Opini
Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital
Tentu kita semua mengenal sosok Galileo Galilei sebagai salah satu ilmuwan besar dalam sejarah dunia.
Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital
Oleh: Irenius Castanheira Bere
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Tentu kita semua mengenal sosok Galileo Galilei sebagai salah satu ilmuwan besar dalam sejarah dunia.
Namanya sering dikaitkan dengan teleskop, penelitian tentang planet, dan keberaniannya mempertahankan kebenaran ilmiah.
Galileo bukan hanya seorang astronom, tetapi juga seorang pemikir yang mengubah cara manusia memandang alam semesta.
Melalui penelitiannya, ia mendukung teori heliosentris dari yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya, sedangkan bumi bergerak mengelilinginya.
Pada zamannya, pandangan ini dianggap berbahaya karena bertentangan dengan keyakinan lama bahwa bumi adalah pusat alam semesta.
Saat ini dunia memang sudah jauh berbeda dibanding zaman Galileo. Manusia hidup di era digital, yaitu zaman ketika teknologi dan internet menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Hampir semua aktivitas manusia sekarang berkaitan dengan dunia digital, mulai dari komunikasi, pendidikan, hiburan, hingga penyebaran informasi.
Media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube membuat manusia dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik. Dunia terasa semakin cepat dan tanpa batas.
Namun di balik kemajuan itu, muncul persoalan besar yang sekarang sangat terasa dalam kehidupan masyarakat, yaitu krisis kebenaran.
Krisis kebenaran berarti keadaan ketika manusia semakin sulit membedakan mana fakta dan mana kebohongan.
Banyak informasi palsu beredar di internet dan sering kali dipercaya begitu saja tanpa diperiksa terlebih dahulu.
Dalam dunia digital, sesuatu yang viral sering dianggap benar, padahal belum tentu sesuai dengan kenyataan. Fenomena ini semakin parah dengan munculnya teknologi Artificial Intelligence atau AI.
Teknologi AI sekarang mampu membuat foto, video, bahkan suara palsu yang tampak sangat nyata. Banyak video deepfake beredar di media sosial dan membuat orang sulit membedakan mana asli dan mana editan.
Ada video tokoh publik yang terlihat sedang berbicara atau memberikan pernyataan tertentu, padahal sebenarnya video itu hasil manipulasi teknologi.
Situasi seperti ini sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kisah Galileo Galilei. Pada zaman Galileo, masyarakat terlalu percaya pada pandangan lama yang sudah dianggap mutlak.
Teori geosentris yang mengatakan bumi adalah pusat alam semesta diterima sebagai kebenaran tanpa banyak dipertanyakan.
Pandangan ini berasal dari pemikiran dan diperkuat oleh astronom . Selain itu, beberapa tokoh Gereja juga mendukung pandangan tersebut karena dianggap sesuai dengan penafsiran Kitab Suci.
Galileo mencoba membuktikan bahwa pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Ia menyempurnakan teleskop lalu mengamati langit secara langsung.
Dari penelitiannya, Galileo menemukan bahwa bulan memiliki kawah dan gunung, matahari memiliki bintik-bintik, serta Jupiter memiliki empat satelit yang mengelilinginya.
Penemuan lain yang paling penting adalah fase Venus yang menunjukkan bahwa Venus bergerak mengelilingi matahari. Semua penemuan itu menjadi bukti kuat bahwa bumi bukan pusat alam semesta.
Namun penemuan Galileo justru ditolak oleh banyak pihak. Ia dianggap melawan ajaran Gereja dan merusak keyakinan masyarakat.
Konflik terbesar terjadi pada masa Paus ketika Galileo diadili oleh Inkuisisi Gereja pada tahun 1633 dan dipaksa menarik kembali pendapatnya.
Dari kisah ini terlihat bahwa manusia sering kali takut menerima kebenaran baru. Banyak orang lebih nyaman mempertahankan keyakinan lama daripada menerima fakta yang berbeda. Di sinilah muncul apa yang disebut dogma.
Dogma adalah ajaran atau keyakinan yang diterima sebagai kebenaran tetap dan tidak boleh dipertanyakan. Dalam agama, dogma sebenarnya memiliki tujuan baik untuk menjaga iman.
Namun ketika manusia terlalu fanatik dan menolak fakta, dogma dapat berubah menjadi penghalang bagi perkembangan pengetahuan.
Hal yang mirip ternyata masih terjadi di era digital sekarang. Bedanya, jika dahulu manusia terlalu percaya pada otoritas dan tradisi, hari ini manusia terlalu mudah percaya pada media sosial dan informasi viral.
Banyak orang langsung percaya pada suatu berita hanya
karena banyak dibagikan atau sesuai dengan pendapat kelompoknya. Akibatnya, hoaks dan
kebohongan menyebar sangat cepat.
Krisis kebenaran di tengah dunia digital membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis. Orang lebih mudah terpancing emosi daripada memeriksa fakta secara rasional.
Bahkan kadang-kadang kebohongan yang diulang terusmenerus akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Fenomena ini sangat berbahaya karena dapat memecah masyarakat, menimbulkan kebencian, bahkan merusak kehidupan sosial.
Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Teknologi digital juga membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Manusia menjadi lebih mudah belajar, berkomunikasi, dan mendapatkan informasi.
Namun teknologi akan menjadi berbahaya jika digunakan tanpa tanggung jawab moral dan tanpa kemampuan berpikir kritis.
Kisah Galileo mengajarkan bahwa mencari kebenaran membutuhkan keberanian. Galileo tetap mempertahankan hasil penelitiannya walaupun mendapat tekanan besar.
Ia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berkembang karena manusia berani mempertanyakan sesuatu yang dianggap pasti.
Selain itu, Galileo juga mengajarkan pentingnya kerendahan hati. Dulu manusia merasa bumi adalah pusat alam semesta.
Namun setelah penelitian berkembang, manusia sadar bahwa bumi hanyalah bagian kecil dari kosmos yang sangat luas.
Kesadaran ini penting supaya manusia tidak terlalu sombong dan merasa dirinya paling benar. Walaupun manusia bukan pusat alam semesta, manusia tetap memiliki martabat karena memiliki akal dan kemampuan berpikir. Akal budi adalah anugerah yang membantu manusia mencari kebenaran.
Karena itu, manusia seharusnya menggunakan teknologi digital dengan bijaksana dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya.
Di era digital sekarang, manusia membutuhkan semangat seperti Galileo Galilei. Manusia perlu berani berpikir kritis, memeriksa fakta, dan tidak mudah terjebak dalam fanatisme atau manipulasi media sosial.
Dunia digital membutuhkan manusia yang mampu menggunakan akal sehat di tengah banjir informasi yang terus mengalir setiap hari.
Pada akhirnya, kisah bukan hanya tentang matahari dan bumi, tetapi tentang perjuangan manusia dalam mencari kebenaran.
Jika dahulu Galileo melawan dogma yang menolak ilmu pengetahuan, hari ini manusia harus melawan budaya hoaks, manipulasi digital, dan kebiasaan percaya tanpa berpikir kritis.
Dengan demikian, krisis kebenaran di tengah dunia digital menjadi tantangan besar bagi manusia modern. Teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi manusia tetap membutuhkan akal sehat, kejujuran, dan keberanian untuk mencari kebenaran.
Sebab tanpa kemampuan membedakan fakta dan kebohongan, manusia akan mudah tersesat di tengah dunia digital yang penuh manipulasi dan informasi palsu. (*)
Ikuti berita dan opini POS-KUPANHG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Irenius-Castanheira-Bere-01.jpg)