Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural

Selama beberapa dekade pasca-reformasi, diskursus kebangsaan kita terjebak pada euforia "toleransi". 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI REDEGUNDIS KESA
Sr. Redegundis Kesa, FAdM 

Anak-anak harus dibiasakan untuk bertanya "mengapa kamu berpikir demikian?" alih-alih langsung menyimpulkan "kamu salah!"

Sekolah harus menjadi mikrokosmos masyarakat masa depan, di mana anak-anak belajar bahwa persatuan tidak berarti penyeragaman, melainkan harmoni dalam keragaman yang dinamis.

Di tingkat masyarakat sipil, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, dan serikat pekerja memiliki tanggung jawab besar untuk memutus rantai segregasi. 

Sering kali, organisasi-organisasi ini justru menjadi benteng homogenitas yang memperkuat batas-batas kelompok. 

Mereka perlu membuka diri menjadi agen interkulturalisme dengan mengadakan program lintas iman, pertukaran pemuda antardaerah, dan forum dialog rutin yang membahas isu-isu bersama seperti kemiskinan, lingkungan, atau keadilan sosial. 

Fokus pada isu bersama (common ground) adalah kunci untuk melunakkan kekakuan identitas primordial. 

Ketika orang Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu duduk bersama membicarakan banjir atau sampah, sekat-sekat teologis dan etnis perlahan runtuh, digantikan oleh solidaritas kemanusiaan yang kokoh.

Tentu saja, jalan menuju masyarakat interkultural bukanlah jalan yang mudah untuk ditempuh. Akan ada gesekan, kesalahpahaman, dan tantangan berat. 

Struktur kekuasaan yang sering kali memanfaatkan identitas untuk kepentingan politik praktis akan berupaya keras mempertahankan status quo segregasi. 

Namun, menyerah pada ketakutan bukanlah pilihan. Sejarah membuktikan bahwa perdamaian sejati tidak pernah lahir dari sikap diam yang toleran, melainkan dari dialog aktif yang penuh risiko dan cinta.

Menenun Kembali Kebersamaan: Sebuah Panggilan Untuk Bertindak Nyata

Oleh karena itu, mari kita ubah cara pandang kita. Jangan hanya berhenti pada label "negara toleran" jika di dalamnya masih tersimpan benih-benih ketidakpercayaan. 

Mari kita berkomitmen untuk menjadi masyarakat interkultural. Dimulai dari langkah-langkah kecil: mengajak bicara tetangga yang berbeda keyakinan, mengikuti kajian lintas iman, menolak menyebar hoaks yang memecah belah, hingga mendorong kebijakan publik yang inklusif di tingkat lokal.

Transisi dari pengakuan pasif menuju penguatan aktif ini adalah tugas sejarah generasi kita. 

Jika kita gagal, kita berisiko tenggelam dalam lautan fragmentasi di mana setiap kelompok menjadi pulau yang terisolasi dan bermusuhan. 

Namun, jika kita berhasil, kita akan mewujudkan mimpi Indonesia yang sesungguhnya: bukan sekadar kumpulan suku yang berdampingan, melainkan satu tubuh kebangsaan yang hidup, bernapas, dan tumbuh subur berkat kekayaan perbedaan yang saling mengayakan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved