Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Basilius Agung di Era Globalisasi

Gereja yang berpartisipasi dalam budaya dengan kritis dan kreatif adalah Gereja yang setia pada misi inkarnasi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI REDEGUNDIS KESA
Redegundis Kesa 

Menghidupkan Kembali Tanggung Jawab Sosial Gereja

Oleh: Sr. Redegundis Kesa, FAdM
Mahasiswi Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, Gereja menghadapi tantangan yang kompleks dan multidimensi. 

Justru di saat seperti inilah kita perlu kembali menggali kekayaan ajaran para Bapa Gereja dan tradisi masa lampau. 

Salah satu tokoh yang memberikan teladan luar biasa adalah Santo Basilius Agung (329-379 M), uskup dari Kapadokia yang berhasil mengintegrasikan iman dengan realitas sosial budaya zamannya. 

Baca juga: Opini: Menolak Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Tulisan ini akan merefleksikan tiga hal penting yang dapat dipelajari untuk kehidupan Gereja masa kini: partisipasi kritis-kreatif dalam budaya, tanggung jawab sosial di era globalisasi, dan keterbukaan terhadap Allah Pencipta sebagai fondasi membangun dunia yang lebih adil dan bersaudara.

Partisipasi Kritis-Kreatif dalam Budaya Zaman

Pertama, Gereja dipanggil untuk berpartisipasi dalam budaya zaman sekarang dengan penuh minat, kritis, dan kreatif. 

Sikap ini bukanlah kompromi terhadap nilai-nilai Injil, melainkan bentuk inkarnasi iman yang relevan dalam konteks kekinian. 

Gereja tidak boleh kehilangan fokus pada ajaran inti tentang Kristus, namun juga perlu memastikan bahwa ajaran tersebut dapat diakses dan dipahami oleh orang-orang zaman sekarang.

Santo Basilius Agung memberikan teladan dalam hal ini. Ia dikenal berhasil mengintegrasikan kebudayaan klasik Yunani-Romawi ke dalam agama Kristen tanpa kehilangan identitas imannya. 

Sebagai seorang orator ulung, Basilius memanfaatkan kemampuan retorika yang dipelajarinya dari pendidikan terbaik di dunia kuno untuk mewartakan Injil. 

Ia tidak menolak budaya yang ada pada masanya, tetapi justru terlibat secara mendalam, mengkritisi, dan mentransformasikannya dengan terang iman Kristen.

Di era modern ini, Gereja menghadapi tantangan serupa namun dalam konteks yang berbeda. 

Penggunaan budaya, terutama dalam bentuk musik dan teknologi, dapat membuat kebaktian gereja lebih relevan dan menarik bagi generasi muda. 

Gereja yang mampu beradaptasi dengan cepat akan lebih baik dalam memenuhi kebutuhan jemaat dan masyarakat di tengah perubahan yang pesat. 

Namun, adaptasi ini harus disertai dengan daya kritis yang tajam untuk menyaring nilai-nilai yang bertentangan dengan Injil, sekaligus kreativitas untuk menemukan cara-cara baru dalam mewartakan Kabar Baik yang tak pernah usang.

Tanggung Jawab Sosial di Era Globalisasi

Kedua, kita hidup di era globalisasi di mana bangsa-bangsa yang jauh secara fisik benar-benar menjadi sesama kita. Realitas ini menuntut tanggung jawab sosial yang lebih luas dari Gereja. 

Gereja memang memiliki dasar-dasar tanggung jawab untuk membantu mengentaskan kemiskinan tanpa memandang etnis ataupun agama.

Santo Basilius Agung memberikan contoh konkret melalui pembangunan "Basiliad," sebuah kompleks besar di pinggiran kota Kaesarea yang berfungsi sebagai rumah sakit, panti untuk orang miskin, dan pusat pelayanan sosial. 

Ia terkenal dengan ucapannya yang radikal: "Roti di lemari Anda adalah milik orang lapar; pakaian yang tidak terpakai adalah milik orang telanjang." 

Pernyataan ini menunjukkan pemahaman Basilius yang mendalam tentang keadilan distributif dan tanggung jawab orang kaya terhadap yang miskin.

Dalam konteks globalisasi saat ini, ajaran Basilius semakin relevan. Globalisasi, yang didorong oleh teknologi baru dan ekspansi ekonomi, membawa dampak positif dan negatif. 

Di satu sisi, globalisasi membuka peluang bagi Gereja untuk menjangkau lebih banyak orang dan membangun solidaritas lintas batas. 

Di sisi lain, globalisasi juga memperlebar jurang ketimpangan dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

Praktik tanggung jawab sosial gereja yang baik sudah menjadi bukan hanya kewajiban tetapi keharusan bahkan kebutuhan bagi gereja saat ini dan masa mendatang. 

Gereja harus keluar dari kungkungan ritualistik dan terlibat secara nyata dalam transformasi sosial. 

Komitmen ini bukan sekadar program sosial, melainkan ekspresi konkret dari kasih Kristus yang memihak pada yang miskin, tersingkir, dan tertindas.

Terbuka bagi Allah Pencipta

Ketiga, hanya dengan mengenal dan mengakui Allah Pencipta, Bapa kita semua, serta terbuka bagi-Nya, kita dapat membangun dunia yang lebih adil dan bersaudara. 

Teologi penciptaan mengajarkan bahwa Allah tidak lepas tangan dari ciptaan-Nya, tetapi tetap hadir dan aktif dalam sejarah manusia.

Santo Basilius Agung dalam karya terbesarnya, Hexaemeron (komentar tentang enam hari penciptaan), menunjukkan kedalaman teologi penciptaannya. 

Ia menyajikan kosmologi Kristen yang melampaui batasan spasial dan temporal, tetap teratur dan disengaja. 

Basilius melihat kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian sebagai narasi dengan pesan teologis yang mendalam: wahyu Allah sebagai Pencipta.

Pengakuan akan Allah sebagai Bapa semua manusia menghancurkan sekat-sekat eksklusivitas dan membangun solidaritas universal. Jika Allah adalah Bapa kita semua, maka semua manusia adalah saudara. 

Implikasi etis dari kebenaran teologis ini sangat radikal: kita tidak bisa mengklaim mencintai Allah yang tak terlihat sambil membenci atau mengabaikan saudara kita yang terlihat.

Hanya dengan berakar pada Allah Pencipta, kita dapat menjadi rekan-rekan sekerja Allah dalam merawat ciptaan dan membangun peradaban kasih. 

Dalam konteks krisis ekologi dan ketidakadilan sosial saat ini, teologi penciptaan menawarkan fondasi teologis yang kokoh untuk aksi sosial dan pelestarian lingkungan.

Penutup

Tiga hal penting ini: partisipasi kritis-kreatif dalam budaya, tanggung jawab sosial di era globalisasi, dan keterbukaan terhadap Allah Pencipta; bukanlah tiga hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang utuh. 

Gereja yang berpartisipasi dalam budaya dengan kritis dan kreatif adalah Gereja yang setia pada misi inkarnasi. 

Gereja yang menjalankan tanggung jawab sosial adalah Gereja yang menghidupi kasih Kristus secara konkret. Dan Gereja yang terbuka bagi Allah Pencipta adalah Gereja yang menemukan identitas dan misinya yang sejati.

Tantangan Gereja masa kini bukanlah hal yang mudah karena tantangan itu selalu mengalami perubahan. 

Namun, dengan berpegang pada warisan iman para  Bapa Gereja seperti Santo Basilius Agung dan membukanya bagi konteks kekinian, Gereja akan tetap menjadi "sakramen umum keselamatan" bagi dunia.

Pada akhirnya, hanya dengan bersahabat dengan Kristus, Allah yang berwajah manusiawi dan terbuka bagi Allah Pencipta, kita dapat membangun dunia yang lebih adil dan bersaudara. 

Inilah misi Gereja sepanjang zaman, yang tetap relevan dan mendesak untuk dihidupi hari ini. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved