalam. 

Akibatnya, komunikasi perlahan kehilangan dimensi relasionalnya. Orang berbicara bukan lagi untuk membangun pengertian tetapi untuk pertahankan ego dan memenangkan perdebatan.

Ketika Kata-Kata Kehilangan Kasih

Padahal, komunikaasi sejatinya bukan sekadar  menyampaikan informasi. Komunikasi adalah cara manusia menghadirkan dirinya secara utuh kepada sesama. 

Di dalam komunikasi terdapat penghargaan, perhatian, dan pengakuan terhadap martabat manusia. 

Ketika kasih hilang dari komunikasi, maka kata-kata kehilangan daya manusianya. Situasi inilah yang banyak terlihat di ruang digital hari ini. 

Media sosial sering berubah menjadi ruang pelampiasan emosi. Orang merasa bebas menyerang karena bersembunyi di balik layar. 

Tidak sedikit pula anak muda yang tumbuh dalam budaya komunikasi yang keras dan penuh cemoohan, sehingga menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang biasa.

Dalam kondisi seperti ini, komunikasi kasih menjadi semakin penting. Komunikasi kasih bukan berarti menghindari kritik atau menolak perbedaan. 

Sebaliknya, komunikasi kasih adalah kemampuan menyampaikan kebenaran dengan cara yang manusiawi. Ia mengajarkan bahwa perbedaan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan kebencian.

Paus Fransiskus dan Krisis Komunikasi Modern

Mendiang Paus Fransiskus dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-57 pernah menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan komunikasi yang “mendengarkan dengan hati.” 

Mendengar, menurutnya, bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan keterbukaan batin terhadap pengalaman dan pergumulan sesama.

Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang lebih sibuk menanggapi daripada memahami. 

Orang berlomba menyampaikan pendapat, tetapi semakin jarang membuka ruang dialog yang sehat. Akibatnya, komunikasi kehilangan empati dan berubah menjadi arena pertarungan ego. 

Dalam eniklik Frateli Tutti, mendiang Paus Fransiskus juga mengkritik budaya komunikasi digital yang kerap kali melahirkan agresivitas verbal dan polarisasi sosial. 

Menurutnya,  relasi manusia tidak boleh kehilangan semangat persaudaraan. Komunikasi seharusnya menjadi jembatan yang mendekatkan manusia, dan bukan sebagai tembok yang memisahkan. 

Pandangan Gereja tersebut menunjukkan bahwa persoalan komunikasi bukan sekadar masalah teknologi, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan. Cara manusia berbicara mencerminkan kualitas hati dan kedewasaan etikanya.

Kemarau Dialog di Era Digital

Bagian paling sunyi dari krisis komunikasi modern adalah hilangnya kemampuan mendengar. 

Manusia semakin terbiasa menyampaikan pendapat, tetapi tidak lagi sabar mendengar pandangan yang berbeda. Dalam ruang digital, percakapan kerap kali berubah menjadi monolog yang saling bertabrakan. 

Fenomena ini juga terlihat dalam kehidupan keluarga. Anggota keluarga tinggal serumah tetapi hidup dalam dunia masing-masing. 

Meja makan yang dahulu menjadi ruang berbagi cerita perlahan berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi cahaya layar telpon genggam.

Dalam dunia pendidikan, budaya dialog sering kalah oleh budaya saling mengejek dan perundungan verbal. 

Di ruang publik, perbedaan politik, dan agama mudah menjadi permusuhan. Orang tidak lagi berdiskusi untuk mencari pengertian bersama, tetapi untuk memertahankan keyakinan sendiri. 

Akibatnya, masyarakat kehilangan ruang komunikasi yang sehat. Padahal tanpa dialog, kehidupan bersama akan dipenuhi prasangka, kebencian, dan rasa saling curiga.

Membangun Kembali Komunikasin yang Manusiawi

Jika ada sesuatu yang perlu dipulihkan di tengah generasi digital saat ini, maka itu adalah komunikasi kasih. 

Manusia perlu kembali belajar mendengar sebelum berinteraksi, memahami sebelum menghakimi, dan berdialog sebelum menyerang. 

Membangun komunikasi kasih harus dimulai dari lingkaran terkecil, yaitu keluarga. Sebab keluarga adalah sekolah pertama tempat manusia belajar, mendengar, memahami, dan menghargai sesama. 

Percakapan sederhana saat makan bersama, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, atau menyelesaikan konflik dengan kepala dingin merupakan bentuk komunikasi kasih yang mulai langka.

Dunia pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan cara berbicara yang manusiawi. 

Generasi muda perlu diajarkan etika berdialog, kemampuan mendengar, dan penghormatan terhadap perbedaan. Selain itu, media sosial juga perlu digunakan secara lebih bijak. 

Kebebasan berbicara tidak boleh dipahami sebagai kebebasan untuk melukai. Kata-kata memilki kekuatan besar; dapat menyembuhkan, tetapi juga dapat menghancurkan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi digital bukanlah kurangnya teknologi komunikasi, melainkan hilangnya kemanusiaan dalam komunikasi itu sendiri. 

Banjir kata-kata tanpa kasih hanya akan melahirkan kebisingan. Komunikasi tanpa empati hanya akan melahirkan luka sosial. Dan kedekatan tanpa ketulusan hanya akan melahirkan kesepian. 

Di tengah dunia semakin mudah berbicara tetapi semakin sulit memahami, komunikasi kasih bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. 

Sebab manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga kehangatan relasi yang mampu memulihkan kemanusiaannya. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved