Opini
Opini: Ocha Pemenang Sejati
Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran publik itu tidak bisa dikebiri secara sepihak oleh siapa pun dengan gelar dan jabatan apa pun.
Tidak Pernah Kalah Walaupun Suara Kebenarannya Dikebiri hingga Minus Lima
Oleh: Yohanes Mau
Staf guru di SMA Katolik St. Josef Freinademetz- Tambolaka, Sumba Barat Daya- Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Gaung suara Ocha sapaan manis siswi SMAN I Pontianak, Kalimantan Barat dalam lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat pilar MPR RI, menembusi jagat maya hingga dunia internasional.
Bagaimana mungkin tidak viral, kebenaran yang mutlak secara literal dan substansial dicurangi oleh juri hingga potong poin minus lima (-5) di hadapan lawan dan publik. Padahal jawaban Ocha, perwakilan timnya itu benar.
Coba kita lihat jawaban Ocha atas pertanyaan juri, anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan diresmikan oleh Presiden. Dewan juri memvonis jawaban benar menjadi salah.
Baca juga: Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat?
Namun Ocha, pemilik nama lengkap Josepha Alexandra, tidak diam seribu bahasa dan membiarkan kebenaran itu dikibiri oleh juri yang gagal paham, dan tidak fokus memperhatikan secara teliti tentang kebenaran yang tersaji dalam jawaban Ocha.
Ocha gadis mungil itu dengan tegas mengatakan, “Tadi kami menjawab sama seperti regu B.” Namun juri mengatakan bahwa, “dalam jawaban yang disampaikan oleh Ocha itu pertimbangan DPD-nya tidak ada.” Dan akhirnya juri mengatakan “ah keputusan saya kira di dewan juri ya!”
Juri yang dijuluki berkompeten kok tidak rendah hati memenuhi permintaan Ocha agar MC/juri bertanya kepada penonton sebagai saksi, bahwa jawabannya sama dengan jawaban regu B yang dibenarkan oleh juri. Sayangnya permintaan itu pun tidak dikabulkan juri.
Setelah mengikuti sajian video kontraversi lomba LCC tingkat SMAN I Pontianak, Kalimantan Barat tersebut menimbulkan aneka protes dari belbagai penjuru daerah di Indonesia.
Menarik sekali karena viralnya video ini menggoreskan hati seluruh warga negara, dan aneka komentar di semua media sosial, media cetak, dan media elektronik yang sangat gencar.
Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran publik itu tidak bisa dikebiri secara sepihak oleh siapa pun dengan gelar dan jabatan apa pun.
Jawaban benar secara literal dari Ocha dalam debat itu disalahkan oleh juri dengan alasan keputusan mutlak ada di dewan juri, walaupun keputusan itu salah total.
Itu artinya juri secara tahu dan mau membunuh pertumbuhan karakter peserta didik yang kritis mempertahankan kebenaran. Inilah resah realitas dunia pendidikan hari ini.
Juri berkompeten tetapi minus kualitas dan tidak murni dalam mengambil keputusan yang adil berdasarkan kebenaran yang sebenar-benarnya.
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat pilar MPR RI yang di dalamnya mencakup Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dicederai oleh juri.
Jika hal seperti ini dibiarkan oleh negara lantas akan jadi apakah persiapan generasi Z nantinya?
Akankah kita tetap memelihara dan merawat ketidakadilan dan ketidakbenaran di kalangan kaum intelektual (juri) dalam menyiapkan generasi Z?
Persoalan Ocha mempertahankan kebenaran atas jawaban dalam debat itu sebagai bentuk dobrakan baru bagi kaum intelektual, pemerhati kebenaran dan keadilan untuk tidak diam seribu bahasa dan membiarkan ketidakadilan menggurita di republik ini.
Republik ini terbentuk berlandaskan pancasila yang di dalamnya ada sila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Itu artinya semua rakyat yang ada di ibu pertiwi Indonesia ini diberlakukan secara seimbang dan tidak berat sebelah dengan alasan apa pun.
Juri boleh mengambil keputusan secara mutlak tapi bukan mengkebirikan kebenaran secara mutlak.
Kejadian yang meresahkan hati Ocha bersama tim debatnya itu menjadi keresahan dari bangsa ini. Artinya Indonesia dan para elite politik yang urus negara ini harus adil dan benar.
Adil dan benar bukan hanya teori semata tetapi sikap, dan tindakan nyata dalam seluruh drama kehidupan.
Melihat realitas suram ini, kaum intelektual yang berkompeten dan pengurus negara tidak boleh diam.
Harus bertindak tegas kepada pelaku yang mengeribirikan kebenaran agar tidak mengulangi hal yang sama di bidang pendidikan, dan semua bidang kehidupan yang berkaitan dengan bonnum commune.
Jika perosalan ini dibiarkan merajalela maka negara mengizinkan figur-figur yang dikatakan berkompeten dalam bidangnya oleh lembaga-lembaga tertentu untuk merusak kemajuan bangsa ini.
Peradaban bangsa bisa hancur kalau kaum intelektual, para elite politik tidak mampu urus negara ini berlandaskan pada kebenaran dan asas keadilan.
Mari jadikan pengalaman Ocha gadis mungil SMAN I Pontianak, menjadi cermin untuk setia berkaca dalam setiap tapak ziarah selanjutnya.
Manusia boleh sekolah tinggi-tinggi tetapi tidak mampu membumikan nilai-nilai kebenaran dan asas keadilan di dalam realitas nyata sama dengan hampa.
Ocha tidak pernah kalah walaupun suara kebenarannya dikebiri hingga minus lima (-5). Malah dialah sang juara yang mampu menggoreskan hati seluruh warga Indonesia tentang arti kebenaran yang sesungguhnya.
Terima kasih Ocha. Teruslah mengepakkan sayap, dan terbanglah setinggi langit, tetap membumi. Kelak menjadi berkat sejuk bagi luka dan gelap Indonesia hari ini.
Proficiat kepada Ocha, dan team debatnya yang sudah memenangkan lomba debat CCL tingkat SMA se- Provinsi Kalimantan Barat.
Kalian boleh dikalahkan oleh juri namun kalian luar biasa karena telah memenangkan hati seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Josepha Alexandra
Yohanes Mau
Opini Yohanes Mau
Opini Pos Kupang
Lomba Cerdas Cermat
empat pilar
Empat Pilar MPR RI
Meaningful
Pontianak
| Opini: Ketika Anak Meminta Roti, Jangan Beri Ular- Menata Ulang Tanggung Jawab Dalam MBG |
|
|---|
| Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit? |
|
|---|
| Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital |
|
|---|
| Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat? |
|
|---|
| Opini: Doa Syafaat untuk Status PPPK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Mau-03.jpg)