Opini
Opini: Ocha Pemenang Sejati
Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran publik itu tidak bisa dikebiri secara sepihak oleh siapa pun dengan gelar dan jabatan apa pun.
Akankah kita tetap memelihara dan merawat ketidakadilan dan ketidakbenaran di kalangan kaum intelektual (juri) dalam menyiapkan generasi Z?
Persoalan Ocha mempertahankan kebenaran atas jawaban dalam debat itu sebagai bentuk dobrakan baru bagi kaum intelektual, pemerhati kebenaran dan keadilan untuk tidak diam seribu bahasa dan membiarkan ketidakadilan menggurita di republik ini.
Republik ini terbentuk berlandaskan pancasila yang di dalamnya ada sila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Itu artinya semua rakyat yang ada di ibu pertiwi Indonesia ini diberlakukan secara seimbang dan tidak berat sebelah dengan alasan apa pun.
Juri boleh mengambil keputusan secara mutlak tapi bukan mengkebirikan kebenaran secara mutlak.
Kejadian yang meresahkan hati Ocha bersama tim debatnya itu menjadi keresahan dari bangsa ini. Artinya Indonesia dan para elite politik yang urus negara ini harus adil dan benar.
Adil dan benar bukan hanya teori semata tetapi sikap, dan tindakan nyata dalam seluruh drama kehidupan.
Melihat realitas suram ini, kaum intelektual yang berkompeten dan pengurus negara tidak boleh diam.
Harus bertindak tegas kepada pelaku yang mengeribirikan kebenaran agar tidak mengulangi hal yang sama di bidang pendidikan, dan semua bidang kehidupan yang berkaitan dengan bonnum commune.
Jika perosalan ini dibiarkan merajalela maka negara mengizinkan figur-figur yang dikatakan berkompeten dalam bidangnya oleh lembaga-lembaga tertentu untuk merusak kemajuan bangsa ini.
Peradaban bangsa bisa hancur kalau kaum intelektual, para elite politik tidak mampu urus negara ini berlandaskan pada kebenaran dan asas keadilan.
Mari jadikan pengalaman Ocha gadis mungil SMAN I Pontianak, menjadi cermin untuk setia berkaca dalam setiap tapak ziarah selanjutnya.
Manusia boleh sekolah tinggi-tinggi tetapi tidak mampu membumikan nilai-nilai kebenaran dan asas keadilan di dalam realitas nyata sama dengan hampa.
Ocha tidak pernah kalah walaupun suara kebenarannya dikebiri hingga minus lima (-5). Malah dialah sang juara yang mampu menggoreskan hati seluruh warga Indonesia tentang arti kebenaran yang sesungguhnya.
Terima kasih Ocha. Teruslah mengepakkan sayap, dan terbanglah setinggi langit, tetap membumi. Kelak menjadi berkat sejuk bagi luka dan gelap Indonesia hari ini.
Proficiat kepada Ocha, dan team debatnya yang sudah memenangkan lomba debat CCL tingkat SMA se- Provinsi Kalimantan Barat.
Kalian boleh dikalahkan oleh juri namun kalian luar biasa karena telah memenangkan hati seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Josepha Alexandra
Yohanes Mau
Opini Yohanes Mau
Opini Pos Kupang
Lomba Cerdas Cermat
empat pilar
Empat Pilar MPR RI
Meaningful
Pontianak
| Opini: Ketika Anak Meminta Roti, Jangan Beri Ular- Menata Ulang Tanggung Jawab Dalam MBG |
|
|---|
| Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit? |
|
|---|
| Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital |
|
|---|
| Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat? |
|
|---|
| Opini: Doa Syafaat untuk Status PPPK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Mau-03.jpg)