Opini
Opini: Dari Via Crucis Menuju Via Lucis
Salib akhirnya menjadi simbol yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian dalam kesengsaraan kita.
Oleh: Darvis Tarung
Tinggal di Scolastikat Hati Maria Claretian Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Perjalanan batin kita sebagai umat beriman sering kali bermula dan seolah-olah berakhir di bawah kaki salib, sebuah tempat di mana beban hidup terasa begitu nyata dan luka-luka kita seolah menemukan bentuknya yang paling jelas.
Kita semua umat Kristiani sangat akrab dengan apa yang disebut sebagai Via Crucis atau Jalan Salib, sebuah praktik doa yang membawa kita merenungkan setiap langkah sengsara Yesus dari saat Ia dijatuhi hukuman hingga wafat-Nya yang memilukan di bukit Golgota.
Praktik ini telah mendarah daging dalam hidup kita, terutama selama masa Prapaskah, di mana gereja-gereja dipenuhi oleh umat yang dengan khusyuk merenungkan setiap perhentian, bahkan air mata sering kali menetes saat kita mengenangkan penderitaan Kristus.
Baca juga: Opini: Prapaskah, Kemanusiaan dan Ekologi Integral
Namun, jika kita mau melihat lebih dalam ke dalam batin, sering kali muncul sebuah ketimpangan yang cukup nyata dalam cara kita menjalankan hidup iman sehari-hari.
Kita tampaknya jauh lebih mudah untuk merenungkan penderitaan daripada merayakan kemenangan, dan kita merasa salib jauh lebih akrab di pundak kita daripada cahaya fajar Paskah yang seharusnya menerangi setiap sudut gelap kehidupan kita.
Padahal, kebenarannya sangatlah mendasar: tanpa Via Crucis, tidak akan pernah ada Via Lucis, dan tanpa Via Lucis, maka Via Crucis akan kehilangan seluruh makna terdalamnya.
Ketimpangan ini sebenarnya sangat bisa dipahami karena penderitaan adalah bahasa yang paling universal dan dekat dengan pengalaman setiap manusia.
Tidak ada satu pun dari kita yang tidak pernah merasakan pedihnya kehilangan, pahitnya sebuah kegagalan, atau beratnya cobaan batin yang seolah menghimpit jiwa.
Maka, ketika kita merenungkan langkah-langkah Yesus dalam Via Crucis, kita merasa seolah-olah Tuhan sedang berdiri tepat di samping kita, ikut merasakan beban yang sama dengan yang kita pikul.
Salib akhirnya menjadi simbol yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian dalam kesengsaraan kita.
Namun, bahaya besar muncul ketika iman kita berhenti hanya sampai di hari Sabtu Suci yang senyap, seolah-olah kubur yang tertutup adalah akhir dari segala-galanya.
Jika kita tidak berani melangkah lebih jauh menuju terang kebangkitan yang ditawarkan dalam Via Lucis ( Jalan Terang), maka yang tersisa bagi kita hanyalah keputusasaan yang sunyi dan tanpa harapan.
Perjalanan yang utuh haruslah berani berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari kematian menuju kehidupan, dan dari rasa putus asa menuju harapan yang baru.
Via Lucis atau Jalan Terang sebenarnya adalah sebuah sarana bagi kita untuk belajar kembali bagaimana melihat hidup dengan mata yang penuh harapan.
Praktik ini mengajak kita untuk merenungkan berbagai penampakan Yesus setelah Ia bangkit dari kematian hingga saat Ia naik ke surga dan mencurahkan Roh Kudus.
Jika dalam Via Crucis kita belajar bagaimana Kristus mati karena cinta-Nya yang luar biasa kepada kita, maka dalam Via Lucis kita diajak untuk merayakan bagaimana Ia hidup kembali untuk memberi kita kekuatan baru.
Pesan utamanya sangatlah melegakan bagi jiwa yang lelah: penderitaan dan maut bukanlah kata terakhir dalam narasi hidup kita.
Melalui peristiwa kebangkitan, Tuhan memberikan jawaban yang paling meyakinkan atas segala jeritan hati manusia, yaitu bahwa kegelapan telah dikalahkan secara telak oleh kasih yang menghidupkan.
Perjalanan ini menjadi semacam sekolah kehidupan yang sangat baik karena ia memindahkan fokus kita dari rasa sakit menuju sukacita yang merupakan nilai utama dari kemenangan Paskah.
Menghayati perjalanan dari salib menuju terang berarti kita berani percaya bahwa setiap beban yang kita pikul hari ini memiliki potensi untuk membuahkan sesuatu yang sangat mulia di masa depan.
Kita sering kali merasa terjebak dalam kegelapan karena masalah ekonomi yang menghimpit, konflik dalam keluarga yang tak kunjung selesai, atau penyakit yang merenggut kegembiraan kita.
Dalam situasi gelap seperti itu, godaan terbesar kita adalah percaya bahwa kegelapan itu bersifat mutlak dan abadi.
Namun, semangat Via Lucis mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang berani membawa cahaya kecil di tengah kegelapan tersebut.
Kita dipanggil untuk memiliki sikap batin yang tetap mampu melihat kemungkinan-kemungkinan baru di tengah keterbatasan yang ada.
Sama seperti fajar yang menyingsing di ufuk timur, Via Lucis menunjukkan bahwa kekosongan seperti kubur yang kosong bisa menjadi sesuatu yang sangat indah karena di sanalah kehidupan baru dimulai.
Kita diutus untuk memberi tahu dunia bahwa fajar telah tiba dan ada harapan di balik setiap air mata yang jatuh.
Hubungan antara salib dan terang ini dapat diringkas dalam ungkapan "melalui salib menuju cahaya".
Keduanya adalah dua sisi dari satu keping mata uang yang sama dalam perjalanan hidup kita sebagai manusia.
Jika kita hanya merayakan cahaya tanpa mau mengakui adanya pengorbanan di salib, maka optimisme kita akan menjadi kosong dan tidak memiliki pijakan yang kuat pada realitas dunia yang penuh luka.
Sebaliknya, jika kita hanya meratapi salib tanpa mau melihat cahaya kemenangan, maka kita akan menjadi orang-orang yang paling menyedihkan karena hidup kita seolah tidak memiliki tujuan akhir yang jelas.
Kebangkitan Kristus sebenarnya memberikan makna pada setiap tetes keringat dan darah yang kita keluarkan; Ia membuat beban yang terasa sangat berat menjadi sedikit lebih ringan karena tujuannya sekarang sudah terlihat dengan sangat terang.
Kebangkitan bukanlah sekadar penutup cerita yang manis, melainkan pusat yang menggerakkan seluruh hidup kita agar kita berani bangkit kembali setelah berkali-kali jatuh.
Sangat penting bagi kita, sebagai komunitas kaum beriman, untuk menghidupkan kembali semangat kemenangan ini agar wajah kebersamaan kita tidak hanya diwarnai oleh duka dan penyesalan, tetapi juga oleh sukacita yang membawa perubahan nyata.
Kita harus menyadari bahwa di balik setiap hari Jumat Agung yang kelam dan menyakitkan, selalu tersedia hari Minggu Paskah yang penuh dengan kejayaan.
Di ujung setiap jalan penderitaan yang penuh luka dan penghinaan, selalu ada sinar yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh siapa pun.
Perjalanan iman kita adalah sebuah kesatuan yang sangat indah, mulai dari saat penderitaan yang hebat, melalui Via Crucis yang penuh perjuangan, hingga akhirnya bermuara pada cahaya kemenangan dalam Via Lucis yang memerdekakan jiwa kita.
Kita diajak untuk melihat setiap tantangan hidup bukan sebagai tanda kekalahan, melainkan sebagai bagian dari proses menuju kemuliaan yang abadi.
Dalam praktik sehari-hari, menghidupi jalan terang ini berarti kita belajar mengenali kehadiran Tuhan dalam momen-momen sederhana, seperti dalam "pemecahan roti" atau saat berbincang dengan sahabat di tengah jalan yang melelahkan.
Tuhan yang sudah bangkit itu tidak meninggalkan kita; Ia justru berjalan di samping kita, membuka pikiran kita akan makna dari segala peristiwa yang kita alami.
Kita perlu menyadari bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, setiap pengampunan yang kita berikan, dan setiap keberanian untuk bangkit kembali adalah bentuk nyata dari Via Lucis yang sedang kita jalani.
Kita dipanggil untuk tidak lagi mencari kehidupan di antara orang mati atau terus-menerus meratapi apa yang telah hilang, melainkan berani merayakan kehadiran Tuhan yang memberikan nafas kehidupan yang baru.
Maka dari itu, marilah kita mulai melangkah hari demi hari bukan hanya sebagai orang yang ikut memikul beban di jalan menuju penderitaan, tetapi juga sebagai saksi-saksi hidup yang melihat kubur yang sudah kosong.
Kita dipanggil untuk membawa sinar pengharapan ini ke dalam setiap sudut gelap dunia yang saat ini sedang sangat merindukan pemulihan, perdamaian, dan kasih sayang.
Mari kita jalani hidup ini dengan keyakinan penuh bahwa penderitaan memang bagian dari rencana yang lebih besar, namun ia bukanlah akhir dari segalanya.
Kebangkitan adalah "Ya" agung dari Tuhan atas seluruh perjuangan manusia di bumi ini.
Akhirnya, biarlah setiap doa dan setiap langkah kaki kita menjadi bukti yang nyata bagi semua orang bahwa kita adalah umat yang tidak hanya tahu cara berduka di depan salib “ Via Crucis”, tetapi juga umat yang tahu cara bersukacita karena telah menemukan Terang Sejati dalam “ Via Lucis”.
Hidup kita memang akan tetap menghadapi berbagai tantangan, namun kini kita menjalaninya dengan kepala tegak dan hati yang tenang.
Kita tahu bahwa cahaya abadi sudah menanti kita di ujung jalan, dan Tuhan sendiri yang akan menuntun kita melampaui kegelapan menuju kemuliaan-Nya yang memerdekakan.
Mari kita jadikan hidup kita sebagai saluran cahaya bagi sesama, agar dunia melihat bahwa di dalam setiap salib yang kita panggul, selalu ada benih kebangkitan yang siap bersemi. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
| Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata |
|
|---|
| Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas |
|
|---|
| Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Darvis-Tarung1.jpg)