Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Menemukan Kedalaman Iman melalui Pengampunan

Pengampunan yang sejati tidak pernah datang melalui ancaman, kekerasan, atau paksaan rasa takut. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Padahal, pengampunan yang sejati tidak pernah datang melalui ancaman, kekerasan, atau paksaan rasa takut. 

Kasih tidak pernah mengancam siapa pun; sebaliknya, pengampunan adalah sebuah perjumpaan personal di mana masa lalu yang kelam dikuburkan dan jalan menuju masa depan yang penuh harapan dibuka lebar. 

Dalam pengalaman rohani yang mendalam, mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah tanda keberanian moral yang paling tinggi karena merupakan bentuk kejujuran radikal terhadap diri sendiri di hadapan kasih yang tanpa batas.

Ketika seseorang berani menyerahkan kegagalannya, ia sebenarnya sedang membiarkan dirinya "dikenakan pakaian baru," sebuah pakaian pengampunan yang menutupi luka-luka dan memungkinkannya untuk hidup di saat ini dengan intensitas penuh tanpa terbebani oleh bayang-bayang masa lalu. 

Pengampunan ini memiliki kekuatan untuk membuang apa yang telah melukai hati manusia sejak masa kecil atau remaja, membawa penyembuhan yang meresap hingga ke kedalaman jiwa yang paling sunyi. 

Namun, proses penemuan kedalaman iman melalui pengampunan ini tidak pernah berhenti pada kedamaian individu semata, karena dosa pada hakikatnya merusak relasi tidak hanya dengan Yang Ilahi tetapi juga merusak tatanan hubungan dengan keluarga dan masyarakat. 

Oleh karena itu, pertobatan yang sejati selalu membuahkan rekonsiliasi dengan sesama, di mana manusia yang telah diampuni dipanggil untuk menjadi orang-orang yang telah berdamai dengan kenyataan hidupnya.

Kita dipanggil untuk hidup sebagai sebuah "parabel komunitas," di mana pengampunan menjadi arus air yang mampu menembus situasi-situasi yang sekeras batu di tengah masyarakat yang sering kali diwarnai konflik dan sikap saling menyalahkan. 

Kredibilitas iman dalam dunia yang skeptis ini hanya akan lahir kembali ketika komunitas orang beriman mampu hidup dalam transparansi kasih dan kemurahan hati, menjadi tempat yang menyambut penderitaan manusia tanpa sikap menghakimi. 

Kasih sayang yang tanpa batas dan kerendahan hati dalam meminta maaf adalah cara terbaik untuk mengajarkan iman kepada generasi muda yang merindukan kejujuran kasih daripada sekadar aturan moral yang kaku. 

Perdamaian sejati di dunia ini hanya dapat dimulai ketika manusia berani memulai proses perdamaian di dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, dengan memiliki hati yang telah berdamai melalui pengalaman pengampunan yang membebaskan.

Dalam perjalanan menuju kedalaman iman ini, kita tidak jarang dihadapkan pada penderitaan dan kejahatan yang membuat kita meragukan kasih, namun sangat penting untuk dipahami bahwa penderitaan tidak pernah datang dari Tuhan. 

Di tengah kekerasan fisik maupun moral, satu-satunya "kekuatan" Ilahi adalah kasih yang tidak bersenjata; Dia tidak pernah menjadi saksi yang acuh tak acuh, melainkan menderita bersama para korban yang tidak bersalah. 

Iman yang mendalam sering kali harus melewati masa-masa keraguan atau apa yang sering disebut sebagai "malam jiwa," di mana kehadiran Tuhan seolah menghilang. 

Namun, keraguan dan kepercayaan sebenarnya dapat berdampingan seperti bayangan dan cahaya, dan iman bukanlah hasil dari usaha keras manusia yang melelahkan, melainkan sebuah anugerah atau hadiah yang memungkinkan kita untuk melampaui keragu-raguan menuju kepercayaan yang rendah hati.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved