Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence dan Cognitive Debt

BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, naik dari 69,21 persen pada 2023. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Konsep ini dapat dijelaskan lebih dalam melalui teori cognitive load John Sweller. 

Inti teori ini adalah bahwa belajar yang bermakna menuntut kerja aktif memori kerja untuk mengolah informasi dan membangun skema pengetahuan. 

AI memang dapat mengurangi beban kognitif yang tidak perlu, tetapi jika penggunaannya berlebihan, ia juga dapat mengurangi germane load, yakni upaya mental yang justru dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang mendalam. 

Dengan kata lain, teknologi dapat meringankan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama juga dapat memangkas latihan berpikir yang membentuk kualitas intelektual. 

Dalam kajian psikologi pendidikan mutakhir, risiko ini juga dibaca melalui konsep cognitive offloading. 

Artikel di Frontiers in Psychology pada 2025 menjelaskan bahwa cognitive offloading adalah pemindahan tugas kognitif ke alat bantu eksternal. 

Dalam konteks AI, ini berarti siswa tidak lagi mengingat, menimbang, atau memecahkan persoalan secara penuh karena sebagian kerja akal telah diserahkan kepada mesin. Secara praktis, itu membuat pekerjaan terasa lebih mudah. 

Secara jangka panjang, itu dapat mengurangi kesempatan untuk melatih daya ingat aktif, pemecahan masalah, dan berpikir tingkat tinggi. 

Ketika sekolah menukar proses dengan hasil

Masalahnya menjadi lebih serius ketika AI masuk ke sekolah yang sejak awal memang terlalu menghargai hasil akhir. 

Selama sistem evaluasi lebih memuja jawaban benar, ringkasan cepat, dan tugas yang rapi, siswa akan selalu mencari cara tercepat untuk sampai ke sana. 

Dalam ekosistem seperti itu, AI tidak lagi hadir sebagai alat bantu pembelajaran, melainkan sebagai jalan pintas yang sangat efisien.
Studi Microsoft Research pada 2025 memberi bukti yang tidak ringan. 

Survei terhadap 319 pekerja pengetahuan dengan 936 contoh penggunaan GenAI menemukan bahwa kepercayaan yang lebih tinggi pada AI berkaitan dengan berkurangnya pengerahan berpikir kritis. 

Temuan ini tidak berarti AI harus ditolak. Justru sebaliknya, ia menunjukkan bahwa manfaat AI selalu bergantung pada desain penggunaannya. 

Ketika manusia terlalu percaya pada mesin, upaya mentalnya sendiri cenderung menyusut. 

OECD bergerak ke arah kesimpulan yang serupa. Dalam Education Spotlight tahun 2025, OECD menegaskan bahwa kemajuan AI memaksa pembuat kebijakan meninjau ulang pertanyaan paling dasar dalam kurikulum. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved