Opini
Opini: Menemukan Kedalaman Iman melalui Pengampunan
Pengampunan yang sejati tidak pernah datang melalui ancaman, kekerasan, atau paksaan rasa takut.
Oleh: Darvis Tarung
Tinggal di Scolastkat Hati Maria Claretian Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dunia modern yang kita tinggali saat ini sering kali dipuja karena kemajuan teknologinya yang pesat, kebebasan berpikirnya yang luas, serta perubahan sosialnya yang dinamis.
Namun, di balik kemegahan tersebut manusia sebenarnya sedang dihadapkan pada tantangan moral yang sangat serius.
Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah berkembangnya budaya individualisme, sebuah kecenderungan yang secara perlahan menempatkan kepentingan diri di atas segalanya dan mengaburkan tanggung jawab moral kita terhadap sesama.
Dalam iklim seperti ini, pengakuan akan kesalahan pribadi sering kali dianggap sebagai beban yang mengganggu kenyamanan hidup, sehingga rasa bersalah pun dihindari demi menjaga ketenangan batin yang semu.
Baca juga: Opini: Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Seni Menaklukkan Diri
Akibatnya, kesadaran akan dosa perlahan-lahan memudar, dan manusia mulai kehilangan keberanian untuk jujur terhadap dirinya sendiri serta kehilangan kemampuan untuk melihat betapa ia sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran yang melampaui dirinya.
Namun, jika kita mau berhenti sejenak dan menyelami kedalaman batin, kita akan menemukan bahwa di balik kemandirian yang tampak di luar, jiwa manusia tetap menyimpan kerinduan yang tak terpadamkan akan sebuah kehadiran dan keinginan diam-diam untuk sebuah persekutuan (communio) atau perjumpaan yang mendalam.
Persoalan utama yang muncul kemudian adalah bagaimana pesan iman dapat tetap relevan dan meyakinkan di tengah masyarakat yang skeptis dan individualistis ini.
Perlu dipahami bahwa sebuah pesan iman tidak akan pernah menjadi kredibel hanya karena ia menyajikan rangkaian misteri teologis yang rumit, melainkan karena ia mampu mewujud dalam kasih yang nyata.
Kasih adalah satu-satunya alasan mengapa sebuah pesan ilahi layak untuk dipercayai, karena kasih merupakan perwujudan tertinggi dari sebuah kemuliaan yang tidak dapat diukur oleh standar logika manusia biasa.
Dalam konteks inilah pengampunan muncul bukan sekadar sebagai konsep abstrak atau tuntutan moral yang memberatkan, melainkan sebagai peristiwa di mana sesuatu yang paling mulia merendahkan diri hingga ke titik terendah eksistensi manusia bahkan sampai ke kegelapan maut demi mengangkat martabat kita kembali.
Tanpa pengampunan, seluruh struktur iman kita akan kehilangan logikanya. Pengampunan adalah manifestasi dari sebuah kehadiran yang melampaui segala pemahaman dan menjadi fondasi utama bagi kepercayaan diri manusia.
Kenyataan mendasar yang perlu kita pegang adalah bahwa sumber dari segala kepercayaan kita terletak pada hakikat bahwa kasih dan pengampunan adalah satu-satunya jati diri Ilahi yang berdiam di pusat jiwa setiap pribadi.
Banyak individu dalam masyarakat modern membawa beban batin yang berat, mulai dari rasa penyesalan masa lalu hingga luka mendalam dalam relasi antarmanusia.
Namun, sering kali rasa malu atau ketakutan akan penghakiman menjadi penghalang utama bagi mereka untuk mengakui kesalahannya.
| Opini: Fundamental Ekonomi untuk Kestabilan, Ketangguhan dan Kemandirian Guna Mencapai Kesejahteraan |
|
|---|
| Opini: Ribut-ribut Konflik Norma di Boti |
|
|---|
| Opini: NTT Hari Ini- Teras Mediator Antar Budaya |
|
|---|
| Opini: Dinamika Kesuburan Tanah |
|
|---|
| Opini: Selamat Datang Mas Gibran- Refleksi Paskah dari Gerbang Selatan Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Darvis-Tarung1.jpg)